MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 8. CIUMAN PERTAMA


__ADS_3

Aiden mulai berulah kembali, ia menelpon lagi di depan calon ibu mertuanya dan mengatakan jika ia meminta dokter asing itu untuk kembali lagi ke Rumah Sakit.


“Nyonya Jiang jangan khawatir, kesehatan paman akan segera pulih jika dokter asing itu kembali ke sini. Tenanglah, biar ia yang merawat paman Jiang.”


“Iya, kami percaya padamu, cepat panggil dia kembali!”


Rupanya saat Aiden menelpon, dokter asing tersebut terkejut. Di saat yang sama dokter asing menyadari bahwa meskipun Tuan Jiang sudah bangun, itu bukan karena tangannya.


Jika dia kembali mengobatinya, itu artinya dia justru membunuh orang. Oleh karena itu ia pun menjelaskan pada Aiden.


“Apa katamu?”


Teriakan Aiden sempat membuat orang-orang di sana melihat ke arahnya lalu Aiden baru permisi.


Karena hal itu pula, akhirnya Aiden bersembunyi mencari tempat yang betul-betul sepi dan tidak ada orang sama sekali agar pembicaraan mereka tidak sampai bocor. Ia mempunyai sebuah cara licik yang akan dijalankan bersama dokter asing.


“Apapun alasannya, kamu harus datang. Maka uang senilai lima puluh juta akan masuk ke dalam rekeningmu.”


Padahal Asgar sebenarnya sudah melihat kondisi ayah mertuanya. Kesehatan beliau benar-benar sudah normal, akan tetapi Asgar mengatakan 3 tahap itu adalah untuk menakuti mereka berdua. Aiden terus berusaha untuk membujuk dokter asing itu untuk segera kembali.


“Kau hanya perlu berpura-pura mengobati penyakit, dan sudah bisa mendapati lima puluh juta? Apakah itu masih kurang?"


“Selain itu kau juga bisa mendapatkan reputasi terbaik karena berhasil menyembuhkan pendarahan otak.”


Dokter asing itu terus memikirkan penawaran yang diberikan oleh Aiden. Setelah sekian lama berpikir akhirnya ia berhasil dibujuk oleh Aiden.


“Baiklah, sepakat!”


Akhirnya dokter asing mau kembali ke Rumah Sakit. Aiden segera memberi tahu ibu mertua dan calon adik iparnya akan hal itu.


“Nyonya, Adelle, akhirnya dokter itu mau kembali lagi ke sini.”


“Syukurlah kalau begitu, aku yakin jika dokter itu pasti bisa menyembuhkan ayah,” ucap Adelle.


“Iya, ibu juga berpikiran seperti itu.”


Nyonya Jiang dan Adelle menjadi tersenyum ketika melihat hal itu. Mereka menaruh harapan besar terhadap dokter asing daripada kepada Asgar.

__ADS_1


Akhirnya Tuan Jiang terus dirawat di Rumah Sakit. Sementara itu Nyonya Jiang dan Adelle pulang. Sedangkan Aurora bersikeras merawat ayahnya di Rumah Sakit, dan secara alami Asgar juga menemaninya.


“Kalau kamu lelah sebaiknya kita cari hotel yang dekat dengan Rumah Sakit. Biarkan ayah beristirahat dengan maksimal di sini.”


“Baiklah.”


Hari semakin malam, akhirnya sepasang suami istri itu memilih untuk menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari Rumah Sakit. Saat di hotel, Asgar berinisiatif untuk tidur di lantai.


“Karena hanya ada satu tempat tidur, kamu istirahatlah di kasur.”


“Lalu kamu tidur di mana?”


“Kan bisa tidur di lantai,” ucap Asgar dengan santai.


Tentu saja Aurora merasa kasihan, tapi karena rasa malu, dia tidak berinisiatif untuk mengundang Asgar untuk tidur dengannya.


Setelah mematikan lampu, keduanya mengobrol. Aurora mengatakan bahwa suaminya terlihat sangat tampan ketika dia mengemudi hari ini.


“Kamu tahu, bagaimana kedua mata ini begitu terpesona akan keahlian kamu saat menyetir mobil tadi, keren banget, loh.”


“Oh, ya bagaimana caranya kamu bisa memikirkan hal seperti itu, di saat terdesak seperti itu?”


Saat percakapan mereka tiba-tiba terhenti di pertengahan, Aurora semakin sadar bahwa suaminya benar-benar sudah memulihkan penglihatannya.


“Itu artinya Asgar sudah benar-benar bisa melihat. Jika tidak, bagaimana dia bisa mengemudikan mobil seperti itu? Dengan gaya yang sangat keren, pula?”


Aurora terlihat sangat senang untuk hal itu, dan secara tidak sadar ia langsung turun dan memeluk Asgar dan memberi selamat kepadanya secara spontan.


“Tahukah kamu, hari ini kamu sangat keren, dan selamat karena kamu sudah bisa melihat,” ucap Aurora dengan mata berbinar.


Jarak antara Asgar dan Aurora sangatlah dekat. Ia bisa merasakan pendekatan dari istrinya tersebut, dan bersyukur karena bisa melihat kecantikan Aurora secara langsung. Karena hal itu pula Asgar terbengong seketika.


Asgar segera memeluk kembali Aurora dengan erat, dan memberi tahu padanya bahwa kebutaannya dijebak oleh orang lain, sementara orang dibelakang layar belum tertangkap, jadi dia tidak mau mengambil risiko dan ingin terus berpura-pura buta.


Aurora menyatakan pengertian dan persetujuannya, dan berkata bahwa dia akan membantu Asgar untuk menyembunyikannya bersama.


Asgar mengatakan bahwa jika demikian, keluarganya akan tetap menindas Aurora.

__ADS_1


“Bukankah dengan kamu lebih memilih untuk tetap memiliki suami buta, apakah kamu tidak takut dibenci dan ditindas oleh anggota keluargamu?”


Aurora mengusap wajah suaminya.


“Selama kamu berperilaku baik, tidak peduli apa yang kamu lakukan, kita akan tetap bersama.”


Tentu saja Asgar sangat tersentuh. Suasana yang semula nyaman kini mulai terasa menghangat. Seiring sentuhan keduanya yang mulai membangkitkan sebuah gelora di dalam dada.


Tanpa mereka sadari jarak keduanya semakin dekat dan akhirnya keduanya berciuman bersama. Mengeluarkan sebuah ungkapan cinta yang sudah tidak terbendung lagi.


Mencecap rasa yang selama ini tidak pernah mereka lakukan saat menjadi suami istri.


Ketika keduanya sedang jatuh cinta, Aurora baru menyadari ada yang salah dengan sikapnya. Saat sadar, Auora tiba-tiba berlari kembali ke tempat tidur dengan malu-malu, membungkus dirinya dengan erat.


Bahkan seujung kukunya pun tidak terlihat. Tentu saja Asgar bengong dan masih mengusap bibirnya yang masih basah.


“Astaga, apa yang barusan kami lakukan? Sungguh memalukan!” rutuk Aurora di dalam hati.


Meskipun begitu, tangannya terulur untuk mengusap bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Asgar.


“Manis, dan memabukkan!” ucapnya malu-malu.


Saking malunya bukan hanya hidungnya saja yang merah melainkan telinganya juga ikut memerah.


Selama menikah keduanya memang tidak pernah melakukan hubungan intim. Bahkan sering kali Asgar atau Aurora terlihat seperti orang asing meskipun status mereka adalah suami istri.


Jadi wajar saja ketika mereka baru saja berciuman rasanya sudah membuat keduanya malu-malu ketika harus mengakui perasaannya tersebut.


Melihat istrinya yang bergegas pergi ke tempat tidur ada sedikit rasa kecewa yang menyelimuti hati Asgar. Akan tetapi dia juga menghormati sikap istrinya itu dan tidak lagi berhubungan intim dengan Aurora dalam beberapa waktu.


“Setidaknya ia sudah tidak terlalu dingin ketika bersama,” ucap Asgar kemudian menyusul istrinya untuk tidur.


Keesokan paginya, ketika Asgar bangun, Aurora masih tertidur. Dia berjalan keluar dari hotel tempat ia menginap dengan ringan, berpikir bahwa sejak dia sembuh, dia harus mengandalkan tangannya sendiri untuk menghasilkan uang.


Dia memikir kalau setidaknya istrinya tidak boleh dianiaya karena ketidakmampuannya, dan setelah memikirkannya, dia berjalan ke Rumah Sakit. Di sebelahnya ada seorang wanita dengan wajah sedih, memegang laporan tes paternitas di tangannya, yang menunjukkan bahwa kedua orang yang diuji bukanlah hubungan ayah dan anak.


Asgar penasaran dan sedikit membaca hasil tes tersebut. Tentu saja Asgar menjadi kepo pada hal itu dan bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi padanya.

__ADS_1


“Apakah wanita ini telah berselingkuh dan melahirkan anak orang lain, dan ditemukan oleh suaminya?” tanyanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


__ADS_2