
Asgar mengulum senyum ke arah nenek lalu mengulurkan tangannya. Dengan segera Asgar mencium punggung tangan Nyonya Besar Jiang sebagai bukti rasa hormat kepadanya.
Mendapati perlakuan lembut dari Asgar, sikap Nyonya Besar Jiang sempat melunak. Namun, suasana pesta sama saja tidak berubah dan masih terasa mencekam.
Tanpa rasa takut, rupanya Asgar langsung memperkenalkan dirinya di hadapan Nyonya Besar Jiang yang masih tertegun akan sikap dan keberanian yang ditujukan oleh Asgar.
"Saya Asgar, Nyonya. Seorang sosok suami dari cucu Anda yang bernama Aurora Adelaide."
Salah satu tangan Nyonya Besar Jiang menutup mulutnya yang seolah tidak percaya dengan apa terjadi di hadapannya.
"Ka-kau lelaki buta itu?" tanya Nyonya Jiang tampak terkejut dengan kehadiran Asgar.
Asgar tersenyum lalu mengangguk. Nyonya Besar Jiang langsung mengamati Asgar dari ujung kaki hingga kepala. Sepertinya ia mengingat seseorang ketika melihat ke arah Asgar.
"Kenapa seperti mengenal lelaki ini, tetapi dimana?"
Untuk sejenak Nyonya Besar Jiang rupanya telah mengingat siapa Asgar.
"Nyonya Besar, semoga panjang umur dan bahagia selalu," sapa Asgar ketika berdiri di depannya.
Seketika ingatan tentang Asgar kembali. Ia pun segera mendekati Asgar dan mengusap wajahnya.
"Kau cucu Kakek Surya bukan?"
"Benar sekali Nyonya."
"Ya ampun, ternyata kamu sudah besar. Rupanya kamu yang menikahi cucu perempuanku?"
"Iya."
"Syukurlah kalau begitu, setidaknya Aurora berada di dalam tanggung jawab pria yang tepat."
"Nyonya terlalu banyak memuji rupanya, tetapi jangan sampai membuat saya justru semakin besar kepala."
Nyonya Besar Jiang justru menepuk-nepuk bahu Asgar. Mengagumi dan bersikap ramah padanya.
__ADS_1
Asgar semakin terlihat bahagia. Pada saat itu Auora terlihat sangat kebingungan dengan interaksi Nenek dan juga suaminya, karena rupanya mereka berdua sudah saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi ia tidak tahu di mana dan kapan mereka bertemu. Bukan hanya Aurora saja, karena Billy pun merasakan hal yang sama.
"Bagaimana mereka bisa sedekat ini? Di mana mereka bertemu?" tanya Billy dengan penasaran.
"Aurora kemarilah!" panggil Nyonya Besar Jiang pada cucu perempuannya.
Nyonya Besar Jiang tampak menempel pada tubuh Aurora sambil berbisik.
"Nenek sangat menyetujui pernikahan kalian."
Kedua mata Aurora membola ketika mendapatkan persetujuan dari neneknya tentang pernikahannya dengan Asgar. Namun, di luar semuanya Aurora terlihat sangat bahagia karena dalam rumah tangannya bersama Asgar, sudah ada dua orang yang menerima pernikahan mereka.
Setelah cukup lama bercakap-cakap dengan Aurora dan Asgar, Nyonya Besar Jiang tampak menatap ke arah para tamu. Melihat suasana sudah lebih kondusif, ia pun permisi untuk masuk.
"Semuanya, karena kondisi saya sudah tua dan sekarang sudah sedikit lelah, kalian anak muda bersenang-senanglah."
"Terima kasih, Nyonya Besar."
Setelah mengucapkan hal itu, Nyonya Besar Jiang meminta undur diri untuk kembali ke atas karena terlalu lelah. Ketika salah seorang suster ingin mengantar Nyonya Besar Jiang kembali, rupanya Asgar menawarkan diri untuk membantu Nyonya Besar Jiang masuk ke dalam kamar. Beruntung Nyonya Besar Jiang mengizinkan Asgar menemaninya.
Sepanjang perjalanan Asgar menanyakan bagaimana kondisi kesehatan nenek karena terakhir kali saat ia bertemu dengan kakeknya Nyonya Jiang mengeluhkan persendiannya sedang sakit. Beruntung Asgar telah memberikan obat berharga miliknya pada Nyonya Besar Jiang sehingga ia lebih merasa tenang.
"Tentu, oh ya, kenapa tadi kamu menyuruhku untuk menyembunyikan identitasmu pada orang-orang?"
"Sebenarnya hal ini karena ada se--"
Asgar tampak menggantung kalimatnya. Setelah dirasa aman, ia mulai mengatakan alasannya kenapa sangat menjaga privasinya kali ini. Asgar juga menceritakan bagaimana kesulitannya ketika ia kehilangan penglihatan selama beberapa tahun ini. Hingga akhirnya penglihatannya bisa kembali.
Tentu saja semua alasan yang dikemukakan Asgar bisa diterima olehnya. Nyonya Besar Jiang berjanji akan menjaga privasi Asgar selama ini.
"Ternyata seperti itu. Baiklah kalau begitu, privasimu terjaga pada Nenek. Jika kamu bertemu kakekmu tolong sampaikan salamku padanya."
"Baik, Nek. Kalau begitu kami permisi."
"Tolong jaga cucuku sebaik mungkin."
__ADS_1
"Baik, Nek."
Berbincangan Asgar dan juga Nyonya Besar Jiang ternyata tidak terlalu lama. Asgar lebih memilih untuk segera kembali kepada istrinya dan membawanya pulang karena suasana dan kondisi pesta sudah tidak memungkinkan.
Di sepanjang perjalanan, mulut Aurora terasa gatal ingin bertanya sebenarnya hubungan apa yang dijalin antara dirinya dan sang nenek. Kenapa sang nenek bukannya marah kepada Asgar melainkan seolah sudah cukup akrab terhadapnya.
Namun Asgar tidak mengatakan apapun. Ia hanya menanggapi pertanyaan istrinya dengan sebuah senyuman. Tentu saja Aurora merasa tidak senang, lalu berpura-pura marah pada Asgar.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menceritakan hal itu jangan harap kamu bisa tidur satu kamar denganku!" ucap Aurora dengan kesal.
"Maaf, Sayang belum waktunya kamu mengetahui rahasia ini," ucap Asgar di dalam hatinya.
Meskipun begitu Asgar berjanji jika waktunya nanti sudah siap, ia akan mengatakan semuanya pada Aurora. Tugas Asgar masih banyak, ia harus memastikan keselamatan istrinya terjamin.
Misteri dalang tentang siapa pelaku yang telah membuat kedua matanya buta juga belum terpecahkan sehingga Asgar harus menjaga sikap dan gerak-geriknya selama ini.
Meskipun Asgar masih merahasiakan semuanya, akan tetapi Aurora masih mengucapkan terima kasih padanya. Perjalanan panjang mereka lalui dengan lancar. Baru ketika mereka sampai di rumah, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa seperti ada yang tertinggal ya, Mas?"
Asgar menepuk keningnya seraya menoleh.
"Sepertinya kita meninggalkan Ibu dan Adelle di sana."
"Astaga, trus bagaimana ini. Bahkan kunci rumah pun dibawa oleh mereka?"
Sejenak keheningan dan ketegangan terjadi di dalam mobil. Lalu berganti dengan gelak tawa kemudian. Sementara itu di dalam pesta Nyonya Besar Jiang, Ibu dan adik iparnya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa mobil kita tidak ada di sini?"
"Jangan-jangan dibawa menantu sialan itu?"
"Astaga, bagaimana ini Bu. Kita pulang dengan apa?"
"Tenanglah, biar ibu telepon Aiden. Siapa tahu ia bisa mengantarkan kita kembali?"
__ADS_1
Adelle hanya mengedikkan bahunya lalu dengan segera bergerak menjauh karena tiba-tiba saja hujan salju.
"Ya Tuhan, derita apalagi ini?"