Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Foto Prewedding


__ADS_3

Foto prewedding akhirnya dilakukan oleh Artha dan Febby. Mereka tampak antusias, hari juga masih pagi. Berbagai macam gaya jari, mulai menghiasi galeri kamera. Kaki pun ikut menumpang foto, dengan cara menginjak kayu balok.


"Ayo, perempuannya geser sebelah sini." Fotografer memberikan arahan.


"Baiklah." Febby menjauh sedikit dari Artha.


Febby menggenggam banyak daun, biar lebih berbeda dengan calon pengantin yang lain. Artha tertawa saat melihatnya, tidak lupa mengejek dengan sebutan pemulung.


"Untung calon suami, kalau orang lain sudah kena bogeman ganas." ujar Febby.


"Aku mau, selama tanganmu yang melakukannya tidak masalah." jawab Artha.


Yana dan Febby pergi ke mall, untuk membeli mainan bayi. Mereka sangat puas, dengan fotografer yang ahli dalam mengambil gambar. Beberapa Minggu kemudian, undangan mungkin sudah bisa disebar.


"Eh, kamu tadi puas tidak dengan fotografernya?" tanya Febby.


"Kalau aku si cuma sekadar ikutan, tapi menurut aku seru kok." jawab Yana.


"Sekarang giliran aku menemanimu, ayo kita beli mainan untuk anakmu." Febby menarik lengan Yana.


"Baiklah, ayo ke sana." Yana menunjuk tempat yang banyak menggantung mainan, dan ada juga barang yang tersusun dalam rak.

__ADS_1


"Eh, bebek ini bagus tidak?" tanya Febby.


"Kurang cocok untuk bayi, yang terpenting mainan ini." Yana memperlihatkan mainan yang bisa berputar-putar sendiri, dengan banyak bunga yang menggantung keliling.


Artha dan Chaka melihat gasing, mengingatkan dengan masa kecil. Mereka berdua main-main kembali, untuk mengenang hal yang merindukan.


Setelah selesai dengan kegiatan, mereka berniat kembali ke rumah. Hari ini Chaka dan Yana tidak masuk kantor, karena tugas sudah selesai. Chaka menyetir mobil dengan perlahan-lahan.


"Bagaimana dengan desain milikku kemarin?" tanya Yana.


"Sudah aku serahkan ke departemen perencanaan." jawab Chaka.


"Aku tahu, kamu digosipin para pekerja sejak menjadi manajer desain." jawab Chaka.


"Aku tidak terlalu menghiraukan, namun takutnya mempengaruhi citra perusahaan. Kamu akan dikira pemimpin yang pilih kasih, membiarkan karyawati baru jadi manajer. Mentang-mentang istri dari CEO, begitulah pandangan banyak orang." ucap Yana.


"Siapa suruh mereka kurang beruntung, hingga bergaul lebih luas tidak tercapai." jawab Chaka.


"Chaka, aku ingin naik jabatan berdasarkan kemampuan. Lagipula, aku hanya ingin sekadar bersosialisasi. Aku tidak ingin mencari masalah, karena dapat menimbulkan perkelahian. Kalau tidak karena terapi diri, aku juga tidak mencari kerja di luaran. Oma dan Opa memiliki perusahaan di sejagat negeri." jelas Yana.


"Aku tahu, status kamu sebagai cucu keturunan konglomerat." jawab Chaka datar.

__ADS_1


Saat sampai di rumah, Kaila menyambut Yana. Tangannya meraih belanjaan, membantu membawa masuk ke dalam.


"Kak, kira-kira kapan Kakak akan pindah?" tanya Kaila.


"Kalau kamu tidak sabar lagi, bisa Kakak percepat." canda Yana.


"Justru itu, aku menginginkan kalian pindah rumah setelah melahirkan bayi." jawab Kaila.


Yana mendengar suara mesin mobil yang hidup, Chaka pergi lagi tanpa pamitan. Dia menuju kantor polisi, untuk melihat istri Ronal dalam jeruji besi.


"Nona, aku mohon kerjasamanya untuk mengembalikan uang, yang telah dicuri oleh suamimu."


"Aku bukan pelakunya, mengapa harus aku yang membayar." jawabnya dengan kesal.


"Nona, meski suamimu yang berbuat penipuan. Namun tidak memungkinkan, bahwa nona tidak menikmatinya. Bagaimanapun juga, suami dan istri adalah sebuah hubungan." ujar Chaka.


"Tuan Chaka, anda berbicara seenaknya saja. Lidah tak bertulang, begitu mudah berkata-kata."


"Nona bicara apa? Sedang menggunakan bahasa planet, untuk lari dari tanggungjawab?" Chaka semakin menyudutkannya.


"Yang berbuat penipuan suamiku, mana bisa aku dilibatkan."

__ADS_1


__ADS_2