
Chaka dan Yana melihat pengawal Belko, yang memindahkan barang-barang ke dalam rumah. Bibi Een turut serta membantu proses pindah tempat tinggal.
"Sayang, akhirnya misteri tak terpecahkan berhasil terkuak. Konflik sudah diselesaikan, dan yang jahat menerima ganjarannya." ucap Yana.
"Iya sayang, sekarang hanya ada tentang kita." Chaka melirik anak laki-lakinya, yang menggemaskan.
"Anak kita ini mau diberi nama apa?" tanya Yana.
"Namanya Arba Alexander." jawab Chaka.
"Bagus, keren sekali nama itu." ucap Yana.
"Tentu saja, aku tidak sekadar memberikan nama." Chaka tersenyum bangga.
Tok!
Tok!
Sebuah ketukan pintu mengalihkan pandangan keduanya, yang sedang asyik bermain dengan bayi baru lahir. Pengawal Belko berjalan membuka pintu, untuk mengambil barang pesanan Chaka. Mereka tampak bahagia, setelah memberikan mainan bunga kerincing berputar.
"Tuan dan nona muda, ada dua orang yang ingin bertemu." ujar pengawal Belko.
"Eh, Kenan dan Racisa. Ayo silakan duduk di ruang tamu." Yana menyambut mereka.
__ADS_1
"Rencananya, kami mau menginap." ujar Kenan.
"Jangan sungkan, seperti dengan siapa saja. Aku ini Kakak sepupu kamu." jawab Yana.
Bibi Een disuruh membawakan barang-barang mereka di ruangan terpisah. Kenan dan Racisa menyukai ruangan yang ditempati. Cukup lama mengamati, lalu memilih keluar dari kamar.
"Sekarang kalian pacaran iya?" tanya Chaka.
"Iya Kak." jawab keduanya serentak.
"Ingat iya, pacaran juga harus hati-hati." ucap Yana.
"Kami jarang berduaan Kak, Nenek akan marah padaku." jelas Racisa.
"Beruntung sekali, rumah ini sangat nyaman." ujar Bibi Een.
"Aku ikut tuan Chaka pindah ke sini, sedangkan kamu harus tetap di rumah lama." jawab pengawal Belko.
"Cih, aku juga ikut pindah. Aku sudah izin dengan nyonya Tasya." Bibi Een merasa gembira.
"Terus siapa yang mengurus rumah nyonya Tasya dan tuan Devin. Ah kamu, harusnya mencari asisten rumahtangga yang baru." Pengawal Belko kesal.
"Tenang saja, dia sedang menunggu pembantu lamanya kembali." Bibi Een mengedipkan mata.
__ADS_1
"Oh, Bibi Firma akan bekerja lagi. Bukankah dia sudah ditandai sebagai ...." Pengawal Belko enggan menyebutkan hal yang diketahuinya.
Malam malam di atas balkon, sambil menatap bulan purnama adalah keinginan keduanya. Yana tersenyum menepuk pipi bayi dengan lembut. Sesekali menggerakkan telunjuk ke arah langit.
"Sayang, besar nanti kamu akan jadi CEO, seperti Papa kamu iya." Yana melirik ke arah Chaka.
"Dia jadi apapun pilihannya, aku tidak akan memaksakan kehendak diri sendiri padanya." jelas Chaka.
Yana melihat tubuh bayi Arba bergerak-gerak, lalu menangis dengan kuat. Yana segera memberikan asi untuknya, lalu Arba menerima dengan antusias. Meski matanya masih terpejam, namun Yana dapat merasakan kebahagiaan putranya.
Chaka menggenggam tangan Yana. "Aku cinta kamu, menikah denganmu takdirku paling indah."
"Aku juga cinta kamu, berharap indah itu selamanya." Yana tersenyum.
"Jika sudah takdir, maka kita harus menjalaninya dengan cinta."
"Iya sayang, cinta telah membuka jalan yang luas." Yana memeluk Chaka, yang sudah merentangkan tangannya.
Kenan dan Racisa heboh berlari ke atas balkon, membawa alat pemanggang untuk membuat ayam matang. Mereka memberikan saos dan kecap, disertai dengan banyak cabai rawit. Beberapa jam setelahnya, sibuk menyuapi Yana dan Chaka.
"Kalian harus mencoba, ini enak sekali loh." ujar Kenan.
"Aku bisa makan sendiri, menunggu anakku tidur terlebih dulu." Yana malas disuapi, seperti tidak punya tangan.
__ADS_1
(Tamat)