
Keesokan harinya, Kaila mengenakan seragam putih abu-abu. Ada kebahagiaan tersendiri, saat baju baru menempel pada tubuhnya.
"Eh tunggu, kamu mau ke pesta atau sekolah? Mengapa parfum menyengat sekali?" Tasya menasehatinya.
"Ah Mama, mengapa selalu protes."
"Anak perempuan jangan terlalu berpenampilan menggoda. Kamu ini untuk belajar, bukan kencan buta orang dewasa."
Kaila merasa sebal melihat mamanya mengomel. "Mama seperti tidak pernah muda saja."
"Mama ini menikah muda, jadi hanya sedikit mengalami kepuasan masa remaja. Namun, itu jauh lebih baik."
"Mama, jangan bilang aku disuruh ganti baju. Ini sudah jam berapa, biarkan aku mengenakannya."
"Tidak bisa, kamu juga harus menghapus riasan yang menor itu." Tasya melihat Kaila memakai perona pipi juga, seperti mau kemana saja.
"Dih, kenapa banyak aturan si!" Merasa mamanya cerewet, padahal demi kebaikannya.
Kaila melihat Yana dan Chaka masih saling mendiamkan. Kaila mengeluarkan jurus rayuan, agar mereka tidak seperti itu.
__ADS_1
"Kalian berdua berbaikan dong, jangan marahan seperti ini." ujar Kaila.
"Yang bersalah harus sadar diri, mengerjai tidak tahu batasan." jawab Yana.
Entahlah, tiba-tiba menjadi sensitif semenjak hamil. Chaka diam saja, sambil terus menyendok makanan. Di sadar bahwa telah bersalah, karena tidak jujur dari awal.
"Sayang, kamu jangan marah lagi dong." pinta Chaka.
"Sudahlah, lupakan saja." jawab Yana.
"Kue ulang tahun semalam di mana?" tanya Kaila.
"Kakak museum kan di dalam lemari es." jawab Chaka.
"Sayang, kamu pakai kalung love iya." ujar Chaka.
"Aku tidak mau." jawab Yana cuek.
Chaka mencium pipi istrinya. "Jangan marah lagi, aku minta maaf." Menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Iya, aku maafin." jawab Yana.
Chaka mendekatkan wajahnya sambil senyum, begitupula dengan Yana yang tersenyum ke arahnya. Chaka menautkan b*b*rnya dengan milik Yana, sampai perempuan itu terpejam. Chaka memegang ceruk leher Yana, sambil terus menikmati kemesraan di pagi hari.
Kaila membulatkan kedua bola matanya, saat melihat yang dilakukan mereka. Kaca memang tertutup rapat, namun sinar mentari menembus ke dalam. Kaila melotot sampai menyatukan ibu jari dan kelingking berbentuk bulat. Bagaikan kacamata pembesar saja, dia memeluk bagian depan mobil.
"Apa yang mereka lakukan, berbicara haruskah sedekat itu?" Kaila sangat penasaran, harusnya langsung pergi ke sekolah saja.
Brak!
Kaila meninju besi bagian depan mobil, hingga Chaka menghentikan aksinya. Yana menjadi malu sendiri, takut diketahui oleh adiknya. Kaila terlalu mengintip sampai menyipitkan mata, di tengah cahaya mentari.
"Apa yang mereka lakukan, sampai aku diabaikan." monolog Kaila, dengan sangat kesal.
Chaka membuka kaca mobil. "Hai Adik ipar, kamu ngapain berdiri di sana? Kamu mau terkena tabrak dan terlindas ban mobil?"
Kaila nyengir. "Heheh... aku hanya penasaran, mengapa ada orang di dalam mobil lama sekali. Ditambah lagi, mengapa mobilnya tidak jalan juga."
"Kami sudah mau pergi kerja, kamu cepat pergi sana." Chaka mengusirnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku sang pengganggu diusir dengan sangat hormat. Aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini, harus segera pergi dengan tahu diri." Kaila melangkahkan kakinya, lalu berhenti saat melihat Kaihan.
Kaihan tersenyum melihat mobil Chaka sudah melewatinya. Kaihan dan Kaila segera mendayung sepeda berdua, menuju ke sekolah yang baru.