MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 24. TERNYATA


__ADS_3

"Tunggu, mau kau apakan ayahku?" tanya seorang wanita cantik yang baru saja turun dari mobil.


Kaki jenjang, kulit putih mulus tanpa cela. Memakai rok mini dan pakaian minim bisa membuat kaum Adam tidak berkedip ketika memandangnya.


Apalagi langkah kakinya begitu teratur. Bak seperti model yang berjalan di sebuah cat walk, tetapi Asgar sama sekali tidak melirik wanita tersebut. Ia tetap saja fokus pada peralatan medis di depannya saat ini.


"Tentu saja untuk menyelamatkan nyawanya, memangnya apa yang kau lihat?" ucap Asgar berterus-terang.


Beruntung saat wanita cantik itu datang, Asgar sudah selesai mengobati pengemis tersebut. Bahkan kini ia sudah hampir siuman. Komplikasi yang sempat membuat mengancam nyawanya sudah berhasil hilang karena beberapa titik nadi yang sangat fatal sudah diatasi oleh Asgar.


Wanita cantik itu membuka kacamata miliknya lalu berjalan cepat ke arah Asgar. Terpesona akan ketampanan yang dimiliki oleh Asgar sempat membuat hati Wilona bergetar.


Sementara itu Asgar hanya melihatnya sekilas. Lalu kembali menatap sang pengemis itu.


"Masalah ayah Anda sudah selesai, bisakah kita memindahkan beliau ke tempat yang lebih nyaman?"


"Bi-bisa Tuan," ucap wanita itu tergagap.


Entah kenapa rasa sombong dan kehawatiran yang sempat menderanya justru menghilang dalam sekejap mata. Semua hanya karena tatapan Asgar.


"Bagaimana kalau dibawa masuk ke dalam mobil saya saja. Itu mobilnya masih terparkir di depan sana!"


"Baiklah, demi keamanan dan keselamatan kakek, kita bawa ke mobil Nona ini saja."


Melihat Asgar sedikit kesusahan, ada beberapa warga membantunya untuk mengangkat tubuh kakek tua tadi ke dalam mobil milik Wilona.


Saat selesai meletakkan tubuh kakek di jok belakang, kini Asgar hendak keluar dan rupanya tangan Wilona justru menahannya.


"Karena Tuan sudah menyembuhkan ayah, maka sebaiknya Anda turut serta ke rumah. Agar kami bisa mengucap terima kasih pada Anda secara langsung."

__ADS_1


Asgar tampak menimang ucapan dari wanita itu. Hingga saat Asgar mulai pergi, Wilona segera menyerahkan kartu namanya. Tentu saja Asgar menerima dan membacanya segera.


"Oh, Nona Wilona ... baiklah kalau begitu. Akan tetapi biarkan saya duduk di belakang sambil menopang tubuh kakek."


"Silakan saja, Tuan ...." Wilona memotong ucapannya sendiri karena belum berkenalan dengan Asgar.


"Maaf, nama Anda siapa?"


"Asgar Valeriil Carim, sudah menikah dan saat ini sedang program anak," ucapnya lugas dan tegas.


Ucapan tegas dan kejujuran Asgar sempat membuat Wilona kecewa, akan tetapi ia berusaha tetap profesional agar tidak terlihat sedih. Sebelum menjawab pertanyaan dari Asgar Wilona juga menetralkan suaranya lebih dahulu.


"Oh, saya Wilona, putri kakek yang baru saja Anda tolong."


Wilona juga menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan dirinya dan keluarganya. Rupanya wanita cantik itu adalah anak perempuan pengemis tua tersebut.


Rupanya ia justru semakin sukses, sayang sejak ibunya meninggal sang ayah justru menjadi hilang ingatan dan lebih memilih untuk menjadi pengemis dibandingkan hidup layak bersamanya.


Asgar dengan telaten mendengarkan semua cerita dari Wilona. Hanya saja perbedaan di antara mereka berdua adalah status mereka berdua.


Tidak berselang lama kemudian rupanya mobil mereka sudah sampai di kediaman Wilona. Sesuai dengan ucapan dari Wilona rupanya rumah mereka memang mewah dan tidak terdapat unsur penipuan di dalamnya.


Saat kakek tua itu diturunkan dan dipindahkan ke dalam kamar, Asgar turut memastikan hal itu dilakukan dengan baik. Setelah itu pun, Asgar mulai meresepkan beberapa tanaman herbal untuk membuat stamina Kakek lebih terjaga lagi.


Sama halnya dengan kebiasaan Asgar setelah mengobati orang ia pasti akan meresepkan sebuah obat untuknya.


"Sekali lagi, terima kasih Tuan Asgar. Biarkan sopir saya yang mengantarkan Anda kembali."


"Terima kasih banyak, Nona. Kalau tidak ada yang penting lagi, saya pamit. Istri saya sedang menunggu di rumah."

__ADS_1


"Baik, terima kasih banyak Tuan Asgar."


"Oh, ya ini kartu nama saya, jika Tuan membutuhkan bantuan bisa hubungi nomor tersebut."


"Baik, sekali lagi terima kasih."


Setelah merasa tidak ada hal lain, Asgar buru-buru pulang. Ia tidak ingin membuat Aurora bersedih.


Saat di jalan pulang, secara tidak sengaja melihat adik iparnya baru saja keluar dari sebuah cafe. Matanya menyipit memperhatikan semua gerak-geriknya.


"Mau kemana lagi Adelle? Bukankah ini sudah waktunya pulang?"


Ingat jika saat ini ia sedang di antar oleh sopir dari Keluarga Wilona maka ia meminta pak sopir untuk menghentikan mobilnya sebentar.


"Maaf, Pak. Bisa berhenti sebentar?"


"Oh, baik Tuan."


Rupanya bukan untuk pulang tujuan dari Adelle, melainkan ia justru berpindah ke bar bersama teman-temannya.


"Kenapa feeling ini mengatakan jika Adelle akan mendapatkan sebuah masalah?"


"Sebaiknya ikuti saja langkah mereka secara diam-diam."


Asgar menoleh ke sopir dan mengatakan jika saat ini ia ingin berhenti di sana saja, karena baru saja melihat adik iparnya masuk ke sebuah bar. Beruntung sopir tidak terlalu kepo dan justru berterima kasih karena ia juga harus segera kembali karena anaknya sedang sakit.


Setelah itu, Asgar segera menyusul langkah kaki Adelle yang masuk ke dalam bar. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Adelle kembali hendak dilecehkan.


"Berhenti! Atau kalian akan masuk penjara!"

__ADS_1


__ADS_2