Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Psikolog


__ADS_3

Yana dan Chaka sudah pergi ke tempat yang dituju. Ada bacaan psikolog pada pintu ruangan praktik, lalu keduanya segera masuk ke dalam. Seorang dokter ramah menyuruh mereka duduk, tidak lupa menyebar senyuman.


"Perkenalkan, namaku Cendana Wiratama dokter spesialis mental. Ada keluhan yang ingin disampaikan?" tanya dokter psikolog tersebut.


"Dok, pertama-tama yang ingin aku beritahu adalah, aku trauma atas kejadian masa lalu." jawab Chaka.


"Bisa dijelaskan, bagaimana kejadian masa lalunya."


"Di masa lalu aku ditindas teman-teman, lalu mie yang aku makan dimasukin cicak." Chaka bergidik ngeri, mendengar kalimatnya sendiri. "Ditambah lagi, cicaknya besar sekali." Chaka menggerakkan tangannya, hingga terbuka lebar.


Plak!


Tidak sengaja, tangannya menabrak wajah istri sendiri. "Aduh, maafkan aku sayang."


"Maaf, maaf, apa kamu pikir aku boneka." jawab Yana ketus.


Chaka senyum ke arah Yana, lalu beralih melihat ke arah dokter. "Dok, bagaimana cara menyembuhkan trauma?"


"Bisa, caranya adalah dengan terus menghadapi. Kamu harus menguasai emosi takut dan sedih berlebihan, dengan melakukan rileksasi. Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. Biarkan pikiran yang ada lewat, tidak berusaha mengendalikan dengan memaksanya lupa." jelas Cendana Wiratama, selaku dokter psikolog.

__ADS_1


"Nah, sekarang giliran aku yang ingin konsultasi. Mengapa iya Dok, aku itu bawaannya takut sama laki-laki. Hal ini terjadi, karena aku pernah dilecehkan. Nah saat menikah, aku baru lumayan bisa adaptasi. Sama saja si kasusnya, sebab trauma masa lalu." jelas Yana.


"Oh gitu, dokter punya solusinya. Namun tidak tahu juga, bisa diterapkan oleh nona Yana atau tidak. Salah satu caranya adalah, dengan memperluas lingkup pergaulan. Namun tidak secara online, lebih kepada sosialisasi kehidupan nyata. Hal tersebut bisa menjadi terapi, apa bila nona mengkhususkan berteman dengan banyak pria. Aku rasa sebatas berbicara saja, tidak akan membuat suami nona murka 'kan?"


Orang di sebelah Yana, sudah tidak tahan untuk menyahut. "Kata siapa suaminya tidak marah, aku ini merasa cemburu."


"Suamiku, kamu jangan membuat malu seperti itu."


Dokter psikolog tersebut senyum. "Nona tenang saja, aku tidak tersinggung. Di sini khusus berbagi cerita dengan nyaman, jadi jangan sungkan menjelaskan detail. Privasi kalian aman, bersama dokter Cendana Wiratama." jawabnya.


"Terima kasih Dokter, kami akan mengikuti saran." ujar Yana.


Chaka menepis tangan Yana, yang hendak menyambutnya. Tangan Chaka yang menyalami Cendana, lalu segera menarik lengan istrinya pergi.


"Lain kali, aku tidak ingin periksa di sini." ucap Chaka.


"Lah, memangnya kenapa? Dokternya ramah sekali, aku nyaman di sini sayang."


"Hih, kamu mau genit sama tuh dokter muda." Chaka cemburu.

__ADS_1


"Sayang, dia hanya mengobati kita. Sedangkan di luar itu, tidak ada yang lain." Yana cemberut, karena ingin dokter tersebut menangani masalah traumanya.


Kaila dan Kaihan saling bertatap muka, lalu fokus ke ponsel masing-masing. Keduanya sama-sama sedang membuka Instagram.


"Beb, tukaran akun sosial media yuk!" ajak Kaihan.


Kaila nyengir. "Lupa kata sandi wkwkwk." Tertawa ngakak.


"Dih, yang sebenarnya kamu tidak mau tukar akun." ujar Kaihan.


"Terlalu spontan, padahal salah. Kamu curiga melulu, aku juga tidak selingkuh." jawab Kaila.


"Lantas, mengapa tidak boleh tukaran akun sosial media?" Kaihan penasaran.


"Ada pesan rahasia dari temanku, dia curhat masalah pribadinya." jawab Kaila.


"Teman yang mana, jangan bilang kalau laki-laki." Kaihan sudah curiga duluan.


"Iya bukanlah, temanku yang pendiam. Kamu tidak perlu tahu siapa dia, intinya dia perempuan." jawab Kaila.

__ADS_1


__ADS_2