MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 17. KETAHUAN


__ADS_3

Nyonya Besar Jiang sudah setuju jika ia akan memberikan kesempatan satu kali lagi untuk Aurora.


"Benarkah Nyonya akan memberikan sebuah kesempatan kembali pada Nona Aurora?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Bukankah itu sangat beresiko?"


"Yang menjadi masalah hanyalah ibu dan adiknya. Kalau untuk Aurora ia sama sekali berbeda dari kedua manusia itu."


Asisten Nyonya Besar Jiang hanya bisa mengangguk patuh. Ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengatur atasnya tersebut. Saat ini yang ia butuhkan hanyalah mengabdi dengan sepenuh hati dan menjaga kesehatan agar Nyonya Besar Jiang tidak jatuh sakit.


"Kalau tidak ada yang kamu tanyakan lagi, sebaiknya kamu segera pergi dan mengurus semua proyek yang akan dikerjakan oleh Aurora esok hari."


"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi."


Tidak membutuhkan waktu yang lama, asisten Nyonya Besar Jiang yang segera menangani semua kasus dan mempersiapkan hal tersebut untuk menyambut kedatangan Aurora di perusahaan.


Mereka berdua menyembunyikan hal ini dari seluruh Keluarga Jiang dan tempo hari hanya mengumumkan tentang siapa saja kandidat yang berhak untuk menduduki tempat tersebut. Sehingga tidak ada seorangpun yang curiga jika pada akhirnya kedudukan tersebut akan diberikan kepada Aurora.


Nyonya Besar Jiang hanya menunjukkan jika untuk bisa menduduki posisi penting pemimpin cabang akan dinilai dari seberapa besar hadiah yang akan diberikan di pesta ulang tahunnya kemarin. Padahal hal-hal itu tidak berpengaruh apapun terhadap penilaian yang akan diberikan Nyonya Besar Jiang.


Namun, rupanya hal itu mampu membuat beberapa kandidat menunjukkan potensinya secara langsung di hadapan Nyonya Besar Jiang.


Saat ini beliau tersenyum menatap hamparan pekarangan rumahnya. Sudah lama ia mempunyai niatan untuk memberikan sebagian hartanya kepada Aurora. Namun hal itu tidak bisa ia lakukan secara langsung karena semua akses yang dimiliki oleh putranya langsung dikuasai oleh ibunda Aurora. Maka dari itu untuk menyelamatkan masa depan Aurora ia menjaminnya dengan memberikan posisi pimpinan kepala cabang kepada dirinya.


"Semoga keputusanku ini tidak salah, hanya ini yang mampu diberikan setelah peninggalan kakekmu."


Oleh karena itu, tempo hari ketika Asgar berada di dalam kamar Nyonya Besar Jiang, Asgar meminta permohonan maaf untuk istrinya dan meminta sebuah kesempatan agar Auora masih diberikan kesempatan untuk bisa menjadi kandidat sebagai kepala pimpinan cabang.


"Asgar memang layak untuk menjadi suamimu maka dari itu aku memberikan tanggung jawab besar ini kepadamu. Sekaligus untuk melatih bagaimana cara agar untuk bisa membimbingmu dalam mengelola perusahaan milik keluarga besar kita," ucap Nyonya Besar Jiang menatap ke arah album foto keluarga besarnya.

__ADS_1


Menyadari jika semuanya tidak baik-baik saja, maka Asgar memilih terluka. Membiarkan mereka merasa menang baru mengungkap siapa dalang dibalik kejadian yang dialaminya.


Ternyata benar, pelaku dibalik semua kejadian itu adalah mertuanya sendiri. Akan tetapi Asgar tidak bisa mengatakan hal itu terlebih lagi hubungan dirinya dengan ibu mertuanya tidak baik-baik saja.


Di dalam Keluarga Jiang orang yang cukup baik memperlakukan dirinya hanya Tuan Jiang. Sementara yang lainnya tidak pernah memperlakukan dirinya seperti manusia. Namun, di dalam hati Asgar tidak pernah menaruh dendam pada siapapun. Maka dari itu ia juga ingin menyelidiki kenapa ibu mertuanya sangat membenci dirinya.


Namun, semua sandiwara Asgar terbongkar manakala ada seorang suster yang datang ke ruangan itu untuk melihat kondisi pasien, yang tak lain dan tak bukan adalah Asgar.


Beberapa saat kemudian muncul seorang suster untuk memeriksa keadaan Asgar.


"Permisi Nyonya, maaf waktunya untuk pemeriksaan."


"Silakan suster!"


Aurora tampak memundurkan langkahnya, memberikan kesempatan padanya agar lebih leluasa memeriksa kondisi pasien. Karena rasa penasaran Aurora mulai menanyakan bagaimana keadaan suaminya itu.


"Maaf, Suster. Bagaimana keadaan pasien?" tanya Aurora menyapa suster yang baru saja memeriksa kondisi istrinya itu.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, bolehkah saya bertanya sesuatu hal, Sus?"


"Silakan saja!"


"Kalau pasien sudah baik-baik saja, lalu kenapa pasien belum siuman sampai saat ini?"


Dengan segera suster menoleh ke arah pasien. Rupanya Asgar memberikan kode rahasia padanya.


Suster tersebut hanya tersenyum ketika mendapati kerlingan mata dari Asgar. Sebenarnya suster tahu kenapa Asgar berpura-pura. Maka dari itu ia pun mengangguk.


"Mungkin saja itu efek dari obat bius, bisa saja masih bereaksi. Tunggu beberapa saat sampai efek obatnya habis maka setelah itu mungkin pasien akan siuman."


"Baiklah, kalau begitu terima kasih, Sus."

__ADS_1


"Sama-sama. Semoga cepat sembuh Tuan Asgar."


Merasa ada yang aneh dengan suaminya, Aurora memperbaiki penampilannya lalu segera mendekati brankar milik suaminya.


"Mas, kamu tahu jika Aiden tadi mau menggangguku lagi."


"Oh, ya?" tanya Asgar dengan segera.


Tanpa sadar Asgar langsung merespon ucapan dari istrinya itu. Aurora yang semula bersedih kini sedang bersedekap dada. Mengamati satu persatu respon yang diberikan oleh suaminya.


"Jadi sedari tadi kamu pura-pura? Bahkan membuat air mata ini jatuh sia-sia?"


Asgar buru-buru menggeleng lalu memperlihatkan mata puppy eyes-nya.


"Maaf, abisnya kamu perhatian banget saat aku sakit, maka dari itu aku pun membiarkan diri untuk menikmatinya," ucap Asgar jujur.


"Hih, dasar. Awas aja kamu, Mas."


Kediaman Keluarga Jiang.


Saat ini Adelle dan juga ibunya Nyonya Jiang yang justru tertawa bahagia saat mendengar jika Asgar terluka parah hingga dilarikan ke Rumah Sakit.


"Siapa suruh membuat kita malu, itu balasan yang pantas untukmu!"


"Betul sekali, baru mempunyai keberanian untuk mengobati orang ia sudah sombong."


Sepasang ibu dan anak itu tampak puas ketika memaki kebodohan Aurora. Sementara itu di lantai dua, Tuan Jiang kebetulan mendengar percakapan antara istri dan putrinya. Tampak sekali jika mereka sama sekali tidak menyukai kehadiran Asgar.


"Memangnya apa salah Asgar hingga membuat kalian tidak suka padanya. Bukankah ia juga telah berhasil mengobatiku?"


Rupanya Tuan Jiang mendekati mereka. Namun, pendapatnya bertentangan sehingga membuat sedikit percekcokan di sana.

__ADS_1


__ADS_2