Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Serba Sensitif


__ADS_3

Yana mengumpulkan desain terbarunya, bersama dengan para karyawati perusahaan Alexander. Semua orang diam saja, mengikuti keputusan Chaka.


"Perencanaan kali ini, aku ingin memilih desain Yana Ananta." ucap Chaka.


Plok!


Plok!


Banyak suara tepuk tangan riuh, meski beberapa orang tidak suka. Mereka mulai menggosipkan Yana, saat Chaka sudah pergi.


"Di sini ada yang mengandalkan kekuatan orang dalam. Baru masuk saja langsung terpilih." ujar Friyun.


"Benar sekali, padahal kita ini karyawati lama." Artiya ikut nimbrung.


"Kalau sistem family, lebih baik jangan suruh orang luar bekerja." Salena ikutan juga.


"Kalau kalian tidak mampu bersaing, pintu perusahaan terbuka lebar. silakan mengundurkan diri, supaya tidak makan hati." Yana tersenyum.


"Sombong, mentang-mentang istri CEO." Friyun menatap penuh kedengkian.


"Dia itu baru digemparkan karena plagiat karya kartun tidak si." Salena jadi kompor meleduk.


"Apa iya?" tanya Artiya.

__ADS_1


"Eh, kamu tidak tahu apa, kalau film kartun animasi Menikah Denganmu Takdirku sudah tayang. Kabarnya film itu mendapat sorotan netizen, karena pemeran utama masuk sel jeruji besi." Priyun paling nomor satu bergosip.


Pagi-pagi sudah dibuat kesal dengan karyawati perusahaan Alexander. Yana memilih pergi ke pantry, untuk membuat air perasan jeruk nipis.


"Aku rasa minum ini menyegarkan, apalagi tenaga terkuras habis." monolog Yana.


Chaka muncul tiba-tiba, memeluk istrinya dari belakang. Chaka mengusap peluh di tangan Yana, beserta dahinya yang bercucuran juga.


Chaka menarik baju paling bawah, hingga pakaian paling atas jatuh semua. Yana merasa kesal, melihat suaminya itu. Tidak tahu mengapa bawaannya sensitif, biasanya juga tidak apa-apa.


"Kenapa si, kamu tidak pakai baju yang atas saja." gerutu Yana.


"Karena aku nyaman baju yang dilipat paling bawah." jawab Chaka.


"Iya sudah, lain kali aku ganti susunannya." ujar Yana.


Yana segera pergi meninggalkan Chaka, tidak peduli dia sendirian. Yana sangat kesal, dengan kejadian di kantor tadi. Belum lagi, ada saja yang menganggu pikirannya.


Febby menghampiri sahabatnya, dengan pandangan mata berbinar-binar. "Yana, aku dan Artha mau foto prewedding. Kamu ikut kami iya, supaya lebih keren gitu."


"Jujur saja, aku sebenarnya malas. Sudah pulang dari kantor, ingin langsung rebahan." jawab Yana.


"Kenapa kamu ingin kerja, bila tidak berselera." Febby sedikit heran.

__ADS_1


"Aku ingin terapi diri aku, supaya dia tidak trauma lagi. Aku membaca artikel yang ditulis oleh dokter, bahwa aku harus lebih banyak berbaur." jelas Yana.


"Semoga kamu cepat sembuh deh, kesehatan mental itu perlu bahkan sangat penting." ucap Febby.


"Aamiin, terima kasih sahabatku." jawab Yana.


"Baiklah, ayo kita latihan." ajak Febby.


"Latihan apa?" Yana tidak tahu maksud Febby.


"Foto undangan pernikahan, tentu harus gaya tatapan dingin." Febby meletakkan ponsel di atas nakas, dengan memberikan durasi 20 detik.


"Baiklah, mulai sekarang." jawab Yana.


Cekrak!


Cekrek!


Kamera mengabadikan saat Yana dan Febby bergandengan tangan. Kemudian mereka berganti memegang marmut Bubu. Setelahnya berputar-putar dan melompat. Tidak lupa menjulurkan lidah, seperti hewan yang menggonggong.


"Yana, aku sudah merapikan baju seperti semula." ucap Chaka, yang muncul tiba-tiba.


Yana tiba-tiba tertawa. "Hahah... santai saja sayang. Nanti bisa dimasukkan ke mesin pelipat pakaian."

__ADS_1


"Tangan menjadi manja, bila kebiasaan tidak bergerak."


"Kalau ada uang, mengapa membiarkan diri kesusahan." jawab Yana.


__ADS_2