MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 19. BERHASIL MENOLONG ADELLE


__ADS_3

Rupanya Asgar sudah tahu jika ada sosok yang selalu mengikuti Adelle. Saat pertama kali ia pernah melihat sosok hantu wanita yang mengikuti Adelle, sebenarnya ia ingin memberi tahu jika saudara sedang diikuti seorrang hantu wanita.


Maka dari itu Asgar mulai berkomunikasi dengannya. Saat Asgar hendak berkata, ternyata hantu itu lebih dulu menyapanya.


"Hei lelaki tampan. Daripada kamu menolong tubuh gadis ini lebih baik kau tidurr denganku," ucap hantu cantik berbaju pink.


Asgar tergelak dengan ucapan yang diberikan oleh hantu itu. Bisa-bisanya ia justru mengajaknya untuk tidur bersama. Padahal mereka berbeda alam tetapi justru mengutarakan hal itu demi memuaskan keinginannya sendiri.


"Apa tidak salah dengar, kau justru meminta untuk kita tidur bersama?"


Hantu centil itu tertawa sambil menjulurkan lidahnya. Bukannya menarik perhatian, Asgar justru terlihat jijik padanya.


"Baiklah kalau begitu, jawab dulu semua pertanyaan dariku? Bagaimana?"


"Setuju," jawab hantu itu dengan singkat.


Rupanya sang hantu sejak lama mengikuti tubuh Adelle karena ia terikat janji dengannya Atas bantuan orang pintar mereka mulai mengikat janji. Sejak saat itu pula banyak lelaki tampan menyukai Adelle. Bahkan mereka tergila-gila padanya.


"Oh, jadi kamu terikat kontrak dengan Adelle?" tanya Asgarr pada hantu cantik itu.


"Benar sekali, maka dari itu ingin sekali lepas darinya," ucapnya dengan wajah sendu.


"Stop, jangan tunjukan wajah sendumu itu padaku. Sungguh mengerikan tahu?"


Tentu saja hant wanita cantik itu mencebik kesal. Bagaimanapun ia seorang hantu cantik dan sangat jarang ada lelaki yang menolak pesonanya seperti itu.

__ADS_1


"Sudahlah kalau kau tidak membuat onarr di sini, maka kau akan mendapatkan semua keinginanmu."


Hantu cantik itu segera menoleh ke arah Asgar sambil tersenyum. Akan tetapi justru gigi palsunya copot, sehingga ia tidak jadi menakutkan. Asgar mmenutup mulutnya agar ia tidak kelihatan kalau sedang menertawakannya.


Hantu yang semula sudah luluh pada Asgar kini justru marah kepadanya. Ia mulai mengangkat meja nakas di samping tempat tidur dan bersiap melemparnya ke arah Asgar.


Suara dentuman keras begitu nyaring bunyinya ketika beradu dengan lantai marmer. Tentu saja suara itu membuat Nyonya Jiang dan Tuan Jiang ketakutan. Begitu pula dengan Aurora yang justru mengkhawatirkan suaminya Asgar.


"Apakah yang sebenarnya kau inginkan dari kami? Bukankah kau sudah diberikan sebuah penawaran dan itu sama sekali tidak memberartkanmu?"


Hantu yang semula terlihat marah kini mulai mereda amarahnya segera mendekati Asgar. Hantu itu tampak menoel dagu Asgar.


"Kau mengancam?"


"Tidak, memangnya kenapa?"


Entah bagaimana caranya kinin terlihat jika hantu itu sudah mau keluar darri tubuh Adelle. Seketika tubuh Adelle yang semula melayang kini mulai luruh ke bawah.


"Huft ...."


Kini Asgar sudah mulai tenang, karena berhasil mengusir penyebab utamanya. Gilirannya untuk memeriksa apakah kondisi bau badan Adelle bisa disembuhkan atau tidak.


Baru saja ia hendak menyentuh tubuh adik iparnya itu rupanya Nyonya Jiang justru berteriak dan melarang Asgar agar tidak menyentuh tubuh Adelle. Tentu saja semua anggota keluarganya memandang ke arah Nyonya Jiang dengan tatapan menyalang.


"Ke-kenapa kalian memandangku aneh seperti itu?" tanya Nyonya Jiang tampak ketakutan.

__ADS_1


Sesaat kemudian Nyonya Jiang lalu menghela nafas dan segera menyutujuinya.


"Oke, silakan kalau kalau memang berniat untuk menyembuhkan Adelle, tapi ingat jangan menyentuhnya dalam waktu yang lama."


"Bu ...." teriak Tuan Jiang dan juga Aurora secara bersamaan.


Tubuh Nyonya Jiang justru meringkuk ketakutan karena tatapan dari suami dan juga Aurora. Lalu Asgar segera bergegas untuk memeriksa tubuh Adelle dengan teliti.


Akhirnya titik permasalahannya sudah ketemu, sehingga saat ini Asgar akan menyembuhkan masalah yang sedang dihadapi oleh adik iparnya itu. Mengetahui jika adiknya sudah sembuh, maka Aurora dan anggota keluarga lainnya berterima kasih pada Asgar.


"Asgar, sekali lagi kami berterima kasih padamu. Jika bukan karena pertolongan darimu mungkin saja Adelle tidak akan tertolong."


"Betul, terima kasih Asgar," ucap Tuan Jiang pada menantunya.


Di sudut ruangan masih ada Nyonya Jiang yang belum beranjak dari tempat duduknya. Ia masih enggan menerima kenyataan jika Asgar telah berhasil menyembuhkan putrinya.


"Sampai kapan pun, tidak akan pernah mau mengatakan terima kasih kepadamu!" ucap Nyonya Jiang dengan lirih.


Lain lagi dengan Tuan Jiang yang kebetulan mendengarnya.


"Ibu, kamu tadi bicara apa?"


"Tidak bicara apapun, kenapa kau sensitif kepadaku?"


"Bukannya sensitif hanya saja sepertinya kamu tidak mau mengucapkan terima kasih pada menantumu."

__ADS_1


"Ka-kau!"


Nyonya Jiang hendak membentak suaminya, akan tetapi ia kemudian teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat suaminya justru pingsan saat berdebat dengannya.


__ADS_2