MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 21. SALAH TEMPAT


__ADS_3

Sepertinya kebaikan hati Asgar mendapatkan respon yang luar biasa dari Aurora. Namun, kebaikan hatinya justru membuat Adelle salah paham.


"Kalau kakak bisa mendapatkan Asgar maka tidak salah juga kalau kami bersama."


Pemikiran Adelle memang cukup dangkal sehingga ia tidak mampu untuk menyortir dimana yang benar dan salah. Bagaimana pun Asgar hanya bersikap selayaknya melindungi adik iparnya.


Sambil mematut dirinya di depan cermin, Adelle pun berbicara dengan dirinya sendiri.


"Sepertinya menjadi lebih cantik secara alami itu akan lebih baik."


Setelah sekian lama memberikan kesempatan pada Asgar untuk membantunya, membuat dirinya justru jatuh cinta padanya. Pada saat yang sama ternyata Asgar banyak sekali mendapatkan kesempatan baru dari istrinya.


"Akhirnya penantian panjang ini berakhir, karena bagaimana pun ia harus menjadi yang terbaik untuk keluarga kecil kami."


Asgar tampak menciumi foto Aurora. Secara tidak sengaja rupanya Aurora melihatnya. Sehingga ia pun bersembunyi di balik pintu kamarnya.


Aurora tahu jika perlakukan manis Asgar tidak selalu kentara. Maka dari itu Auora membiarkan suaminya bergerak sesuai isi hatinya, yang terpenting saat ini mereka tetap bisa bersama.


"Bukankah Asgar sangat pandai dalam menyembuhkan orang sakit? Lalu kenapa tidak digunakan untuk menghasilkan dan membantu orang lain?"


Tangannya mengetuk-ngetuk dagunya.

__ADS_1


"Seharusnya menjadi yang terbaik bukanlah sesuatu yang buruk. Lagi pula Asgar tidak pernah membuatku kecewa."


Setelah memastikan wajah dan penampilannya baik-baik saja, maka Aurora segera pergi meninggalkan kamarnya untuk menemui Asgar. Ia sudah tidak sabar untuk mengatakan keinginannya itu.


Sesekali Aurora tampak tersenyum lebar, lalu masih terlihat malu-malu saat melangkah. Sampai di depan pintu kamar, ia pun mengetuk pintu lebih dulu.


"Assalamu'alaikum, bolehkah masuk."


Asgar menoleh, "Silakan masuk. Maaf bukankah ini juga kamar kit--"


Saat Asgar hendak berbicara justru jari telunjuk Aurora menyentuh bibir Asgar. Langkahnya mendekat lalu mulai mendekatkan wajahnya ke depan suaminya.


"Ka-kamu mau apa, Sayang ...."


Asgar lalu mulai mendekati tubuh istrinya. Mulai merapatkan tubuhnya hingga beberapa waktu kemudian keduanya mulai terlarut dalam nuansa romantis yang menggelora.


Beberapa saat kemudian.


Saat mengetahui kemampuan Asgar untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kini ia pun memberikan saran bagaimana kalau suaminya membuka toko obat. Namun hal itu ditepis oleh Asgar dan ia lebih memilih untuk mengantar jemput istrinya pergi ke kantor.


"Memangnya kamu tidak ingin seperti orang lain yang justru semakin suka jika diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat miliknya."

__ADS_1


Asgar yang masih tampak cuek hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan dari istrinya.


"Tidak, lebih baik aku menjaga keselamatan istriku sendiri daripada membiarkannya diserang oleh orang yang tidak suka padanya."


"Benarkah?" tanya Aurora tampak tersipu.


"Betul, lebih baik seperti itu daripada membiarkan kamu bersama dengan yang lain."


"Apakah itu artinya kamu cemburu?"


Aurora tampak berharap-harap cemas terhadap ucapan dari suaminya. Namun, rupanya Asgar tidak seheboh Aurora. Asgar tampak menyembunyikan rasa cintanya dengan lebih banyak memberi perhatian daripada memperlihatkan secara langsung.


Tentu saja Aurora yang terbiasa dikelilingi lelaki kaya dan memanjakan dengan segala kasih sayang merasa berbeda ketika bersama Asgar. Jika biasanya mereka suka memberikan bunga. Asgar justru mengajaknya untuk makan bersama di rumah.


"Hai, kenapa melamun? Bukankah ini sudah siang?" sapa Aiden yang rupanya justru semakin mendekati Aurora meski dilarang Asgar.


"Ma-mau apa kau kemari?"


"Tentu saja aku ma--"


Tiba-tiba sebuah cengkraman tangan menahan gerak Aiden yang langsung memucat ketika ia menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Ka-kau ..."


Siapakah dia? Simak di up selanjutnya ya


__ADS_2