MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 15. TERLUKA


__ADS_3

Rupanya kesehatan Tuan Jiang sudah dinyatakan membaik setelah perawatan yang dilakukan oleh Asgar.


"Syukurlah, akhirnya Ayah sudah pulih."


"Semua karena Asgar suami kamu."


Aurora tersenyum menanggapi ucapan dari ayahnya. Ia merasa jika sang Ayah sudah memberikan restu tentang pernikahan dengan Asgar.


Sementara itu Aiden merasa malu karena ia justru sempat membuat kesehatan Tuan Jiang menurun drastis hingga Auora memasang garis keras agar Aiden tidak bisa mendekati ayahnya lagi.


"Jika kedatanganmu ke sini hanya untuk mencari perhatian dariku, maka kamu salah. Karena semua itu tidak akan sama."


"Tapi Aurora, beri aku kesempatan satu kali lagi."


"Tidak akan pernah, sebaiknya kamu pergi dari sini!"


Merasa jika usahanya gagal, Aiden memilih menjauh untuk sementara waktu. Demi mewujudkan rasa cinta yang begitu mendalam demi Aurora, Aiden sebenarnya bisa melakukan apapun.


Beberapa hari yang lalu. Rupanya Aiden tampak masih menyimpan dendam pada Asgar.


"Semua gara-gara Asgar si pria buta tidak berguna itu. Kenapa matanya bisa sembuh! Aargghhhh!"


Aiden tampak menghamburkan barang-barang yang berada di atas meja. Tampak sekali ia tidak bisa membendung kemarahannya. Hingga beberapa saat kemudian, ia tampak menemukan sebuah ide. Di tambah lagi ia sudah mendapat dukungan dari Nyonya Jiang.


"Bagaimana kalau kau mencoba menyingkirkannya besok?" ucap Nyonya Jiang pada Aiden.


"Ma-maksud Nyonya?"


Nyonya Jiang tampak tersenyum lalu membisikkan rencananya pada Aiden. Setelah paham dengan rencana yang ditunjukkan pada Asgar maka Aiden pun tersenyum lebar.


"Baik, biarkan besok Asgar kita eksekusi bersama-sama."


Sementara itu di kamar Aurora dan Asgar, kedua sepasang suami istri itu saling memahami satu sama lain. Mereka tampak tiduran di atas tempat tidur yang sama dengan sebuah guling sebagai pemisah di antara keduanya.


"Kenapa kau terlihat bahagia?" tanya Asgar melihat istrinya tersenyum lebar saat melihatnya.

__ADS_1


"Memangnya tidak boleh bahagia?" ucap Aurora sambil menatap malu-malu karena tatapan mereka saling beradu.


"Boleh, apa yang tidak boleh dilakukan oleh istriku ini."


Rasanya Asgar tidak terlalu berani berdekatan dengan Auora. Meski mereka sudah sedikit akrab tetapi Asgar tetap menjaga batasannya.


Begitu pula dengan Auora yang merasa canggung ketika harus berduaan di dalam kamar. Maka dari itu guling menjadi solusi ketika mereka harus tidur bersama di atas kasur.


Tiba-tiba Asgar teringat akan sesuatu. Berapa hari yang lalu saat ia tidak sengaja melewati sebuah gang ia melihat toko roti yang enak. Sebenarnya waktu itu ia ingin membelikannya untuk Aurora.


Akan tetapi karena takut tidak suka maka ia pun mengurungkan niatnya. Saat ini sepertinya saat yang pas untuk menanyakan apakah Aurora menginginkan camilan malam atau tidak.


"Apakah kamu suka kue yang manis?" tanya Asgar sambil menoleh ke arah istrinya.


"Suka sih tapi lebih suka kue mochi karena lembut di dalam dan lumer di luar."


"Kebetulan ada sebuah toko yang baru buka.


Apakah kamu mau mencicipi masakan di sana?"


"Tentu tidak, mau dibelikan sekarang?"


"Boleh, kalau tidak merepotkan."


Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, maka kini Asgar segera bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kakinya untuk keluar rumah pada saat itu juga. Pada saat yang bersamaan Nyonya Jiang mengetahui hal itu lalu menyuruh Aiden untuk membayar orang suruhannya menghajar Asgar di jalanan.


"Terima kasih, Nyonya. Tugas yang Anda berikan akan dilakukan dengan sebaik mungkin."


"Bagus, tidak boleh ada sesuatu hal yang kurang dari itu atau kamu akan menerima akibatnya."


Setelah memastikan semua berjalan aman, Aiden bergegas untuk menyuruh orang suruhannya. Mereka telah bersiap-siap di ujung jalan guna menunggu Asgar untuk melewatinya. Sesuai dengan perkiraan Nyonya Jiang ternyata menantunya tersebut benar-benar melewati gang tersebut. Lalu beberapa preman tersebut bersiap untuk menghajar Asgar di sana.


"Hei pemuda, tampaknya kau sedang bersiap untuk pulang. Bagaimana kalau kita bermain-main terlebih dahulu. Sepertinya menyenangkan sekali bermain denganmu di sini."


"Kenapa tidak?" ucap Asgar tanpa rasa takut.

__ADS_1


Beruntung sewaktu kecil kakek Surya sudah mengajarkan ilmu beladiri kepada Asgar. Sehingga pada saat genting seperti ini ia mampu menghajar para preman tersebut hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Merasa jika posisi mereka terancam maka kepala preman langsung mengarahkan senjata tajamnya ke arah Asgar.


Sebuah pisau berukuran kurang lebih lima belas centi kini mengarah ke perut Asgar. Hingga beberapa saat kemudian Asgar terjatuh ke jalanan berlapis aspal tersebut dengan bersimbah darah.


"Lihat, dia sudah tumbang."


"Betul, kalau begitu sebaiknya kita segera pergi!"


Merasa jika target mereka sudah kehilangan tenaga dan lemah. Kini mereka meninggalkan dan membiarkannya terbaring lemas di atas jalan.


Sementara itu di Kediaman Keluarga Jiang, rupanya foto pernikahan antara Asgar dan Aurora yang terpasang di dinding kamar, tiba-tiba saja terjatuh. Hingga terdengar denting pecahan kaca yang berbunyi nyaring saat beradu dengan lantai.


Aurora yang baru saja keluar dari kamar mandi kini terkejut dengan hal itu, lalu bergerak untuk mendekatinya.


"Kenapa firasatku tidak enak begini?" gumam Aurora.


Ingin menepis semua keraguan, rupanya justru semakin membuat Aurora berpikiran buruk.


Sementara itu, para preman yang telah berhasil melumpuhkan Asgar kini segera melarikan diri.


"Target berhasil dilumpuhkan, Bos. Sekarang tugas kami apalagi?"


"Pulang dan istirahatlah! Yakinkan jika mobil kalian tidak mempunyai ciri-ciri yang melanggar


Dengan segera mereka melaporkan hal tersebut pada Aiden. Hingga beberapa saat kemudian tawa puas terdengarr di sana.


"Kamu kira bisa melawanku? Kau itu hanya secuil sampah yang tidak berguna dan selalu merepotkan oleh orang lain kalau bukan aku yang menyingkirkanmu lalu siapa lagi."


Aiden tampak puas terhadap tindakannya kali ini. Ia pun melaporkan hal tersebut kepada Nyonya Jiang yang dianggap sebagai sebuah cara tepat untuk mendapatkan kembali hati Aurora.


"Kalau begitu tunggu kabar baik dariku, maka kau akan bisa bertemu dengan tanpa dibenci olehnya dan dia akan terima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan hidupnya dari Asgar."


"Baik, terima kasih Nyonya untuk restu yang telah engkau berikan kepadaku."


"Sama-sama."

__ADS_1


__ADS_2