MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 30. BIARKAN AKU BERBAKTI


__ADS_3

Rupanya kesehatan Kakek Surya sudah menurun sejak beberapa tahun lalu. Ia sengaja menyembunyikan sakitnya karena takut membebani Asgar.


Kakek Surya sendiri tahu jika Asgar tidak terlalu bahagia dengan pernikahannya dengan Aurora. Di tambah lagi penglihatan Asgar belum juga kembali. Kakek Surya dijebak oleh teman kerjanya dan diberikan sebuah racun yang membuat kedua kakinya lumpuh.


"Asgar, kakek minta maaf karena tidak pernah jujur pada kamu tentang semua hal yang ...."


Asgar meminta maaf karena selama ini ia mengira jika kehidupan kakeknya baik-baik saja.


Asgar tidak menanyakan kenapa kakeknya tidak memberikan kabar tentang hal ini kepadanya.


Tanpa ia sadari, Asgar mengetahui kabar tentang kakeknya sejak ia secara tidak sengaja bertemu dengan salah satu asisten yang sedang membeli obat di sebuah apotek.


"Sudahlah, oh ya syukurlah penglihatanmu sudah kembali."

__ADS_1


Asgar mengusap air matanya, "Iya, alhamdulilah kedua mataku sudah pulih, terima kasih, Kek."


"Sama-sama."


Setelah melihat kesembuhan kedua mata Asgar, Kakek Surya merasa senang. Setidaknya ia akan sembuh jika Asgar berhasil mau mencoba. Di saat pertemuan itu rupanya Kakek Surya terbatuk.


"Asgar, mungkin hidup kakek tidak akan lama lagi, jadi lebih baik kau kembali."


Asgar menggoyangkan jari telunjuknya, "No, selama bisa bertahan dan mengupayakan kesembuhan untuk kakek, akan diusahakan yang terbaik."


Pembelajaran hidup yang diberikan kakek Surya kepada Asgar telah membuat ia bisa membantu orang-orang di sekitarnya tanpa meminta imbalan sama seperti yang diajarkan kepadanya dulu. Dari cerita Asgar pula ia mengetahui jika Aurora sudah mulai mencintai cucunya. m


Meskipun Ibu mertuanya masih menentang hubungan antara Asgar dan putrinya. Ia pasti menganggap Asgar adalah menantu yang tidak berguna. Kini Kakek Asgar memandang hamparan taman yang berada di hadapannya dengan sejuta pengharapan.

__ADS_1


"Andai kalian masih hidup, pasti kalian akan sangat bangga terhadap pencapaian putra kalian."


Kakek Surya tampak mengusap sudut matanya yang memerah agar tidak mengeluarkan air matanya. Asgar bisa mengetahui jika kakeknya merasa sedih maka dari itu ia pun mendekati sang kakek.


"Apakah Kakek sudah makan?" tanya Asgar mengalihkan dunia.


Pertanyaan dari Asgar membuat kakek Surya menoleh.


"Belum, tapi makan siangnya sudah disiapkan oleh Bik Sumi di belakang. Kalau kamu lapar coba kamu dorong kursi roda kakek menuju ke ruang makan yang berada di belakang. Letaknya sangat dekat dengan dapur kotor, tetapi ada taman juga sangat bersih di sana."


Asgar tersenyum senang, lalu mendorong kursi roda milik kakeknya untuk menuju ke dapur. Mereka akan melakukan makan siang di sana secara bersama-sama sambil membahas langkah apa yang harus dilakukan oleh Kakek Asgar agar mempermudah penyembuhan akan dilakukan oleh Asgar.


Meskipun sebenarnya Asgar sudah tahu apa saja yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka sang kakek. Namun, ia tidak mau merasa sok pintar karena mengetahui jika kakeknya jauh lebih unggul di dalam dunia pengobatan.

__ADS_1


Hanya saja tidak ada seorang dokter yang mampu menyembuhkan penyakitnya sendiri dan bantuan dari orang lain. Maka dari itu Asgar memposisikan dirinya sama seperti ketika ia akan mengobati orang lain.


"Semoga langkah selanjutnya akan lebih mudah. Aamiin," doa Asgar di dalam hati.


__ADS_2