
Aurora tampak kesal karena suaminya tidak kunjung kembali. Ia terlihat mondar mandir di sekeliling balkon.
Sesekali mengintip ke arah luar untuk memastikan apakah Asgar sudah kembali atau belum. Rupanya hasilnya sama saja, tidak ada tanda-tanda suaminya telah kembali.
Ia bahkan sudah membersihkan serpihan kaca yang tadi sempat mengotori satu sisi kamarnya. Pandangannya menerawang jauh ke depan seolah membaca apa yang sedang terjadi saat ini.
"Semoga firasatku ini salah, Ya Tuhan," doa Aurora dalam hati.
Saat Aurora menangkupkan kedua tangannya rupanya terdengar dering telepon. Tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi, dengan segera ia mengangkat telepon itu.
"Maaf dengan Kediaman Nyonya Jiang?" tanya seseorang di balik telepon.
"Benar, maaf ini darimana dan ada apa ya?"
"Ini dari pihak kepolisian. Saat ini suami dari Ibu Aurora mengalami kecelakaan di Jalan A. Karena luka tusuknya cukup serius, kini ia sedang dirawat intensif di Rumah Sakit Jiatsu."
"A-apa? Bapak jangan bercanda!"
Meskipun Aurora merasa itu tidak mungkin tetapi firasatnya mengatakan jika suaminya memang sedang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi sebuah pertanda saat foto pernikahan Asgar dan Aurora jatuh.
Bagaikan tersambar petir kini tubuh Aurora luruh ke lantai. Tangisnya pecah kala itu juga, apalagi setelah mendengar penjelasan dari pihak kepolisian yang mengatakan jika Asgar terluka parah.
Tanpa membuang waktu Aurora bergegas menuju ke Rumah Sakit. Pikirannya berkecamuk dan ia tidak bisa berkata apapun. Ia tidak menyangka jika suaminya justru terluka karena hal sepele.
Air matanya terus mengalir deras hingga membuat siapa saja yang melihatnya ikut bersedih. Ia menyesali sikapnya karena permintaan kecilnya justru membuat suaminya terluka.
Hanya menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit, kini Aurora sudah berada di Rumah Sakit Jiatsu. Seorang suster mengantarkan Aurora untuk segera sampai di ruangan tempat Asgar dirawat.
Kini dipandanginya tubuh suaminya yang terbaring lemas di atas brankar. Perutnya dililit perban. Salah satu tangannya terpasang alat infus. Begitu sakit rasanya menyaksikan seseorang yang biasa menemani kita setiap saat justru terbaring lemas karena sakit.
Betapa terkejutnya Aurora saat menyadari jika luka di perut suaminya harus melalui beberapa kali jahitan, bahkan karena itu pula sampai saat ini masih belum juga siuman.
__ADS_1
"Andai saja kamu tidak menawari makanan manis tadi malam, sudah pasti kamu tidak akan terluka seperti ini."
Aurora tampak menyesali sikapnya yang mengijinkan Asgar semalam pergi ke luar hanya untuk membeli kue mochi kesukaannya.
Pandangan Aurora kini berganti ke arah luka di perut Asgar.
Betapa ia sangat bersedih, ketika melihat kedua mata indah Asgar yang masih tertutup rapat. Padahal biasanya dari kedua bola mata Asgar terpancar rasa cinta luar biasa untuknya.
Di usapnya kedua bola mata Asgar secara bergantian. Lalu beralih pada hidung dan dagu suaminya itu.
Tidak berselang lama, kini ia mengambil salah satu tangan Asgar, lalu dikecupnya punggung tangan suaminya berharap jika saat ini suaminya segera siuman. Sayang, suaminya itu belum juga bangun.
Padahal sejujurnya saat itu Asgar sudah siuman. Kondisi tubuhnya yang cepat memulih membuatnya cepat sadar.
"Kapan kamu mau membuka kedua matamu?" tanya Aurora sambil terus memandangi wajah Asgar.
Ingin rasanya mulutnya mengatakan jika ia sudah siuman. Akan tetapi perhatian dari Aurora membuat Asgar justru terlena dan semakin membiarkan istrinya berbicara sendiri tanpa ia menimpali perkataan darinya.
Beruntung ia masih bisa menahan dirinya, sehingga Asgar masih berpura-pura pingsan.
Selama ini istrinya tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini.
Namun, saat ia terluka justru Aurora menunjukkan seluruh perhatiannya. Hampir saja sandiwaranya terbongkar, jika sang suster tidak masuk ke dalam ruang rawatnya.
"Huft, untung aja masih bisa mengendalikan diri, kalau tidak sudah pasti semua akan tidak baik-baik saja."
"Kalau kau terus bersikap manis seperti ini, tentu saja membuat hati ini semakin cinta kepadamu."
Apalagi saat ini ia masih menyadari jika Aurora masih menangis pilu karena dirinya. Karena ini merupakan sebuah moment langka, Asgar masih berusaha untuk menikmati setiap sentuhan dan perhatian yang diberikan oleh istrinya itu.
"Rupanya kamu cukup perhatian padaku," gumam hati Asgar dengan hati senang.
__ADS_1
Merasa jika pengorbananya tidak sia-sia membuat Asgar merasa ada berkah tersendiri saat ia terluka. Rupanya cinta itu amat manis hingga ia tidak mau berpaling. Begitulah pemikiran Asgar.
"Apapun yang kamu harapkan, kesetiaan ini hanya untukmu!" Janji Asgar untuk Auora.
Berharap bisa berbuat dan lebih dekat dengan sang istri hingga membuat Asgar dengan senang hati menerima takdirnya. Beberapa saat kemudian Asgar baru teringat jika dirinya ada sebuah misi yang harus dilakukan sebelum istrinya benar-benar naik jabatan dan menjadi kepala pimpinan cabang.
"Tunggu aku bangun, Sayang. Maka setelah ini hati dan jiwa ini hanyalah untukmu."
Sementara itu di Kediaman Jiang, rupanya Adelle dan Nyonya Jiang sedang berpesta merayakan keberhasilan mereka membuat Asgar masuk Rumah Sakit.
"Kenapa Kak Aiden tidak sekalian saja membuat Asgar buta, Bu?"
"Hust, jaga ucapanmu. Nanti kalau ayahmu tahu, maka semuanya akan lebih buruk!"
"Iya, paham, tetapi sepertinya akan lebih baik jika saat ini ia juga bu--"
Belum sempat Adelle melanjutkan ucapannya, rupanya Tuan Jiang datang. Sebenarnya ia cukup mendengar perkataan dari mereka. Bahkan dari awal pembicaraan itu dimulai.
"Kenapa semua justru merencanakan hal buruk pada Asgar. Bukankah ia sama sekali tidak pernah membuat siapapun terluka atau merugikan. Justru Asgar sangat mempunyai peran penting di sini," gumam Tuan Jiang sambil melewati istri dan putrinya.
Saat Tuan Jiang pergi, barulah Adelle dan Nyonya Jiang bisa bernafas lega.
"Huft, kenapa ibu tidak memperingatkan jika ayah tadi lewat?"
Nyonya Jiang tampak mengedikan bahunya.
"Ya, maaf karena tadi Ibu tidak melihatnya secara langsung jadi tidak tahu."
"Sudahlah, kalau begitu jangan pernah kita membicarakan dia dirumah ini."
"Oke."
__ADS_1