
Rupanya setiap wanita yang bertemu dengan Asgar selalu saja tertarik sejak awal berjumpa. Hanya saja, cinta sejatinya hanya untuk sang istri tercinta yaitu Aurora. Sehingga bagaimana cara yang digunakan oleh wanita itu untuk menjeratnya sangatlah mudah ditebak olehnya.
"Duduklah, Tuan. Sebaiknya Anda istirahat dahulu biar para pelayan mempersiapkan semuanya."
"Apa! Asgar masuk ke dalam Rumah Sakit?" ucapnya terkejut ketika menyadari bahwa ada musibah dengan suaminya.
Mengetahui hal tersebut Aurora segera menyusul Asgar ke Rumah Sakit. Ia tidak menyangka jika suaminya justru terluka karena hal kecil. Andai tau seperti ini, sudah pasti ia tidak akan memintanya.
Sesuai dugaan, rupanya Asgar benar-benar terluka. Hati dan pikiran benar-benar membuat kelapa tamat.
Air matanya terus mengalir deras hingga membuat siapa saja yang melihatnya ikut bersedih. Lain halnya dengan Adelle dan juga ibunya Nyonya Jiang yang justru tertawa bahagia saat mendengar jika Asgar terluka parah hingga dilarikan ke Rumah Sakit.
Betapa terkejutnya ia menyadari hal itu, rupanya luka di perut suaminya harus melalui beberapa kali jahitan, ditambah lagi saat ini masih belum juga siuman.
__ADS_1
"Andai saja kamu tidak menawari makanan manis tadi malam, sudah pasti kamu tidak akan terluka seperti ini," Aurora menyesali sikapnya yang mengijinkan suaminya semalam pergi ke luar.
Pandangan Aurora kini berganti ke arah luka di perut Asgar. Betapa ia sangat bersedih saat melihat kedua mata indah Asgar yang masih tertutup rapat.
Di usapnya bola mata Asgar, lalu berganti dengan dikecupnya punggung tangan suaminya itu. Berharap jika saat ini suaminya segera siuman. Sayang, suaminya itu belum juga bangun.
"Kapan kamu mau membuka kedua matamu?"
Padahal setelah obat bius yang diberikan padanya efeknya mulai menghilang, Asgar sudah siuman. Akan tetapi ketika menyadari jika ada hal lain yang harus ia kerjakan saat ini akhirnya Asgar menikmati setiap sentuhan dan perhatian yang diberikan oleh istrinya barusan.
Merasa jika pengorbananya tidak sia-sia membuat Asgar merasa ada berkah tersendiri saat ia terluka. Rupanya cinta itu amat manis hingga ia tidak mau berpaling.
"Apapun yang kamu harapkan, kesetiaan ini hanya untukmu!"
__ADS_1
Berharap bisa berbuat dan lebih dekat dengan sang istri hingga membuat Asgar dengan senang hati menerima takdirnya. Beberapa saat kemudian Asgar baru teringat jika dirinya ada sebuah misi yang harus dilakukan sebelum istrinya benar-benar naik jabatan dan menjadi kepala pimpinan cabang.
Nyonya Besar Jiang sudah setuju jika ia akan memberikan kesempatan satu kali lagi untuk Aurora. Oleh karena itu, tempo hari ketika keduanya berada di dalam kamar Nyonya Besar Jiang, Asgar meminta permohonan maaf darinya dan sebuah kesempatan untuk istrinya.
Menyadari jika semuanya tidak baik-baik saja, maka Asgar memilih terluka. Hingga para preman yang menghajarnya menjadi kalang kabut.
Namun, semua sandiwara Asgar terbongkar manakala ada seorang suster yang datang ke ruangan itu untuk melihat kondisi pasien, yang tak lain dan tak bukan adalah Asgar.
"Bagaimana keadaan pasien?"
"Sepertinya baik-baik saja."
"Lalu kenapa pasien belum siuman?"
__ADS_1
Suster tersebut hanya tersenyum ketika mendapati kerlingan mata dari Asgar. Sebenarnya ia tahu jika itu tidak bisa mungkin bisa melakukan hal itu, hanya saja diluar kehendaknya rupanya ia mampu membuat Aurora marah.