Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Jogging


__ADS_3

Chaka berniat menemui barista kopi, bersama dengan Yana. Chaka melihat Artha menyuapi gulali ke mulut Febby. Chaka ikut-ikutan membeli gulali, lalu menyuapi ke mulut istrinya.


"Sayang, sabar dulu. Aku kepenuhan, belum juga ditelan." Yana protes.


"Aku tidak boleh kalah dengan pengantin baru." jawab Chaka.


Artha dan Febby menghampiri mereka, karena baru melihatnya juga. Febby senang bertemu dengan Yana, hendak mengajak lari santai.


"Eh, kita jogging sore yuk." ajaknya.


"Boleh, sudah lama juga tidak melakukannya." jawab Yana.


"Kalian romantis sekali iya." ujar Artha.


Chaka berdehem sambil lubang kepalan tangan ke mulut. "Ehem... kami memang seperti ini setiap hari. Bahkan, aku akan membelikan istriku es krim." Sengaja pamer.


"Sudah sah juga, siapa yang akan melarang kalian melakukannya." Artha lucu melihat sepupunya ini.


"Ayo, aku ajak kalian ke suatu tempat." Chaka mampir sebentar bersama Yana, sambil terus menggandeng tangannya.


"Es krim ini bertabur butiran cokelat, aku tidak terlalu suka." ujar Yana.

__ADS_1


"Hmmm... biasanya kamu mau." Mengusap rambutnya ke belakang, malu sekali ditolak depan Artha.


"Aku suka sekali loh es krim itu." Febby menunjukkan raut wajah ngiler.


"Tenang, aku sanggup membelikannya untukmu. Sekarang, aku sudah menjadi CEO." Artha baru saja mau memesan ke penjualnya.


Yana merampas es krim di tangan Chaka. "Harga es krim dua ratus ribu ini, aku berikan padamu saja."


Febby dengan cepat mengambilnya. "Terima kasih cucu konglomerat sejagat yang baik hati." Memberikan es krim satu lagi pada suaminya.


Chaka kesal melihat Artha yang sengaja suap-suapan dengan Febby. Dirinya yang berkorban, malah jadi penonton gigit jari. Yana tersenyum lebar, turut bahagia untuk pernikahan mereka.


Mencicipi lagi resep di tempat lain, itulah kesukaan Yana dan Chaka. Membuat kopi menggunakan mesin, seperti tidak ada habisnya. Ada kisah menarik tersendiri untuk diceritakan.


"Lalu, aku harus bilang wow gitu? Kamu tampak sengaja mengatakannya, agar aku menangis terharu." canda Yana.


"Bukan hanya wow, namun perlihatkan versi kagum." Chaka sedikit berharap, bila Yana akan memujinya depan Artha.


"Tidak ada yang bisa aku katakan." jawab Yana.


"Ngapain kita mencoba kopi dengan resep berbeda." sahut Artha.

__ADS_1


"Kopi ini seperti sebuah pernikahan, memiliki cara berbeda sebelum berhasil disatukan." jawab Yana.


Barista kopi mengajari Febby, cara membuat kopi di mesinnya. Artha ikut menyimak, memperhatikan dengan seksama. Mereka mengaduk air kopi dengan telaten, lalu tertawa bersama saat membentuk love di atas gelas. Setelah meminum air kental tersebut, kerongkongan yang kering tersiram.


"Ingat, kita harus tetap berlari sore." Febby mengingatkan.


"Iya, ayo minum dulu." Yana berjalan duluan, menghampiri meja.


Setelah minum dengan hura-hura, baru Yana merasa puas. Yana memasukkan air kopi ke dalam botol, lalu memulai kegiatan yang tertunda sebelumnya. Mereka berlari kembali, melepaskan lemak yang menempel di tubuh masing-masing.


Kaila sedang teleponan dengan Kaihan, namun mendengar suara papan ketik. Kaila merasa Kaihan sedang mengirim pesan pada seseorang, namun anehnya tidak bilang apa-apa.


"Kamu sedang mengobrol dengan siapa?" tanya Kaila.


"Ini hanya membalas pesan teman lama." jawab Kaihan.


"Laki-laki atau perempuan?" Kaila mulai giliran curiga.


"Laki-laki, aku punya teman perempuan cuma kamu." jawab Kaihan jujur.


"Bohong!" Kaila tidak percaya.

__ADS_1


"Iya sudah, kamu periksa saja ponselku besok." Kaihan berucap dengan berani, karena merasa tidak bersalah.


__ADS_2