Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Dihukum


__ADS_3

Semua siswa dan siswi dihukum, di lapangan upacara. Nafas mereka terlihat beruap, menahan panas dan emosi hati. Mereka ingin membalas dendam, pada Kaila dan Kaihan.


Yana dan Febby menyantap burger dengan lahap. Mereka menikmati burger, yang telah menjadi langganan banyak pejabat tersebut.


"Febby, kamu nanti malam temani aku iya." ajak Yana.


"Kita mau kemana?" tanya Febby.


"Aku mau mengajak kamu, untuk memberikan donasi untuk acara panti asuhan." jawab Yana.


"Memangnya kamu tidak takut kumpulan pria?" tanya Febby.


"Di sini panti asuhan langganan, jadi tidak ada pria dewasa." jawab Yana.


Febby mengganguk paham, dia mulai mengerti. Mereka mengambil gelas jus di atas meja, lalu menyedot dengan pipet di dalamnya. Setelah kenyang, mereka keluar dari restoran tersebut. Tanpa sengaja Yana menabrak seorang pria, yang sedang membawa tongkat. Yana bergidik ngeri, lalu memanjat tubuh Febby layaknya monyet.


"Yana, dia buta." ujar Febby.


"Bantuin sana ambil tongkatnya, lalu berikan padanya." Yana melihat pria itu, meraba-raba.


Febby membantunya, lalu memberikan pada pria itu. Pria tersebut mengambilnya, dengan perasaan bingung.


"Apa Mbak yang menabrak saya?" tanyanya.


"Bukan, tapi temanku." jawabnya.


"Kenapa dia tidak membantuku?" tanyanya.


"Dia tidak suka pria." jawabnya.

__ADS_1


"Siapa nama temanmu?" tanyanya penasaran.


"Namanya Yana Ananta." jawab Febby.


Ronal memberanikan diri mendekat.


"Kamu seorang YouTuber, yang suka meng-upload kartun lucu 'kan?" tanya Ronal.


"Iya benar." jawabnya, masih dengan ketakutan.


"Perkenalkan namaku Ronal. Aku salah satu penggemar, kartun lucu videomu. Video ceria yang selalu menghibur, sebelum duniaku menjadi kelam tanpa warna." tuturnya, dengan raut wajah sedih.


"Kamu jangan bersedih, harus semangat untuk hidup." jawab Yana.


"Boleh aku minta nomor ponsel kamu?" tanya Ronal.


"Catat nomor ponselku saja, lagipula aku rekan kerja Yana." sahut Febby.


"Iya boleh juga." jawab Ronal.


Ronal menyimpan nomor ponsel, yang dibacakan oleh Febby. Ronal pergi setelah mengucapkan terima kasih. Yana tidak henti melihat Ronal, dari dekat sampai jauh.


"Kamu suka sama dia?" goda Febby.


"Melihat bukan berarti suka. Aku hanya kasian karena dia harus buta, diusianya yang masih muda." jawab Yana.


"Sungguh menyebalkan, tidak mau jujur. Sejak kapan kamu bisa simpati pada pria. Bahkan si Chaka saja, kamu biarkan bagai pajangan." ujar Febby spontan.


"Kalau kamu mau, ambil saja." jawab Yana.

__ADS_1


"Aku tidak mau." ucap Febby.


"Oh gitu iya." jawab Yana.


"Ya iyalah, masa iya iya dong." ujar Febby.


Febby melengos saja, langsung melangkahkan kaki dengan cepat. Tanpa terasa dia terpeleset, lalu dipeluk dengan Artha.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


"Tidak, hanya sedikit terpeleset." jawab Febby.


”Kamu cantik sekali, rasanya ingin menjadi kekasihmu.” batin Artha.


Febby segera berdiri, agar tubuhnya menjauh dari Artha. Febby teringat, akan acara pernikahan Yana dan Chaka.


"Kamu sepupu Chaka 'kan?" tanya Febby.


"Iya, kamu betul sekali." jawab Artha.


"Perkenalkan nama aku Febby." ucapnya.


"Nama aku Artha." jawabnya.


Yana memperhatikan mereka dari kejauhan, merasa enggan untuk mendekat. Lintasan tentang memori masa SMA, terkadang masih sering menghantui. Apalagi bila dia melihat sekumpulan pria, yang sedang nongkrong bersama.


"Febby tidak takut pria, sedangkan aku penakut. Aku juga tidak tahu, kenapa sulit untuk menghilangkannya." monolog Yana.


Yana ingin juga seperti dulu, tanpa harus menjadi monyet dadakan. Memeluk tubuh orang lain seperti pohon, bila melihat laki-laki asing.

__ADS_1


__ADS_2