Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Demo Depan Rumah


__ADS_3

Siswa dan Siswi SMP Bintang Cerah demo ke rumah Kaila. Mereka sengaja melakukannya pada malam hari. Suara riuh terdengar di luar rumah, namun Tasya dan Devin tidak ada.


"Kaila, kenapa temanmu demo di depan rumah. Kamu sudah ngapain mereka?" tanya Yana.


"Aku tidak ngapa-ngapain mereka Kak. Dasarnya saja tuh, teman-teman aku alai semua." jawab Kaila berbohong.


"Tidak ada asap, kalau tidak ada api." ujar Yana spontan.


"Aku memang tidak ngapa-ngapain Kak." Kaila masih mengelak.


Chaka terlihat keluar dari ruangan kerjanya, dia menghampiri Yana dan Kaila yang melihat ke arah luar kaca jendela.


"Ada apa di luar?" tanya Chaka.


"Kak, tolong larang teman sekelas ku demo." Kaila mengatupkan telapak tangannya.


"Kakak tidak mau, kamu yang mencari masalah kok." ujar Chaka.


"Kak Chaka tampan dan baik deh. Please iya Kak, tolong keluar rumah. Hentikan mereka, sebelum Papa dan Mama pulang." pinta Kaila merayu.

__ADS_1


"Baiklah, Kakak akan menghentikannya." jawab Chaka.


Chaka melangkahkan kakinya lalu membuka pintu, segera menemui teman-teman Kaila.


"Kenapa kalian sibuk di sini?" tanya Chaka.


"Apa Om Devin ada, kami mau bertemu." jawab salah satunya.


"Tidak ada, dia sedang pergi." ujar Chaka.


"Kami demo, karena ingin menghentikan tindakan Kaila yang seenaknya." Salah satu dari mereka, mengeluarkan suara.


"Memangnya, apa yang Kaila lakukan?" tanya Chaka penasaran.


"Kalian pulang saja dulu, nanti biar Kakak bilangin si Kaila." ujar Chaka.


"Baiklah Kak, kami permisi pulang. Maaf, sudah mengganggu waktu istirahatnya." jawabnya.


Mereka segera pergi, sedangkan Chaka segera masuk ke dalam rumah. Kaila tersenyum, dia merasa senang. Kaila langsung memeluk Chaka, sebagai wujud dari ucapan terima kasih.

__ADS_1


"Kenapa sih harus genit seperti itu. Mama sebenarnya melarang, kamu berpacaran dengan Kaihan." ucap Yana spontan.


"Eh Kakak, maafin aku. Karena cemburu, Kakak jadi marah-marah." jawab Kaila, dengan wajah ditekuk.


"Tidak perlu menunjukkan raut wajah kasian. Aku tidak mengerti, kata cemburu yang kamu maksud." ujar Yana.


"Ah Kakak polos terus sih, suruh Kakak tampan mengajarkannya." Kaila menjawab, sambil mengedipkan mata genit.


Yana segera membuang muka, sengaja mengibaskan rambutnya ke arah Kaila. Yana malas untuk meladeni Kaila, yang tingkahnya seperti orang tidak pernah susah. Yana melihat Bubu, yang sedang duduk di dalam kurungan. Bubu si kelinci putih, yang diletakkan tidak jauh dari ranjangnya.


"Belajar dari Chaka, enak saja bicara seperti itu. Jelas-jelas, aku tidak menyukainya. Melihatnya saja sudah malas, apa lagi didekatnya. Apalagi, bila sedekat si Kaila tadi. Hmmm.... jantungku pasti akan copot, karena sangat ketakutan." monolog Yana.


Yana menggambar sebuah kartun, seorang perempuan yang terlihat ketakutan. Tidak lupa pula, dia menggambar seorang pengeran. Di sana terdapat kelinci Bubu, yang menyaksikan pernikahan mereka.


"Widih, bisa-bisanya imajinasi lukis sampai ke sini." Yana geleng-geleng kepala.


Febby melihat pesan masuk pada ponselnya, ternyata dari Ronal. Pria buta itu mengirim pesan, menjadikan sebuah tanda tanya di hati Febby.


"Aku rasa, dia menyuruh orang untuk mengirimkannya." monolog Febby.

__ADS_1


Febby tidak menyangka, ternyata Ronal ingin bertemu dengan Yana lagi. Dia ingin menyuruh Yana untuk tampil, disebuah pertunjukan ulang tahun perusahaannya.


"Wah, pasti Yana senang sekali. Lihatlah, bayarannya sungguh besar." Febby bergumam-gumam.


__ADS_2