MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 29. BERTEMU KAKEK


__ADS_3

Upaya penyembuhan Wilona berlangsung baik. Semua hal yang berkaitan dengan penyembuhan dirinya terus dipantau secara langsung oleh Asgar.


"Sampai kapan kamu terus memperhatikan wanita itu? Cantik sih, tapi ...."


Aurora tampak menunda ucapannya dan lebih memperhatikan keadaan Wilona yang masih terbaring lemah di atas brankar. Akhir-akhir ini ia pun lebih sering menemani Asgar dalam mengobati pasien-pasiennya saat ini daripada mengurus bisnis keluarganya.


"Kamu cemburu?"


Aurora menoleh, "Siapa bilang?"


"Tentu saja mulut ini yang berbicara barusan," ucap Asgar sambil mengulas senyum manisnya dan menunjuk ke arah bibirnya sendiri.


Aurora yang malu karena ketahuan cemburu hanya bisa mencubit gemas perut suaminya itu.


"Argh, sakit Sayang."


"Bodo amat!"


Asgar tau jika istrinya cemburu, maka dari itu ia pun memegang bahu Aurora lalu membuatnya sesak nafas dalam beberapa detik. Bahkan Aurora sampai mengusap bibirnya.

__ADS_1


Bisa-bisanya Asgar mendorong tubuh Aurora hingga terpentok ke dinding, lalu mencuri satu ciuman darinya.


"Kalau kamu cemburu, semakin terlihat manis dan menggemaskan loh, serius."


Asgar rupanya sudah belajar membuat gombalan receh untuk istrinya. Aurora merona mendengar ucapan dari Asgar, lalu bergerak menjauh.


Rasa malunya begitu besar. Apalagi Asgar baru saja berbuat manis dengannya. Detak jantung Aurora semakin tidak sehat jika terus menerus berdekatan dengan Asgar, maka dari itu ia lebih memilih untuk pergi dan menghindar.


Setelah istrinya pergi, Asgar menatap Wilona dengan serius. Ada sebuah hal yang membuat ia tidak bisa berbuat banyak kali ini dan lebih memberi solusi untuk merawat Wilona pada dunia medis.


"Mungkin kehidupan yang lebih indah akan kamu dapatkan setelah ini, Aamiin."


Sudah lama Asgar tidak mengunjungi kediaman sang kakek sejak ia dinyatakan buta. Ia bahkan merasa dibuang dan diasingkan. Tujuannya kali ini adalah memastikan apakah kesehatan sang kakek sudah membaik atau justru semakin memburuk.


"Semoga saja kakek di sana baik-baik saja. Maafkan jika baru sempat mengunjungi dan mencarimu, Kek."


Asgar tampak menatap jendela bis yang ia naiki. Kali ini Asgar tidak berniat untuk mengajak Aurora karena takut ia justru terancam nyawanya karena mengajaknya turut serta.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup cepat dan efisien. Tidak kurang dari lima jam saat ini Asgar justru bertemu dengan salah satu asisten rumah tangga yang berjanji akan mempertemukan ia dengan kakeknya.

__ADS_1


"Memangnya kakek di kasih obat apa?" tanya Asgar khawatir.


"Mengetahui jika kakek sedang tidak suka dengan keributan, kenapa justru kalian mempertontonkan hal yang tidak baik?" tanya Asgar di dalam hati.


Benar, sesuai dengan tindakan dari asisten rumah tangga kakeknya kini Asgar sudah sampai di depan kamar Kakek Surya.


"Tuan ada di dalam, silakan masuk!"


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, kini Asgar tinggal melangkah masuk. Seorang kakek dengan rambutnya sudah penuh dengan uban, sudah duduk di atas kursi kebesarannya sambil matanya mengarah pada berkas di hadapannya.


"Kek ...." sapa Asgar pada Kakek Surya.


"As-asgar!"


"Iya, ini aku."


Kakek Surya tampak melepas kaca matanya dan menaruh pada tempatnya. Lalu beliau segera menghampiri cucu kesayangannya itu dan memeluknya erat.


"Kau datang kemari, Nak. Kakek berharap kamu tidak akan pergi lagi."

__ADS_1


"InsyAllah ya ."


__ADS_2