
Undangan pernikahan Febby telah disebarkan ke seluruh penjuru. Secara khusus Yana meminta tolong Oma Nadin, agar membantunya memeriahkan acara sahabatnya.
"Nek, terima kasih iya." ucap Yana.
"Kamu jangan sungkan cucuku, aku ini Oma kandung kamu." jawab Nadin.
"Heheh... iya Oma."
"Senyum yang mengingatkan aku, dengan masa gadis dulu." Nadin tersenyum melihat Yana.
"Bagaimanapun juga, aku ini anak dari Papa Devin. Tentu saja, ada kemiripan adalah hal wajar." Yana mengakui hal itu.
"Nah, ini baru cucuku yang hebat."
Argan tiba-tiba muncul. "Eh cucu, kamu sudah datang saja. Mana Mama dan Papa kamu, kok tidak ikut ke sini?"
"Aku datang hanya bersama Chaka suamiku." Yana tersenyum ke arah samping, tepat ke seseorang yang lagi duduk.
"Sekarang, apa kegiatan kamu Yana?" tanya Nadin.
__ADS_1
"Aku menjadi manajer desain di perusahaan Alexander. Selain itu, mengikuti kelas Ibu hamil." jawab Yana.
Mereka bersiap-siap, untuk pulang. Sore hari nanti, mereka akan masuk ke perusahaan. Seperti biasanya, manajer perencanaan akan persentasi tentang desain Yana. Secara khusus semua diberikan hak berpendapat di ruang meeting nanti.
Febby bergelayut manja, saat sahabatnya baru datang. "Yana, pihak Wedding Organizer sudah datang. Aku bingung mau memilih bajunya, kamu ikut aku ke ruang ganti iya."
"Silakan tuan putri, mari kita coba bajunya." jawab Yana.
"Yana, terima kasih sudah membantuku." ucap Febby, dengan setulus hati.
"Jangan sungkan, apa kamu lupa waktu menjelang resepsi pernikahan aku dan Chaka. Kamu membantuku dekorasi, padahal banyak pekerjaan kantor." Yana mengingat saat-saat itu.
"Tidak perlu diungkit, aku ikhlas kok." ujar Febby.
Febby mengenakan baju berwarna merah muda, dan Yana menggelengkan kepalanya. Lalu dia berganti menggunakan baju silver, Yana menggelengkan kepala. Febby mengenakan baju kuning, masih saja Yana menggelengkan kepalanya. Hingga Febby mencoba baju jingga, putih, cokelat, hitam, biru muda, biru tua, masih saja Yana menggelengkan kepala.
"Katakan, apa yang bagus untukku?" Febby sedikit kesal, mendekatkan kepalanya tepat di depan wajah Febby.
"Aku baru bisa mengatakannya, bila kamu sudah mencoba semuanya." jawab Yana.
__ADS_1
"Setelah ini, aku akan mencoba warna ungu muda. Kamu lihatlah aku, detik-detik terakhir menyerahkan diri." Febby mengangkat roknya, agar tidak tersandung.
"Hati-hati, nanti ada kecoak di ruang ganti." Yana membelakangi ruang ganti, yang hanya ditutup kain tersebut.
Febby keluar dari sana, dengan senyum terbaiknya. Yana terpesona dengan penampilan memukau, yang ditampilkan oleh Febby.
"Sangat bagus, kamu terlihat cantik." ujar Yana, sampai menepuk-nepuk pipi sendiri.
"Jika kamu iri padaku, maka harus menjadi pengantin dua kali." Febby merasa lucu, dengan kalimat candaannya.
"Aku tidak pantas naik panggung, sebentar lagi akan melahirkan. Mana ada perempuan yang berdiri, dengan perut yang besar." ujarnya.
"Ada, kalau hamil di luar nikah." jawab Febby.
Di ruang meeting, Yana mengusulkan idenya. Dia tidak setuju, jika desain kursi tunggu diletakkan di area remaja.
"Jika diletakkan di tempat baju-baju diskon, maka anak-anak tidak akan melihatnya. Apalagi khusus untuk remaja, mana mungkin orangtuanya mengajak balita duduk."
"Lalu, nona Yana ingin diletakkan di mana?" tanya manajer perencanaan.
__ADS_1
"Menurutku, lebih tepat diletakkan di area supermarket. Biasanya di sana banyak ibu rumahtangga memborong barang. Anak-anak akan merasa kelelahan, jadi menunggu di kursi solusinya." Yana tersenyum.
"Ide yang hebat juga." jawab manajer perencanaan.