
Keesokan harinya, Artha pergi untuk menawarkan brosur. Dia baru saja, mendirikan aplikasi pencari jodoh.
"Aku tidak pernah pacaran, terus sekarang saja sedang diam-diam mencintai seseorang. Bisa-bisanya, aku membuat aplikasi ini." Artha heran dengan diri sendiri.
Febby lewat di depan Artha, dengan rambutnya yang berkibar-kibar. Artha terpanah dengan kecantikan Febby, karena dia menyukainya.
”Sejak awal pertemuan kita, aku sudah menyukai kamu.” batin Artha.
"Hai!" sapa Artha.
Febby menoleh ke arah Artha. "Hai."
"Kamu temannya Yana yang ada di acara pernikahan itu 'kan?" tanyanya memastikan.
"Iya benar, kamu temannya Chaka." jawab Febby.
"Lebih tepatnya sepupu." Artha menatap Febby, sambil melempar senyuman.
"Oh iya, iya." jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pada malam harinya, Yana berjalan mengendap-endap. Lagipula terlihat sepi, dan tidak ada orang. Mungkin semua orang tidak ada di rumah pikir Yana.
__ADS_1
"Yes, aku bisa pergi ke pesta sekarang." Yana berbicara sendiri.
Pluk!
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Ternyata itu adalah Chaka, suaminya sendiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Chaka dengan intonasi datar.
"Aku mau pergi dengan Febby." Menjauhkan dirinya sedikit, karena merasa gugup.
Melangkahkan kakinya semakin mundur ke belakang, hingga tanpa sengaja terinjak tali sepatunya sendiri. Yana tidak sengaja terjatuh, dan ditangkap oleh Chaka. Mereka bertatapan sekitar dua detik, lalu Yana mendorong tubuh Chaka hingga jatuh. Yana juga ikut terjatuh, hingga punggungnya terasa dipukul kayu balok.
"Aduh, sakit sekali." Yana memegangi punggungnya.
Chaka merasa emosi, karena melihat bajunya sedikit ternoda. Padahal hanya sekecil lingkaran kelereng, tapi sudah seperti dimasukkan dalam lumpur.
"Siapa suruh menolongku, aku bisa sendiri. Lagipula, hanya sedikit kotoran yang menempel." Yana protes, tidak terima disalahkan.
"Kalau kamu bisa sendiri, tidak mungkin mengikat tali sepatu dengan salah." Chaka melirik sepatu Yana.
"Aku bisa, dari kecil sudah pintar." Memuji diri sendiri.
__ADS_1
Chaka menarik telapak kaki Yana, membantu mengikat tali sepatunya. "Tidak pernah berubah, sudah berapa kali ku bilang. Waktu kamu kecil dulu, mengikat tali itu dimulai ikatan sampul. Lalu setelah itu, kamu ikat kanan dan kirinya."
Yana mengingat masa sekolah TK, saat dia bersama dengan Chaka. Pria itu selalu saja mengomel padanya, dengan raut wajah bekunya. Tidak menebar senyum sama sekali, sama seperti saat sekarang.
Chaka mendekat, Yana semakin menghindar. Dia segera berdiri, beranjak dari posisi duduknya. Yana segera berlari keluar rumah, melangkahkan kaki dengan terburu-buru.
”Tuh 'kan telat, gara-gara ada perdebatan dengannya.” Berbicara dalam batin, sambil menoleh jarum jam di tangannya.
Yana segera melajukan gas mobilnya, sampai ke rumah Febby. Ternyata dia sudah menunggu di depan pintu gerbang. Febby segera masuk ke dalam mobil, lalu kendaraan roda empat itu menuju tempat pesta.
"Cantik sekali."
"Siapa gadis itu?"
"Aku mau jadi pacarnya."
"Hati-hati istri orang."
Suara sibuk para tamu undangan laki-laki, saat Yana masuk ke dalam. Yana dan Febby menghampiri Ronal, yang sedang memegang tongkatnya.
"Ronal, aku sudah ajak Yana ke sini." ujar Febby.
__ADS_1
"Bagus, ayo Yana segera naik ke panggung." titah Ronal.
Yana mengangguk, lalu naik ke atas panggung. Mulai menggambar kartun berdasarkan imajinasi, yang mengalir dari pikirannya.