
Rupanya Asgar benar-benar melakukan apa yang menjadi keinginannya. Saat ini ia sedang bersiap untuk mengambil hadiah kotak emas yang berisikan dua buah pil berharga itu. Keinginan untuk menyimpan hadiah itu sirna ketika melihat istrinya.
"Lebih baik hadiah ini dipergunakan untuk Aurora. Ia jauh lebih membutuhkan barang ini agar mendapatkan kepercayaan penuh dari nenek."
Asgar berpikir jika menyerahkan hadiah itu mungkin bisa menyelamatkan posisi Aurora agar mendapatkan posisi kepemimpinan cabang. Jika itu terjadi sudah pasti akan membuat istrinya senang.
Asgar sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan dirinya, tetapi lebih mementingkan kebahagiaan Aurora. Baginya senyum Kimora adalah penyemangat untuknya.
Tanpa memberitahukan isi dari hadiah yang dipersiapkan oleh Asgar pada istrinya. Ia lebih memilih untuk ikut hadir dalam acara tersebut dan memberikan hadiahnya saat sudah berada di dalam pesta.
Hari yang ditunggu tiba. Akhirnya pesta ulang tahun nenek dari Aurora sudah tiba. Kini Aurora sudah berdandan dan bersiap untuk datang ke tempat tersebut bersama dengan keluarga besarnya. Tidak lupa Asgar juga turut ikut di dalamnya namun ia datang secara diam-diam. Tidak menjadi satu rombongan dengan Aurora.
Pada malam itu Aurora mengenakan gaun yang sangat indah, hingga memukau mata para hadirin yang hadir di sana. Hampir semuanya memuji kecantikan Aurora.
"Gaunnya indah sekali?"
"Siapa wanita itu?"
"Cantik sekali."
Berbagai pujian dilontarkan saat melihat kedatangan Aurora. Semua para tamu undangan seolah tersihir dengan kehadiran Aurora bahkan Asgar yang menjadi suaminya pun juga merasakan hal yang sama. Ada sebuah rasa kebanggaan ketika kedua matanya pulih hingga ia lebih bisa menjaga istrinya.
Hingga beberapa saat kemudian saudara sepupu laki-laki dari Aurora melihatnya. Ia tersenyum mengejek saat memanggil namanya. Salah satu tangannya pun masih memegang gelas berisi wiski.
"Hai Aurora, rupanya kau masih punya muka untuk datang ke dalam pesta ulang tahun nenek?"
Sontak saja Aurora menoleh ke arahnya.
"Hai Billy, apakabar?"
"Untunglah kau masih mengingatku. Hm, apakah kau datang ke sini untuk menjilat nenek? Kau tidak akan pernah bisa menang dariku."
Seketika pandangan orang-orang mulai menyudutkan Aurora. Terlebih dengan reputasinya yang sudah memburuk sejak ia lumpuh dan menikah dengan Asgar.
"Oh, rupanya dia Auora. Bukankah dia lumpuh? Sejak kapan kakinya sudah pulih?"
"Dimana suaminya yang buta dan tidak berguna itu?"
Pujian yang awalnya muncul kini berganti dalam sekejap dengan berbagai hujatan yang mengiringi langkahnya. Nyonya Jiang dan Adelle yang berjalan di belakang membiarkan putrinya menjadi bahan gunjingan para tamu.
__ADS_1
"Sudah dibilang nggak usah datang masih ngeyel, ya begitulah akibatnya kalau tidak menurut apa kata Ibu."
Adelle bergelayut manja kepada ibunya.
"Benar, sudah-sudah biarkan saja dia di sana. Sebaiknya kita menjauh dari Kakak."
Tangan Aurora tampak mengepal karena memendam amarah. Wajahnya kini tampak kesal tetapi yang bisa membaca ekspresi dari istrinya hanyalah Asgar.
"Sudah cukup, semua memang salah. Seharusnya tidak usah datang kesini."
Bahkan semua orang menganggap kehadiran Auora sudah memalukan keluarga besar sang nenek. Asgar masih belum muncul karena masih bersembunyi di belakang. Terpaksa ia hanya bisa berdiri di sudut ruangan ketika semua orang menghina istrinya karena takut jika kedatangannya justru semakin mengacaukan situasi di sana.
Padahal ia tahu pasti istrinya juga menjadi terhina karena menikah dengan Asgar. Di sisi lain, Billy semakin mendekati Aurora dan mengejeknya habis-habisan.
"Kenapa kau diam saja! Apakah tuduhan semua orang yang dilontarkan kepadamu itu benar, ha ha ha ...."
Billy tampak menertawakan kehadiran saudara sepupu perempuannya itu.
"Tubuhmu tidak pantas kau balut dengan gaun yang mewah seperti itu, karena sampai kapan pun kau akan tetap menjadi sampah dari Keluarga Li!"
Aurora tidak tinggal diam.
Billy semakin mendekati Aurora dan menyentuh gaunnya.
"Bukankah gaun ini adalah keluaran terbaru dari JW. Roulette. Apakah kau mencuri gaunnya? Atau kau sudah tidur dengan pemiliknya?"
"Jaga ucapanmu Bill, kau juga tidak pantas menyentuh gaun ini!"
"Singkirkan tanganmu, sekarang!"
"Ulala, rupanya rubah betina mulai marah ya?" ejek Billy pada Aurora.
Tiba-tiba datang adik perempuan Billy.
"Kak, tidak usah memperdulikan dia. Lagi pula gaun yang dipakai olehnya tidak mungkin barang asli. Mana mungkin ia memakai barang keluaran terbaru yang harganya sangat fantastis itu."
"Betul juga apa yang kamu katakan. Aku yakin jika dia memakai barang palsu."
Sontak para tamu undangan kembali menyudutkan Auora.
__ADS_1
"Bisakah kau melihatnya, setelah menikah dengan pria buta bukannya kehidupan berubah menjadi lebih baik tetapi justru semakin memburuk."
"Sampai-sampai dia tidak mampu membeli gaun, tetapi memaksa datang ke dalam acara sepenting ini."
"Kalau jadi dia, lebih baik berdiam diri saja di rumah. Tidak perlu melawan posisi Billy karena sudah pasti dia yang akan menjadi kepala cabang."
"Tampaknya Aurora tidak melihat-lihat keadaan. Mengenakan gaun palsu untuk menarik perhatian semua orang. Sunggu memalukan!"
"Betul juga."
Hingga beberapa saat kemudian terdengar tawa riuh dari para tamu undangan. Adik Billy bahkan menawarkan gaun bekas miliknya yang masih layak pakai agar bisa dipakai oleh Aurora.
Adik Billy mendekati Auora dan menyiramkan satu gelas wiski ke arah gaun yang dipakai oleh Aurora. Namun, tangannya tiba-tiba dicekal oleh Asgar. Ia tampak menghalangi niat wanita itu saat ingin mengotori baju istrinya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu!"
Tampak sekali tangan Adik Billy dicengkeram erat oleh Asgar hingga ia mengaduh kesakitan.
"Apapun yang dipakai Auora kau tidak berhak untuk menghinanya!"
Asgar yang semula ada di belakang sudah tidak bisa tinggal diam. Apalagi gaun itu dia yang membelikannya untuk Auora. Sehingga tidak ada yang boleh menggertak atau merendahkan Aurora.
"Hei lelaki asing, kenapa kau justru membela wanita ini. Aku rasa kau juga bukan berasal dari keluarga berada. Beraninya kau datang ke dalam acara pesta ulang tahun nenekku!"
Asgar masih terlihat tenang saat itu. Di tambah lagi semua orang belum mengetahui identitas Asgar yang sesungguhnya. Billy yang merasa di abaikan segera mendekati Aurora.
"Apa urusannya kau mengatur hidup orang lain. Bukankah sebaiknya kamu memikirkan hidupmu sendiri daripada mengurusi istri orang."
"Istri orang? Apakah yang kamu maksud itu lelaki buta tidak berguna itu?"
"Ya, apakah kalian tahu dimana lelaki buta itu saat ini?"
Tampak semuanya menggeleng. Mereka hanya tahu kabarnya karena kasak kusuk di belakang. Namun, untuk melihat wajahnya, rupanya belum pernah ada yang melihat wajah Asgar.
Billi justru tersenyum mengejek.
"Memangnya kenapa, lagi pula kamu tidak perlu mengenal lelaki buta tidak berguna itu. Bagi kamu jika bertemu dengannya justru takut terkena sialnya!"
Aurora berharap-harap cemas saat ini. Di tambah lagi Asgar ingin menunjukkan dirinya dengan depan umum.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya Aurora sambil terus merasa was-was.