Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Melahirkan


__ADS_3

Dua bulan kemudian, Yana mengalami kontraksi. Dia memegangi perutnya, dan dibantu dengan kedua orangtuanya.


"Yana, sepertinya kamu sudah mau melahirkan." ujar Tasya.


"Iya Ma, ayo kita ke rumah sakit." jawab Yana.


Sesampainya di rumah sakit, suster mendorong Yana yang ada di ranjang pasien. Dokter segera membantu proses persalinannya, sedangkan Chaka baru sampai ke rumah sakit. Tadi dia dikabari dengan Tasya dan Devin, jadi segera meluncur ke rumah sakit.


Chaka mondar-mandir bingung. "Yana, semoga kamu baik-baik saja istriku."


"Tenang lah Chaka, dokter sedang membantu proses persalinannya." jawab Tasya.


"Harusnya aku ikut ke dalam ruangan, untuk menemaninya yang melahirkan anak kami." ucap Chaka.


"Kamu tadi sedang bekerja, tidak ada yang salah. Bagaimana pun juga orangtua bisa tenang, bila kamu ada di perusahaan." jelas Tasya.


Satu jam kemudian, dokter sudah keluar dari ruangan. Dokter tersenyum ke arah Chaka dan kedua orangtua Yana.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Chaka.


"Syukur alhamdulillah, dia baik-baik saja." jawab dokter tersebut.


"Boleh aku masuk untuk menjenguk keluargaku?" Chaka melirik ke arah pintu ruangan, yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Silakan, bayi tuan sedang dimandikan dengan suster." jawab dokter.


Chaka memasuki ruangan persalinan, lalu melihat istrinya yang diam saja. Dia pasti sudah lega, namun tetap saja barusan yang terjadi mempertaruhkan nyawanya.


"Yana, apa kabar kamu sekarang?" tanya Chaka.


"Aku baik-baik saja kok." jawabnya.


"Terima kasih sudah menjadi Ibu untuk anakku." ucap Chaka dengan tulus.


"Ini adalah bagian dari takdir, tidak bisa dielakkan." jawab Yana ramah, sambil tersenyum.


Beberapa hari setelahnya, Yana sudah diperbolehkan pulang. Semua orang sudah menyambut kedatangan Yana dan bayinya. Ada Kaila dan Kaihan, ada pengawal Belko dan Bibi Een, Kenan dan Racisa ada di sana juga, serta Febby dan Artha.


"Iya sepupu ipar, kamu jangan lupa untuk menyusul." jawab Yana.


"Doakan saja, aku ingin mempunyai anak perempuan." Febby mengutarakan harapan dalam hatinya.


"Semoga saja terkabulkan, dan menjadi anak yang berbakti pada orangtua." jawab Yana.


Keesokan harinya, Chaka pergi ke kantor. Kenan dan Artha ikut bersama Chaka, tidak tahu ingin melakukan apa. Hari ini keduanya tampak heboh, seolah ada pesta tujuh turunan raja penguasa.


"Aku sudah membawa mic paling ampuh." ujar Artha.

__ADS_1


"Aku juga sudah menyiapkan amplifier." timpal Kenan.


Artha menghidupkan perekam burung ruak-ruak, dia ingin berburu bersama Kenan. Mereka berdua kompakan menutup tirai jendela ruangan kerja, lalu tersenyum lebar ke arah Chaka.


"Aku adalah saudara iparnya Yana, sebagai Adik aku cerdas." ujar Kenan.


"Mengapa bisa disebut Adik?" tanya Artha.


"Aku dilahirkan setelah Kak Yana, padahal mamaku adalah Kakak dari Bibi Tasya." Kenan mengutarakan hal yang mengganjal di dalam benaknya.


"Oh gitu, pantas saja kamu ada kemiripan dengan seseorang." jawab Artha.


"Mirip dengan siapa?" Kenan ingin tahu.


"Tidak jauh beda dengan Om Devin, juga Chaka saudara sepupuku ini." jelas Artha.


"Bukan, yang benarnya sifat ku meniru Kakek Argan waktu muda." Kenan pengagum kakeknya sendiri.


"Dih, ternyata penggemar tersembunyi." ledek Chaka.


Sesudah menyusui bayinya, mata Yana berjalan melotot ke semua orang. Dia menyapu pemandangan sekeliling rumah, tidak ada tanda-tanda pergerakan suaminya.


"Aku ini haus, namun dia malah pergi. Harusnya, dia membuatkan makanan dan minuman untukku." Yana bergumam-gumam sendiri.

__ADS_1


__ADS_2