
Yana melakukan USG di rumah sakit, dokter menuangkan cairan gel di atas perutnya. Beberapa menit kemudian, terlihat bayi bergerak pada layar monitor.
"Sayang, anak kita laki-laki." ujar Chaka.
"Iya sayang, sebentar lagi bisa menjadi penerus keluarga." jawab Yana.
"Jangan bilang, kalau dia akan bekerja di Rentala Grup. Kamu pasti akan melarang ku, untuk menyuruh dia kerja di perusahaan Alexander." Chaka menuding duluan, dengan berprasangka.
"Sayang, kamu kok bicara seperti itu si. Anak kita 'kan milik bersama, biar dia yang memilih sendiri. Dia berhak menentukan ingin di mana, menghabiskan waktu dalam mengerahkan tenaga." jelas Yana.
"Jadi, kamu mau menantang ku?" Chaka cemberut, ntah kekuatan marah apa yang merasukinya.
"Tentu saja, aku harus meluruskan kesalahan suamiku. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu diributkan, dia pun bisa kerja di dua perusahaan sekaligus." jawab Yana.
Setelah menunjukkan hasil foto USG pada Tasya, Chaka segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Dia tidak bicara sepatah katapun, sejak di rumah sakit tadi. Yana tidak mengerti, apa yang membuat Chaka semarah itu.
Kaila dan Kaihan menikmati liburan di pantai, mereka bermain speed boat. Tiba-tiba saja, ada seorang laki-laki menghampiri.
"Hai Kaihan, aku sudah datang." ucap Jordy.
"Eh, teman masa kecil." Kaihan menepuk pundaknya.
"Sekarang kamu semakin tampan, sudah lama tidak berjumpa." Jordy memujinya.
"Kamu juga, sekarang sudah lebih keren. Seingat ku, dulu sangat cupu." jawab Kaihan.
__ADS_1
Jordy melihat ke orang di sebelahnya. "Ini siapa?"
"Dia adalah Kaila, sudah lama menjadi pacarku." jawab Kaihan.
"Hai nona manis!" sapa Jordy ramah.
"Sebentar lagi kami akan tunangan, jangan coba menggodaku." jawab Kaila spontan.
Jordy nyengir. "Hahah... tenang saja, aku tidak akan mengajak pacar teman kencan."
"Jangan terlalu ramah!" Kaihan memberikan kode keras.
"Wow... this is pasangan posesif." Masih memperlihatkan deretan giginya, tersenyum lebar.
"Berisik kamu, niatku ingin mengajak bertanding speed boat." Kaihan menjadi kesal sendiri.
"Baiklah, ayo." Kaila menjawab dengan bersemangat.
Di dapur Tasya melihat Yana membuat bakwan, namun wajahnya tampak murung. Chaka masuk ke ruangan dapur, hanya tersenyum ke arah Tasya. Tidak biasanya, mereka mendiamkan satu sama lain.
"Kalian bertengkar?" tanya Tasya, mendekat ke arah Yana.
"Tidak." jawab Yana singkat.
Yana mematikan kompor gas, menghindari tatapan dari mamanya. Dia duduk di depan televisi, lalu melihat bibi Een membersihkan rumah dengan kemoceng.
__ADS_1
"Nona Yana, ada yang ingin Bibi tanyakan." Memberanikan diri.
"Silakan Bi, jangan sungkan." Yana memakan bakwan, dengan beberapa butir cabai rawit.
"Kenapa Bibi Firma pembantu sebelumnya mengundurkan diri?" tanyanya penasaran.
"Ada urusan secara pribadi Bi, aku malas untuk menyebutkannya." jawab Yana.
"Aku dengar dari pengawal Belko, katanya dia dipecat." ujar bibi Een.
Mata Yana berganti melihat ke arah pembantunya. "Dasar pengawal Belko, mulutnya ember tukang ghibah." Jadi kesal sendiri.
"Nona jangan marah padanya, awalnya aku yang bertanya." Bibi Een jadi tidak enak.
"Lain kali, Bibi tidak perlu mencari tahu. Terlalu banyak tahu urusan orang lain, terkadang membuat kita ikut terlibat." jelas Yana.
Malam harinya, Kaila menghampiri Yana. Seperti orang lain saja, masih menggunakan ekspresi malu-malu.
"Eh Kak, bagaimana cara mengerjakan ini." Kaila memperlihatkan formulirnya.
"Iya tinggal diisi biodata pribadimu." jawab Yana datar.
"Ini bukan biodata, sedikit aneh. Masa disuruh mengisi rumus matematika kesukaan."
Yana segera merampas kertas di tangan Kaila. "Kamu bilang saja suka rumus nol ditambah nol."
__ADS_1
"Hahah... jadi mirip balita aku." Kaila memasang raut wajah imut.
"Biarin, sekalian jadi bayi." Yana memasukkan bakwan ke mulut Kaila.