MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 13. MAAF NEK


__ADS_3

Betapa terkejutnya Aurora ketika mendapati neneknya ada di belakang dan melihat semua kejadian yang terjadi di lantai satu barusan.


"Apakah nenek melihat semuanya? Bagaimana ini?"


Tangan Aurora terlihat gemetar dan mengeluarkan keringat dingin karena rasa takut pada Nyonya Besar Jiang yang terlampau besar. Didikan dari neneknya memang sangat ketat melebihi semua hal dari ibunya sendiri. Maka dari itu Auora boleh dibilang lebih dekat dengan nenek daripada dengan ibunya sendiri.


Aurora sangat takut untuk menatap neneknya. Bahkan untuk menoleh pun ia tidak berani. Pikirannya mendoktrin dirinya agar berdiam diri di sana.


Apalagi hal yang barusan tentu membuat pandangan buruk terhadapnya semakin bertambah dari sang nenek. Mungkin saja beliau juga akan semakin meragukan kemampuan dirinya untuk mengurus salah satu cabang perusahaan miliknya.


Langkah kaki Nyonya Besar Jiang semakin cepat, hingga beberapa saat kemudian ia telah sampai di lantai bawah. Pandangannya menyisir ke seluruh ruangan dan hingga sampailah ia pada seorang gadis yang terdiam di ujung ruangan.


Tatapan nyalang diberikan oleh Nyonya Besar Jiang kepada seluruh tamu di sana, lalu ia bertanya ada kejadian apa sehingga di lantai satu sangat ramai dan berisik.


"Kenapa semua tampak riuh? Kejadian apa yang membuat kalian sampai tidak fokus pada pesta dan justru lebih menghabiskan waktu untuk mengomentari dan menyudutkan seseorang?"


Ketika Nyonya Besar Jiang mulai berbicara maka tidak ada satu suara pun yang mampu menandinginya. Hening bahkan suara nafas dari setiap tamu undangan tidak terdengar.


Langkah kaki Nyonya Besar Jiang akhirnya menuntun dirinya sampai ke tempat Auora berdiam diri.


"Ka-kau siapa?"


Aurora akhirnya menoleh dan memberanikan diri menatap neneknya.


"Ka-kamu ...."


Nyonya Besar Jiang terlihat tidak terlalu ramah kepadanya. Tidak tampak tersenyum dan justru tatapnya mengintimidasi Aurora.


"Rupanya kau masih mengingat hari ulang tahun nenek?"


Aurora tampak tersenyum, lalu mencoba menatap neneknya.


"Tentu, Nek. Hari ulang tahunmu tidak mungkin kami lupakan."


Nyonya Besar Jiang tersenyum sinis. Lalu kembali berkomentar pedas pada cucunya itu.


"Bertahun-tahun tidak kembali, saat kembali justru membuat keributan di hari sepenting ini!" tegur nenek secara langsung pada cucunya itu.


"Ini yang kamu maksud merawat kepercayaan dari nenekmu?'


Aurora kembali cemas karena dari tanggapannya beliau tidak suka pada Aurora.

__ADS_1


Billy yang masih berada di sana tersenyum penuh kemenangan sambil menatap ke arah Aurora. Ia merasa jika saat ini nenek pasti membelanya.


"Hei, rasanya sangat menyenangkan ketika melihat nenek yang ingin melahap orang, sudah pasti beliau tidak akan memaafkan Aurora."


"Betul, kita tunggu sampai di mana ia bisa bertahan!" cibir yang lainnya.


Asgar masih berdiri di tempatnya. Ia memang baru pertama kali melihat nenek dari istrinya itu. Kini ia segera memperhatikan dengan seksama nenek dari pihak istrinya itu.


"Inikah Nyonya Besar Jiang yang terkenal dengan kemampuan bisnisnya itu?" gumam Asgar menatap penuh kekaguman pada Nenek Jiang.


Nyonya Besar Jiang tampak masih terlihat marah. Meskipun begitu saat ini beliau masih tampak masih begitu sehat meski sudah berusia lanjut.


"Syukurlah kesehatan nenek sudah membaik," ucap Aurora di dalam hati.


Rupanya Nyonya Besar Jiang semakin mendekati Aurora yang diam mematung. Tepat ketika mereka berada bersandingan, Nyonya Besar Jiang berbisik pada Aurora.


"Kenapa kamu mendiamkan Nenek? Apakah kau tidak kangen dengan Nenek?"


Tentu saja ucapan dari Nyonya Besar Jiang membuat Aurora terbangun dari lamunannya dan menatap penuh kerinduan pada Nyonya Besar Jiang.


Billy dan adiknya berdiri bersebelahan sambil tersenyum mengejek.


"Benar, tunggulah di sini. Kita akan melihat bagaimana Auora dipermalukan oleh nenek setelah ini."


"Heh! Siapa suruh tadi kamu sangat sombong dan juga memaksa untuk meminta maaf di depan orang banyak!" ucap Billy dengan berapi-api.


Seketika pandangan orang-orang langsung berubah dan kembali menyudutkan Aurora.


"Sepertinya rumor tentang Aurora benar."


"Nyonya Besar Jiang pasti marah besar saat ini."


Kasak kusuk yang beredar di sekitar ruangan itu benar-benar membuat Auora jengah. Akan tetapi ia tetap menghormati sang nenek.


"Ka-kamu ...." ucap Nyonya Besar Jiang saat mengingat siapa Asgar.


Salah satu tangan Nyonya Besar Jiang terangkat ke atas seolah hendak menampar pipi Aurora, karena ketakutan ia pun memejamkan kedua matanya dan bersiap untuk menerima tamparan dari sang nenek. Bahkan Billy dan yang lainnya sudah tersenyum sambil menunggu pertunjukannya spektakuler itu.


"Aurora kamu kalah ...." ucap Billy senang.


Rupanya ketakutan semua orang tidak terbukti karena ternyata Nyonya Besar Jiang justru mengusap kepala Aurora dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Kamu, kenapa baru datang sekarang? Apakah nenek pernah melarang kamu untuk masuk ke dalam rumah ini?"


Tentu saja Aurora dan yang lainnya terkejut.


"Nenek ...."


Aurora yang terharu segera berhambur memeluk neneknya. Ia tidak menyangka jika sang nenek sama sekali tidak pernah membencinya karena telah menikahi lelaki buta seperti Asgar.


"Ke-kenapa dia tidak dimarahi nenek?"


Asgar berharap jika istrinya tidak mendapatkan kemarahan neneknya lagi. Jika sampai terusir sekali lagi maka sudah pasti istrinya tidak akan mendapatkan kepercayaan darinya lagi.


"Semoga nenek bahagia dengan kedatanganmu, Sayang," doa Asgar tulus di dalam hati.


Merasa jika neneknya akan memarahi istrinya, Asgar bergegas mendekati mereka dan menyerahkan sebuah kotak hadiah berlapiskan emas kepada Nyonya Besar Jiang.


"Selamat hari ulang tahun, Nenek," sapa Asgar pada nenek dari pihak istrinya itu.


"Nenek ini adalah hadiah yang telah dipersiapkan oleh Aurora untukmu. Semoga nenek selalu sehat," ucap Asgar sambil menyerahkan sebuah kotak kepada Nyonya Besar Jiang.


"Hm, terima kasih," jawabnya singkat.


Untuk sejenak Asgar dan Nyonya Besar Jiang tampak saling mengamati satu sama lain. Seolah keduanya pernah saling bertemu di suatu tempat.


Ketika Nyonya Besar Jiang mengingat dirinya, Asgar tersenyum ramah. Namun, para tamu sama terkejutnya dengan Billy. Suasana yang semula diharapkan menegangkan, ternyata justru semakin membuat semua orang menerka-nerka perilaku Nyonya Besar Jiang kepada Aurora.


"Kenapa jadi begini?" ucap mereka tampak kecewa.


Ketika kenyataan tidak sesuai bayangan mereka akhirnya membuat cerita yang bagus dan sesuai. Maka dari itu tidak baik jika mereka terlalu cepat dalam berasumsi pada kejadian ini.


"Jadi Nyonya Besar bukan mencoba untuk memukul Aurora?"


"Kita salah mengira, hubungan mereka jelas baik-baik saja."


"Jadi rumor-rumor itu hanya hoax, rugi mempercayainya."


Nyonya Besar Jiang tampak sekali sayang pada Auora. Sangat berbeda dengan yang dipikirkan oleh orang-orang. Setelah puas bersama Aurora, kini Nyonya Besar Jiang menoleh ke arah Asgar.


"Siapa kamu? Kenapa tidak pernah melihatmu?"


"A-aku adalah ...."

__ADS_1


__ADS_2