MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 12. KAMU HEBAT


__ADS_3

"Kau juga tidak pernah melihatnya bukan? Kalau begitu aku tunjukkan keberadaannya saat ini kepadamu."


Asgar penuh rasa percaya diri mengulurkan tangannya ke arah Billy agar mereka bisa berjabat tangan.


"Kenalkan, orang di hadapanmu saat ini adalah Asgar Valeriil Carim, suami dari Auora Adelaide."


Sontak semua orang yang hadir di sana terkejut dengan kehadiran Asgar. Begitu pula dengan Billy yang baru saja menghinanya.


Ternyata laki-laki di hadapannya ini adalah suami Aurora yang sebelumnya mereka ketahui sebagai orang buta. Namun jika dilihat dari penampilan Asgar saat ini, ia sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai orang yang buta.


Maka dari itu Billy pun mulai memutar balikan fakta. Billy tampak tertawa terbahak-bahak ketika mendengar bahwa lelaki di hadapannya mengaku sebagai Asgar.


"Bisa-bisanya kau mengaku sebagai suami Aurora? Sebagaimana yang kita ketahui saat ini, jika suami dari Aurora adalah lelaki buta dan kau sama sekali bukan orang buta. Jadi kau jangan pernah sekali-sekali untuk menipu kami!" ucap Billy sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Asgar.


"Turunkan tanganmu Tuan. Jaga batasanmu di sini! Tidak semua orang bisa kau hina dengan seenaknya."


"Kau tidak berhak menghina apa saja yang dipakai oleh Aurora. Karena semua barang yang dipakai olehnya adalah hadiah dariku."


Asgar tampak mendekati Aurora dan memegang bahunya.


"Barang yang dikenakan Aurora adalah barang asli dan kau tidak berhak mengotorinya. Karena jika sampai itu terjadi jangan harap kau bisa pulang dengan keadaan tubuh yang utuh."


Ancaman yang diberikan oleh Asgar sedikit membuat Billy ketar ketir.


"Jadi, apa yang dikenakan oleh Auora adalah barang asli?"


"Rupanya isu di luar sana salah besar. Buktinya kehidupan Aurora saat ini justru semakin terlihat elegan."


Bagaimana pun Billy agak takut karena isu yang beredar sama sekali tidak sama alias hoax. Lelaki yang berada di hadapannya saat ini benar Asgar. Postur tubuh Asgar tampak gagah dan tampan. Sangat jauh dari gosip yang beredar.


"Sepertinya tidak ada gunanya mencari masalah saat ini," gumam Billy.


Melihat Billy semakin ciut nyalinya, Asgar tampak tersenyum kepada Billy.


"Pemikiranmu salah, Tuan. Kamu kira orang buta juga tidak bisa sembuh?"


"Padahal dengan kedua matamu kau bisa melihat jika kaki Aurora saat ini juga sudah sembuh. Apakah itu juga menemukan sebuah hal yang mustahil bagimu."


"Ketahuilah, bisa jadi apa yang kamu lihat di depanmu ini adalah sebuah kebenaran."


Seolah semakin terpukul mundur dengan ucapan Asgar barusan, Billy pun mulai tidak merasa percaya diri. Apalagi pandangan dari orang-orang yang sebelumnya mendukung ucapannya kini justru berbalik menatap tajam ke arah dirinya.


"Kenapa mereka justru menatapku dengan aneh?" ucap Billy merutuki sikapnya tadi.


Aurora yang tidak tahu jika suaminya juga turut hadir di sana hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya saat Asgar mulai menanggapi ucapan omong kosong darinya barusan. Aurora tidak menyangka jika Asgar berani menunjukkan dirinya di hadapan orang-orang dan mengakui jika dirinya adalah suaminya.

__ADS_1


Melalui hal ini, Aurora terharu dan semakin mencintai Asgar. Orang-orang yang sebelumnya menghina Asgar pun juga tiba-tiba terdiam.


Mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Billy, karena sesungguhnya orang yang berada di hadapannya saat ini benar-benar adalah Asgar. Suami dari Aurora yang semula buta, tetapi kini penglihatannya sudah kembali.


Merasa jika dirinya semakin disudutkan oleh semua orang Billy akhirnya mundur. Begitu pula dengan adiknya yang semula ikut-ikutan mengejek Aurora.


Tiba-tiba saja terdengar suara Nyonya Ru memanggil nama Billy.


"Billy ...."


Sontak saja Billy menoleh ke arah ibunya. Senyumnya mengembang ketika melihat sang ibu. Ia buru-buru mendekati ibunya dan menunjuk ke arah Aurora dan Asgar.


"Bu, mereka baru saja ...."


Belum sempat perkataan dari Billy selesai rupanya, Nyonya Ru justru menampar wajah Billy dengan cepat.


"Arghhhh!"


Pipi Billy terasa panas akibat tamparan dari ibunya. Ia begitu bingung ketika ibunya bukan mendukungnya tetapi justru menamparnya.


"Ibu ... ibu? Kamu ...."


"Sampai kapan kamu ingin membuat masalah! Cepat minta maaf!"


Tiba-tiba saja, Nyonya Ru datang mendekati Aurora dan Asgar.


"Sudahlah Bi, tidak apa-apa. Ketakutan kami hanyalah tentang reputasi Keluarga Jiang akan semakin menurun jika seperti ini."


Nyonya Ru membuang nafasnya dengan segera.


"Iya, maafkan kami," ucapnya dengan menunduk.


"Aurora si mulut tajam, bertingkah seolah dia sangat murah hati, tapi masih tidak mau melepaskan kami," ucap Nyonya Ru di dalam hati.


Aurora hanya khawatir jika reputasi keluarga Jiang akan semakin hancur jika berada di bawah kepemimpinan anggota keluarga yang salah dan rupanya hal itu sebentar lagi akan terjadi.


"Bu, lihat! Dia bertindak melunjak!"


Sekali lagi Nyonya Ru menampar mulut putranya.


"Masih tidak mau minta maaf?"


"Argh!"


"Ibu, kenapa kamu bisa?"

__ADS_1


"Kamu lihat Asgar sudah tidak buta lagi, dia mempunyai kekuatan lebih di belakangnya."


"Sekarang tidak ada peluang untuk menang, segera minta maaf dan pergi!"


"A-aku ...." ucap Billy dengan gigi gemerutuk.


"Minta maaf," ucap Billy dengan suara pelan.


"Billy, seharusnya tidak harus minta maaf. Akan tetapi sepertinya saya harus merepotkanmu untuk menjelaskan kepada semua orang di sini."


"A-apa!"


Tidak mau membuat ibunya semakin marah, dan justru mendapatkan tamparan lagi, Billy akhirnya meminta maaf.


"M-A-A-F!"


"Saya salah, seharusnya tidak memfitnahmu!"


"Tolong maafkan kami!" ucap Nyonya Ru menambahkan.


Sebenarnya Aurora tidak peduli dengan penghinaan yang diberikan padanya, hanya saja dia masih memikirkan reputasi keluarga besarnya. Apalagi ini menyangkut reputasi tentang neneknya.


Asgar tampak mengamati sikap Aurora di sana. ia memuji Aurora yang terlihat berkharisma.


"Dia sangat kuat sekarang, tidak heran selama ini tidak mengenalnya dengan baik," gumam Asgar pada Aurora.


Setelah mengatakan semuanya, kini Aurora mulai mencari tempat duduk dan mempersilakan semua tamu untuk melanjutkan pestanya.


Nyonya Ru memang datang dan menampar putranya tersebut di depan orang banyak. Hal itu ia lakukan demi melindungi reputasi pencalonan putranya sebagai kandidat calon pengurus kepala cabang baru.


Sehingga bisa mengurangi nilai yang akan diberikan oleh neneknya nanti. Lagi pula setelah melihat Asgar berada di sana, ia menyimpulkan jika saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Billy yang baru saja mendapatkan tamparan dari ibunya begitu terkejut karena selama ini ia tidak pernah ditampar atau diperlakukan kasar olehnya. Maka dari itu ia pun protes saat letak mereka berjauhan dengan Aurora.


"Bu kenapa tadi kau menampar sampai dua kali. Bukankah a--"


Belum sempat Billy melanjutkan ucapannya, Nyonya Ru memotong ucapan putranya.


"Diam, tidak usah banyak bicara. Sebaiknya kau ikut Ibu pulang!


Di saat Aurora hendak pergi, rupanya Nyonya Besar Jiang sudah tiba. Ia mengamati semua yang terjadi dari lantai dua. Dengan segera ia pun menegurnya.


"Siapa yang mengijinkan kamu pergi!"


Suara yang sangat Aurora kenali membuat langkahnya terhenti lalu menoleh.

__ADS_1


"Nenek ...."


__ADS_2