MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 7. MASIH BERKILAH


__ADS_3

Asgar tahu bahwa ayah mertuanya tidak memiliki banyak waktu lagi, jadi dia memegang tangan Aurora dengan erat dan bertanya apakah dia mau mempercayainya sekali lagi.


“Apakah kamu masih percaya pada Saya? Tolong berikan satu kesempatan lagi!”


Sorot mata Asgar membuat pertahankan dinding Aurora luruh dan percaya padanya.


Aurora mengangguk berat dan meminta Asgar untuk maju mengobatinya. Saat ini ia tidak bisa berpikir jernih, sehingga satu-satunya caranya hanya mengandalkan suaminya.


“Pergilah, selamatkan Ayah!”


Asgar mengangguk. Akan tetapi, ibu mertua dan adik iparnya tentu saja tidak setuju. Mereka menahan langkah Asgar. Tidak disangka Auora menghentikan dan menahan ibu juga adiknya.


“Hei, kenapa kakak mau mempertaruhkan nyawa Ayah padanya? Bagaimana bisa hal sepenting ini, kakak justru lebih percaya pada dia!” ucap Adelle tampak marah pada putrinya.


“Bu, berikan Asgar satu kesempatan lagi, please jangan membuat semuanya menjadi lebih sulit.”


Aurora masih berusaha untuk menahan semua dan menatap Asgar dengan air mata berlinang. Wajah cantik Aurora terlihat sendu, tetapi dengan pancaran matanya yang tegas meminta Asgar melakukan hal itu dengan lebih berani.


“Lakukan apa yang menurutmu terbaik untuk ayah. Kami percaya kamu pasti bisa melakukannya dengan sepenuh jiwa.”


Sorot mata Aurora memang mampu menyihir hati dan pikiran Asgar dalam sesaat. Karena sudah mendapatkan kepercayaan dari sang istri, ia pun percaya bahwa ia pasti bisa melakukannya dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan sedikitpun. Asgar mengangguk dan mengulas senyum pada istrinya.


“Terima kasih, Aurora.”


Support dari sang istri mampu membuat Asgar bergegas mengobati ayah mertuanya. Langkah awal yang diambil oleh Asgar adalah berkomunikasi dengan hantu wanita yang menempel pada tubuh ayah mertuanya terlebih dahulu.


“Hei hantu, kemarilah!”


“Kau memanggilku manusia tampan?”


Asgar memutar bola matanya malas. Lalu ia segera meminta hantu itu untuk pergi. Asgar berjanji untuk membantu hantu itu untuk membalas dendam serta memberikannya sebuah kebenaran.


“Hai hantu penasaran, bisakah kau pergi dari tubuh ayah, sekarang?”


“Nggak mau, tubuhnya sangat nyaman, kenapa harus pergi?”


Asgar pun berjanji akan membantu hantu itu untuk membalaskan dendam dan memberikan kebenaran untuknya jika ia mau pergi.


“Kau tidak berbohong, kan?” tanya hantu itu masih meragukan Asgar.


“Pantang mulut dan hati ini untuk berbohong. Kalau kau tidak percaya, ya sudah.”


Melihat Asgar hendak pergi, hantu itu segera menyetujui permintaan Asgar.

__ADS_1


“Baiklah, setuju.”


Asgar pun tersenyum dan hantu itu akhirnya berjanji untuk tidak mengikuti Tuan Jiang lagi, dan ketika dia berjalan ke pintu Rumah Sakit, suhu di bangsal naik beberapa derajat dalam sekejap.


Setelah memecahkan akar penyebabnya, Asgar mulai menentukan titik-titik akupuntur untuk menentukan lokasi pendarahan ayah mertua. Kali ini Asgar menggunakan teknik pijat eksklusif untuk memperbaiki titik pendarahan dan mempercepat penyerapan pembekuan darah oleh otak.


Ia benar-benar sangat berhati-hati dalam menggunakan ilmu medisnya. Setelah setengah jam berlalu, Asgar berkeringat deras karena kelelahan, dan dia merenungkan dalam hatinya bahwa dia sudah terlalu lama tidak mengobati orang, sehingga dirinya begitu lelah untuk pekerjaan yang sedikit ini.


Akan tetapi untungnya, setelah mendapatkan perawatan dari Asgar, ayah mertua bangun dan aneh melihat anggota keluarganya terlihat menangis dengan mata merah.


“Hei, kenapa kalian menangis?”


“Bukankah cuma pingsan biasa, kenapa kalian begitu sedih?”


Semua orang terkejut melihat Tuan Jiang sudah sadar, akan tetapi mereka takut jika Tuan Jiang akan sama seperti sebelumnya. Baru membaik dalam waktu sekejap, kemudian menjadi buruk setelahnya.


Tanpa diduga, Tuan Jiang langsung bangun dari atas brankar Rumah Sakit, dan ia pun berdebat untuk meminta pulang seperti orang normal.


“Sangat tidak mengenakan tidur di sini, sebaiknya kita segera pulang saja!”


“Ayah, jangan begitu, kesehatan Ayah baru saja pulih, lebih baik istirahat di sini dulu.”


“Kalian ini terlalu berlebihan, sudahlah ayo kita pulang!”


“Kalau kalian tidak percaya, silakan saja periksa ayah, sekarang!”


Tuan Jiang tampak merentangkan kedua tangannya agar mereka dapat leluasa untuk memeriksa tubuhnya.


Baru pada saat itulah semua orang tahu bahwa Tuan Jiang benar-benar disembuhkan oleh Asgar.


“Benar, ayah sudah tidak apa-apa loh!” ucap Adelle yang sudah selesai memeriksa tubuh ayahnya.


“Sudah dibilang, masih tidak percaya, ayo kita pulang saja!”


Aurora yang melihat hal itu segera berterima kasih kepada Asgar sambil menangis.


“Terima kasih Asgar, kau benar-benar berkat Tuhan yang dikirim kepada kami.”


Asgar segera memeluk bahu istrinya itu.


“Tenanglah, sekarang ayah sudah baik-baik saja.”


Selain mereka yang merasa bahagia akan kesembuhan Tuan Jiang, Aiden justru merasa sangat marah ketika melihat adegan ini. Dia tampak memalingkan matanya dan mengatakan bahwa pemulihan Tuan Jiang itu karena bantuan dari orang asing dokter yang dia undang tadi, bukan karena pertolongan Asgar.

__ADS_1


“Enak saja ngaku-ngaku, semua itu terjadi bukan karena pijatan Asgar, tetapi karena kinerja dokter lulusan luar negeri tadi. Asgar itu hanya memijat Tuan Jiang, bagaimana dia bisa menyembuhkan penyakitnya?”


“Jadi kalian salah orang jika ingin berterima kasih. Harusnya bukan pada Asgar, melainkan pada kami berdua!” ucap Aiden sambil merangkul bahu dokter dari luar negeri.


Nyonya Jiang tentu tidak ingin mengakui keunggulan Asgar, maka dia dengan cepat setuju pendapat dari Aiden. Baginya kebenaran itu tidak penting, yang penting bisa mengejek putrinya sendiri yaitu Aurora dan menginjak dibawah kakinya.


“Yang dikatakan oleh Aiden adalah kebenaran, jadi mana mungkin si buta ini mampu menyembuhkan Ayah.”


“Benar sekali Nyonya, ternyata hanya Nyonya Jiang dan Adelle yang mampu berpikir jernih di sini,” ucap Aiden bangga.


Asgar sama sekali tidak peduli dengan gonggongan dari Aiden dan juga ibu mertuanya.


“Ehem ....” Asgar tampak berdehem kemudian.


“Ingat, pengobatan ayah perlu dibagi menjadi 3 tahap, yang tadi itu adalah tahap pertama dan belum selesai sepenuhnya.”


“Karena kalian semua lebih percaya jika yang berhasil menyembuhkan ayah adalah dokter asing, maka pengobatan selanjutnya akan diserahkan pada dokter asing.”


Tampak sekali senyum Nyonya Jiang, Adelle dan Aiden tersungging sempurna.


“Kecuali jika ....” Asgar tampak menggantung ucapannya.


“Kecuali apa, cepat Asgar katakan!”


“Kecuali adik ipar dan ibu mengakui kesalahan mereka supaya pengobatan selanjutnya tetap saya lakukan.”


Asgar tampak menatap keduanya dengan sorot mata tajam. Tentu saja Aurora tidak setuju dengan keputusan Asgar. Di tambah lagi kebenaran yang menyembuhkan ayahnya adalah Asgar bukan dokter asing itu. Namun, Asgar kemudian berbisik di telinga Auora.


“Biarkan saja mereka melakukan rencananya, selama Ayah masih ada nafas, sekuat tenaga pasti bisa disembuhkan.”


Asgar meyakinkan istrinya jika dia dapat membuat ayah mertua seperti orang normal, sehingga sang Aurora dengan enggan setuju.


“Kalian dengar ucapan dari Asgar barusan, silakan kalian berpikir dengan jernih baru putuskan dengan secepatnya.”


Tentu saja Adelle dan juga Nyonya Jiang bingung. Apalagi mereka juga tidak yakin jika dokter asing itu yang menyembuhkan Tuan Jiang.


“Bagaimana ini Bu?”


“Entahlah, kau ini kenapa tidak bisa menahan lidahmu untuk tidak menghinanya tadi.”


“Ibu, kenapa justru menyudutkan sih!”


Kedua orang itu tampak saling menyalahkan satu sama lain hingga Asgar dan Aurora tetap memberikan waktu kepada keduanya agar mereka dapat memilih mana dan langkah apa yang akan mereka gunakan untuk memberikan kesembuhan yang sepenuhnya kepada Tuan Jiang.

__ADS_1


__ADS_2