
Tepuk tangan riuh terdengar, saat gambar animasi Yana bergerak. Yana turun dari panggung, setelah selesai menunjukkan karyanya.
"Selamat Yana, karya kamu luar biasa." ujar Ronal.
"Darimana tahu, kalau karyaku luar biasa." jawab Yana.
"Aku dapat merasakannya." ucap Ronal.
"Heheh..." Hanya terkekeh.
"Cie, nyaman banget tuh." Febby berbisik.
”Ntah kenapa, aku sedikit tidak takut dengan Ronal. Apa mungkin, karena dia buta.” batin Yana.
Yana dan Febby memutuskan untuk pulang, setelah beberapa jam di sana. Mereka mengendarai mobil, hingga sampai ke rumah. Pintu rumah terbuka, ternyata si Kaila yang berdiri.
"Kakak, cepat sini." Kaila melambai-lambai, agar Yana mendekat ke arahnya.
"Ada apa Kaila?" tanya Yana.
"Kakak Chaka dari tadi belum tidur. Pasti dia sedang menunggu Kakak pulang. Ajakin main sana, kasian dia." jawab Kaila.
"His, apaan sih kamu. Kakak mau kembali ke kamar saja." ujar Yana, sambil melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Jangan lupa tusuk sate." Kaila berteriak.
”Apa coba maksudnya tusuk sate, ada-ada saja. Sudahlah, dengan anak somplak jangan banyak bicara.” batin Yana.
Chaka terlihat tidak memperhatikan Yana, yang baru saja pulang. Padahal sebenarnya, mata kecilnya awas.
"Sudah pulang?" Masih fokus melihat layar televisi.
"Sudah." jawab Yana.
Suara itu membuat Yana bergemetar, bukannya takut tapi enggan. Meski dengan Chaka Yana sedikit berani, bila hanya sekedar bicara. Tidak ada pilihan lain, selain menjawab sesingkat-singkatnya.
"Kenapa pulang selarut ini?" tanya Chaka.
"Aku tahu, aku tidak memiliki hak apapun. Tapi dengan cara kamu seperti ini, telah membuat diriku risau. Aku takut, ada apa-apa dengan dirimu di jalan." ujar Chaka.
"Tidak ada apa-apa juga, lagipula bukan urusanmu." jawab Yana.
Chaka memegang kedua pundaknya, lalu Yana memejamkan matanya. Dia benar-benar takut, bila laki-laki menatapnya. Dia seperti mengingat kejadian-kejadian seram.
"Jangan sentuh aku!" Yana berteriak.
"Yana, kamu jangan terlalu percaya diri. Aku ini cuma takut disalahkan oleh orangtuamu, kalau terjadi apa-apa sama kamu." jelas Chaka.
__ADS_1
Yana menghempaskan tangan Chaka, lalu segera berlari ke kamar. Chaka geleng-geleng kepala, melihat kelakuan Yana. Pintu kamar ditutup sampai berbunyi, dan tidak lupa pula dikunci rapat. Tubuh Yana berkeringat dingin, karena memegang tangan Chaka.
"Mengapa kau jadi satpam rumah sekarang? Sibuk sekali mengatur ini dan itu." gerutu Yana.
Yana merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur, sebelum sempat mengganti baju. Dia tidur dengan mengenakan pakaian pergi ke pesta tadi.
Keesokan harinya, keluarga besar itu sarapan bersama. Tasya dan Devin heran, melihat Yana yang makan sendiri. Dia tidak mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.
"Kenapa kamu melupakan kewajiban seorang istri, romantis sedikit dengan suami." goda Devin.
"Papa, aku tidak suka pada Chaka. Namun, kalian lah yang memaksaku." jawab Yana.
"Papa, jangan terlalu keras karena dia masih dalam masa trauma." sahut Tasya.
"Iya Ma, Papa hanya terbawa perasaan." jawab Devin.
Kaila berpamitan untuk pergi bersama Kaihan, lalu setelahnya membiarkan ruang makan tanpanya. Yana segera keluar rumah, saat mendengar suara Febby.
"Yana, kamu sudah siap?" tanyanya.
"Sudah Febby, aku sudah bersiap dari tadi pagi." jawab Yana.
"Kalau gitu, ayo kita berangkat." ajak Febby.
__ADS_1
"Iya, tunggu sebentar." Yana berjalan masuk, untuk mengambil tasnya.