Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Trauma Masa Lalu


__ADS_3

Chaka dan Yana saling mendiamkan, lalu tersenyum bersamaan secara tersembunyi. Menoleh serentak, namun tetap tidak ada yang menegur duluan. Kedua pasangan ini gengsi, padahal saling cinta satu sama lain.


Jari telunjuk Yana mencolek pipi Chaka. "Kamu marah, karena kejadian di kantor tadi?" tanyanya.


"Kamu pikir saja sendiri." jawab Chaka.


"Sayang, mengalah dong sama anak kita." pinta Yana.


"Aku tidak akan mengerti padanya, masih dalam kandungan saja durhaka." jawab Chaka.


"Hah? Kamu beraninya, menghina anakku. Ayo hadapi mamanya, biar aku beri serangan." Yana melayangkan tinjuan.


Chaka menangkap kepalan tangannya. "Aku minta maaf iya sayang, aku yang sudah keterlaluan." Mengalah bukan karena takut.


Cetis!


Penanak nasi beralih dari warna merah ke warna hijau, Yana merasa terkejut karena sedang melamun.


"Eh, ternyata cuma bunyi kamu, aku kira ada apaan tadi." Yana menepuk lembut kepala alat modern tersebut.

__ADS_1


"Dih, suara itu saja terkejut." Chaka memencet tombol, untuk membuka penutupnya.


"Kak, kemarin aku sudah menemukan banyak psikolog, untuk konsultasi trauma yang Kakak alami." Kaila datang tiba-tiba.


"Meski bisa bimbingan online juga, namun Kakak ingin pergi ke tempat praktiknya langsung." Yana mengutarakan maksudnya.


"Bagus juga Kak, trauma harus segera diatasi. Kesehatan mental itu perlu, bahkan sangat penting di era masa kini." ucap Kaila.


"Sekarang sudah membaik, hanya saja kambuh lagi kalau ada yang mengungkitnya." jawab Yana.


"Aku malah trauma kalau ada kejadian yang mirip, contohnya saja melihat mie. Lalu ada sekelompok orang lewat, apalagi jika terlihat beringas." jelas Chaka.


"Oh, karena pernah dimasukin cicak ke dalam mangkuk iya. Tidak aku sangka, orang yang cuek sepertimu bisa trauma." Yana tersenyum menyebalkan.


"Kamu jangan membalikkan ke aku, setidaknya harga diri itu penting. Wajar saja, melihat kumpulan laki-laki aku takut. Kamu tidak tahu, bagaimana ketakutan saat hendak dilecehkan." jawab Yana, sengaja membela diri sendiri.


"Aku juga tidak berlebihan, ditindas itu tidak enak. Dulu tubuhku kecil, beruntung sekarang berisi. Aku selalu menjaga pola makan bergizi, dan rutin olahraga setiap hari." Chaka tersenyum bangga, memperlihatkan perut ratanya pada istri.


Yana melihat Chaka yang mengelus perut dibalut baju kaos tersebut. "Terlalu percaya diri, aku pun tidak bertanya."

__ADS_1


Kaila memasukkan nasi ke dalam bakul. "Dia inisiatif untuk memberitahu Kakak, dengan caranya sendiri. Seharusnya Kakak bersyukur, tersedia jawaban dari orang yang dicinta." Ikut nimbrung, namun menyudutkan Chaka.


"Hmmm...." Meniru ucapan andalan dari suaminya itu.


Febby meregangkan otot-otot, sambil menendang selimutnya. Benar-benar berantakan rambut, bahkan baju berserakan di lantai.


"Dih, sampai sore kami bermesraan." Febby tersenyum, mengingat peristiwa semalam.


Artha tiba-tiba muncul, sambil membawa secangkir teh susu lemon. "Sudah bangun pengantin baru?"


"Iya baru saja membuka mata, semalam aku disuruh bergadang dengan seseorang." Febby tersenyum, sambil mengedipkan mata.


"Kamu hanya lembur di atas ranjang tidur, jangan protes seperti balita disuruh belajar." Artha memberikan minuman yang ada di genggaman tangannya. "Ini untuk menghangatkan tubuhmu."


Febby menerimanya. "Terima kasih sayang."


"Iya istriku, nanti kamu mandi iya." Artha mengingatkannya.


"Mau kemana?" tanya Febby.

__ADS_1


"Kita akan pergi jalan-jalan, ke sebuah tempat indah." Artha memberitahukan tujuannya.


Febby meneguk air dengan cepat. "Aku bersedia sayang." Bersemangat empat puluh lima.


__ADS_2