Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Kursi Roda


__ADS_3

Yana tertawa melihat Chaka, yang didorong Belko. Mereka seperti seorang suster dan juga pasien.


"Hahah... kalian lucu!"


Chaka tersenyum imut. "Kamu sungguh keterlaluan, tidak bisakah memerintah yang lain."


"Sepertinya, suamiku tidak ikhlas menuruti keinginan anaknya." Yana menghela nafas, sambil membuang pandangan ke sembarang arah.


"Bukan seperti itu maksud aku sayang." Melihat Yana yang tidak bergeming. "Maaf, aku yang salah mengatakannya."


"Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah. Hanya ingin menenangkan aku, setelah berterus-terang." Yana jalan di depan Chaka duluan.


Belko masih mendorong Chaka, yang berada di kursi roda. "Nona jangan merajuk lama-lama, biar aku belikan es krim. Kalian makan bersama saja, mungkin dapat mengembalikan selera."


Pengawal Belko meninggalkan mereka sejenak, untuk mengusir kecanggungan atas kalimatnya sendiri.


Chaka dan Yana pulang kehujanan, lalu berebut kamar mandi. Akhirnya membersihkan diri bersama, karena tidak ada yang mau mengalah di depan pintu masuk.


"Sayang, kamu tidak tahu bahwa air hujan mengenai kepala bisa membuat demam." ucap Yana.


"Aku juga tahu kok." jawab Chaka.

__ADS_1


Yana bergiliran menggosok punggung Chaka dengan sabun, lalu setelahnya mereka menyiram tubuh dengan air. Pasangan suami istri itu sangat kompak, hingga mereka keluar dari ruangan kecil tersebut.


"Aku duluan yang mengeringkan rambut." ujar Yana.


"Sudah jangan berkelahi, kita gantian saja." jawab Chaka.


Chaka mengeringkan rambut istrinya terlebih dulu, baru giliran memikirkan diri sendiri. Cukup lama mereka sibuk di dalam kamar, bergiliran dengan satu alat. Sekarang saatnya keluar dari kamar, untuk berkumpul bersama keluarga. Yana dan Febby tercium aroma masakan, mereka segera pergi ke dapur sambil lompat-lompat. Yana memegang spatula, mengajak Febby mencicipi.


"Ayo kita cicipi kuah kaldu ini." ujar Yana.


"Iya sahabatku tersayang." Febby meniupnya, lalu menuangkan kuah ke mulut.


"Eh iya, maaf Tante." jawab Febby.


Yana dan Febby mengambil piring berukuran kecil. Mereka menyeruput air Yang telah dicampur, dengan bumbu masakan yang lengkap. Yana dan Febby merasa nikmat, makan dengan lahapnya.


"Ini seperti kaldu ayam khas Riau." ujar Febby.


"Apa iya? Aku belum mengunjungi semua kuliner di sana." jawab Yana.


"Setelah trauma kamu menghilang, aku akan menemani keliling dunia. Tapi harus ingat, kamu yang mentraktir aku." Febby mengajukan syarat.

__ADS_1


"Dih, kamu ada maunya." jawab Yana.


"Sudahlah, kamu cepat nikah saja. Jangan pikirkan hal lain, supaya orangtua kamu tenang." sahut Thara.


"Iya, iya Ibu, kalian tenang saja. Aku tidak akan pergi berduaan yang jauh, hanya dengan pria muda yang tidak ada status." jawab Febby.


Mereka menuangkan lauk ayam kaldu ke dalam piring, dan membawanya ke ruang makan. Yana membawa Febby menjauh sebentar, berbisik-bisik tentang urusan rahasia perempuan.


"Aku terlihat gendut tidak, sejak sudah menikah?" tanya Yana.


"Tidak kok, kamu itu ramping." jawab Febby.


"Suamiku itu pembohong, dia pernah bilang aku gendut. Sampai-sampai aku takut untuk makanan berlemak." ujarnya lagi.


"Ah suamimu itu hanya bercanda, buktinya juga masih bertahan bersamamu. Namanya cinta tidak memandang fisik, lihatlah aku dan Artha sering meledek." Febby tersenyum.


Semua makanan dihidangkan, dan mereka makan bersama-sama. Sebelumnya, sudah membaca doa terlebih dulu. Yana meraih gelas karena merasa mengganjal di tenggorokan.


"Aduh, lega rasanya."


"Makanya, makan itu pelan-pelan." Chaka mengingatkan.

__ADS_1


__ADS_2