Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Pernikahan Febby


__ADS_3

Dekorasi sudah disiapkan dengan pihak pengurus pesta pernikahan. Di sebuah gedung pelayan bekerjasama, untuk menyiapkan makanan para tamu undangan. Yana dan Kaila menjadi penggiring pengantin, dengan berada di samping Febby.


"Silakan pengantin perempuan, untuk duduk bersanding dengan pengantin pria." ujar Thara.


Febby melihat ke arah semua orang, lalu titik fokusnya ke arah pria muda berjas. Seseorang yang sebentar lagi, akan menjadi suaminya. Ruang ijab qobul sudah ramai, dengan tamu undangan yang hadir.


"Saya nikahkan saudara Artha dan Febby Febiola, dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai." ucap bapak penghulu.


"Saya terima nikahnya Febby Febiola, dengan mas kawin yang telah disebutkan." jawab Artha.


"Bagaimana para saksi?" tanya bapak penghulu.


"Sah." jawab semua orang.


Febby menyalami Artha, lalu mencium tangannya. Lalu dahi Febby dicium oleh Artha. Setelah itu, tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan.


Yana memegangi rok yang dikenakan oleh Febby, dan mengikuti arah pengantin berjalan. Febby tersenyum ke arah semua orang, sebelum pada akhirnya duduk kembali di kursi pelaminan.


"Apa kamu bisa kehilangan Chaka lagi, lalu melupakannya dengan cepat?" tanya Febby.

__ADS_1


"Bagaimana bisa melupakan, masing-masing sudah menjadi orang penting di hadapan diri sendiri." jawab Yana.


Febby menepuk telapak tangannya sendiri. "Hari ini aku juga sama sepertimu, sudah menjadi istri dari seorang laki-laki." Tersenyum ke arah sahabatnya.


Yana tersenyum, sambil menggerakkan kipasnya. "Kita berdua sudah menyempurnakan separuh kehidupan kisah asmara. Hari selanjutnya, semoga kalian langgeng sampai Kakek dan Nenek." Mengibaskan dengan cepat.


Kaila mengibaskan kipas ke arah Artha. "Sebagai penggiring pengantin, aku juga mendoakan hal yang sama. Hanya satu hal yang aku pinta, nanti kalau melempar bunga ke arahku iya." Tersenyum lebar.


"Hah?" Artha, Yana, dan Febby terkejut secara bersamaan. Pasti yang ada di pikiran mereka sama, sekolah saja belum lulus kok ingin menikah.


"Aku dan Kaihan memutuskan menikah setelah lulus SMA." Kaila senyum.


Yana mengerucutkan bibirnya, dengan lirikan meledek. "Kamu itu pikirkan belajar dulu, SMP saja baru mendekati kelulusan."


"Bibi, mengapa mau bersaing denganku." Kaila sedikit kesal.


"Nona Kaila terlalu kecil untuk menikah, belajarlah dengan benar terlebih dulu." Bibi Een tersenyum menyebalkan.


Keesokan harinya, Yana dan Chaka pergi ke kantor perusahaan Alexander. Yana mampir terlebih dulu ke ruangan kerja suaminya.

__ADS_1


"Ini jam kerja, tidak baik seperti ini." Yana berusaha melepaskan pelukan Chaka.


Chaka tersenyum sambil melepaskan tubuh istrinya. "Iya benar, maka biar aku lakukan sesuatu."


Chaka berjalan membuka pintu, lalu melihat semua karyawan dan karyawati. "Kalian semua pulang lebih awal, jika tidak akan aku pecat."


"Baik tuan muda." jawab semuanya serentak.


Yana menghampiri Chaka. "Dih, sudah meniru gaya Kakek Argan." Tersenyum penuh arti.


"CEO gitu, sedikit bebas tidak mengapa." Chaka merentangkan kedua tangannya.


Yana membenamkan kepalanya dalam dekapan Chaka, namun tiba-tiba perutnya merasa mual. "Uwek... uwek..."


"Kamu kenapa sayang?" Chaka khawatir, menatap wajah istrinya.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa bau kamu tidak enak." jawab Yana.


"Aku pakai parfum biasanya kok." ujar Chaka.

__ADS_1


"Aku tidak tahu mengapa bisa seperti ini, lebih baik kita berjauhan sejenak." Yana sengaja berjalan ke dekat jendela, lalu menggeser tirai gorden.


”Sia-sia, aku menyuruh para pekerja pulang. Sudahlah, anggap saja sesekali beristirahat.” batin Chaka.


__ADS_2