MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 23. KEAJAIBAN


__ADS_3

Seorang kakek batuk-batuk di pinggir jalan. Tubuhnya kurus kering akibat penyakitnya yang menahun. Hanya kulit menempel pada tulang yang tersisa saat ini. Bola matanya cekung, hingga membuat siapapun yang memandangnya jadi ketakutan, tetapi tidak dengan Asgar yang berjalan perlahan dan mendekatinya.


"Kek, apakah Kakek sudah makan?" tanya Asgar sambil membawa satu kantong makanan.


Sang Kakek menggeleng perlahan. Bagaimana pun perekonomian yang sulit telah membuat dirinya sangat susah untuk mendapatkan sesuap nasi. Maka dari itu ia terpaksa meminta-minta di pinggir jalan dan saat ini bisa bertemu dengan Asgar.


Asgar justru menepuk bahu kakek tua tersebut sambil tersenyum tanpa merasakan jijik sedikitpun. Ia pun segera menyerahkan sebuah kotak makanan untuk sang kakek.


"Ini ada sedikit rezeki, Kek. Siapa tahu kakek berkenan untuk menerimanya."


Melihat jika ada sebuah kotak makanan tentu saja Kakek merasa bersyukur. Setidaknya hari itu ia tidak kelaparan.


"Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan dirimu."


"Aamiin."


Setelah menyerahkan makanan tadi, kini Asgar kembali pergi. Akan tetapi baru saja beberapa langkah, rupanya sang kakek justru muntah darah setelah memakan satu siap nasi dari Asgar. Tentu saja seketika pandangan orang-orang di jalanan mengarah ke Asgar dan menahan langkahnya.


"Hei! Lelaki berbaju biru, berhenti!" teriak tukang becak di sisi jalan.


Merasa jika jalanan cukup lengang tentu saja membuat Asgar tahu diri dan menghentikan langkahnya karena merasa terpanggil. Baru saja ia berhenti, rupanya ia sudah diberi sebuah bogem mentah oleh di tukang becak. Tentu saja sudut bibir Asgar sobek karena pukulan tersebut dan mengeluarkan darah segar.


Pukulan tadi juga membuat Asgar sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung ia tidak terlalu mundur, sehingga ia bisa menepis serangan berikutnya. Bahkan saat ini salah satu tangan Asgar memegang tangan lelaki itu.


"Maaf, Tuan ada apa ini? Kenapa memukul saya secara tiba-tiba?"

__ADS_1


"Masih tanya kenapa? Apakah kau tidak tahu jika ayahku muntah darah karena baru saja memakan nasi kotak yang kau berikan!"


Sorot mata Asgar langsung mengarah ke tempat kakek tua yang dimaksud tadi. Kakek tua itu tampak tergeletak di jalanan dengan salah satu tangannya masih memegang sendok. Sementara itu nasi kotak miliknya berhamburan ke jalanan.


"Gawat!" gumam Asgar.


Dengan segera Asgar buru-buru mendekati sang kakek, tetapi tangannya tercekal hingga mau tidak mau ia menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ada apa lagi, Tuan?"


"Mau kau apakan lagi ayah saya?"


"Diam di sini dan lihat! Jangan mengganggu kalau Tuan memang menginginkan untuk membuatnya kembali bernafas."


Mendengar ancaman dari Asgar, lelaki itu segera melepaskan tangannya. Hingga Asgar segera mendekatinya dan leluasa untuk memeriksa keadaan sang kakek.


"Gawat, sang kakek rupanya sudah tidak makan selama beberapa hari, hingga membuat lambungnya tidak bisa mencerna makanan yang masuk. Sehingga kalaupun dipaksa maka jatuhnya akan seperti ini," ucap Asgar dengan raut wajah khawatir.


"Apa katamu! Tidak mungkin ayah tidak makan selama berhari-hari?" elak si tukang becak tampak tidak terima.


Lain lagi dengan pandangan orang-orang yang sudah berkerumun mengelilingi tubuh Asgar, kakek tua, dan juga tukang becak yang mengaku sebagai putranya kakek tua. Mereka masih melihat pihak mana yang harus mereka bela.


Asgar menoleh, " Tuan meragukan ucapan saya? Maaf, begini pun saya adalah dokter dan hal itu bisa disimpulkan setelah mendeteksi adanya sesuatu hal yang tidak beres di dalam tubuh kakek!"


"Oh, ternyata dia dokter? Tapi kenapa kamu ingin membunuh kakek?" tanya yang lainnya.

__ADS_1


"Bukan membunuh, jika memang saya berniat untuk membunuhnya sudah pasti dilakukan sejak tadi. Lagi pula kami tidak saling mengenal satu sama lain. Hanya rasa perikemanusiaan yang membuat saya merasa jika harus menolongnya.


Orang-orang terlihat saling memandang satu sama lain. Ada yang membela Asgar ada pula yang masih meragukan kemampuan Asgar. Melihat situasi yang kurang kondusif membuat Asgar harus bertindak cepat kali ini.


"Jika kalian ingin membunuh kakek, maka silakan. Akan tetapi nyawa kakek masih bisa tertolong asalkan kalian percaya pada saya."


Beberapa orang tampak meragukan ucapan Asgar. Akan tetapi ucapan si tukang becak yang tadi ngotot menahan sikap Asgar, kini telah berubah. Saat ini ia justru memperbolehkan dirinya mengobati ayahnya.


"Ba-baiklah, saya percaya. Maka percepatlah langkahmu dalam menyembuhkan ayah."


"Baik kalau begitu."


Tidak mau menunggu waktu yang lebih lama, rupanya Asgar segera mengeluarkan jarum perak miliknya. Ia berniat untuk melakukan teknik akupuntur pada titik-titik nadi pada tubuh kakek.


"Satu hal yang perlu digaris bawahi di sini yaitu, selama saya sedang mengobati pasien dilarang untuk mendekat, mengerti?"


Beberapa orang mengangguk serempak. Tanpa bantuan dari siapapun, Asgar segera melakukan pengobatan. Hanya dalam beberapa waktu kemudian, kini sudah tampak jika kondisi kakek tua yang telah diobati oleh Asgar, sudah mulai bernafas kembali.


Kondisi bibirnya yang semula membiru kini berangsur kembali berwarna. Tampak Asgar dan yang lainnya bisa bernafas lega, tatkala kakek itu sudah kembali membuka mata.


Saat kakek sudah membuka mata kembali, tiba-tiba saja terdengar suara decitan ban mobil yang beradu dengan jalanan aspal berhenti tepat di belakang kerumunan warga. Sosok wanita itu keluar dari mobil dan menerobos kerumunan warga.


"Tunggu!"


......................

__ADS_1


Kira-kira siapa yang berteriak tadi, ya?


__ADS_2