
Yana mengikuti kelas ibu hamil dengan telaten, gerakan senam dilakukan bersama dengan Chaka. Benar-benar beruntung, mempunyai suami yang setia menemani.
"Sayang, nanti aku mau makan rujak angsa." pinta Yana.
"Boleh sayang, pinta saja apapun yang kamu mau."
"Aku mau kamu membeli sendiri, jangan menyuruh pengawal Belko."
"Tidak masalah." jawab Chaka.
"Tapi tempatnya antrian panjang." Yana menyebutkan kesulitan, yang sudah diketahui olehnya.
"Aku tetap bersedia melakukannya." jawab Chaka.
Chaka akhirnya menepati janji, dia mengantri dengan sangat lama. Tidak segan berdesak-desakan, karena kedai yang menjual rujak angsa sangat ramai. Chaka mengusap peluh yang menetes di dahinya.
"Eh, Kakak tampan suaminya nona Yana itu 'kan?" tanya perempuan berseragam sekolah putih biru.
"Iya." Chaka menjawab singkat.
"Boleh minta fotonya tidak?" tanyanya.
"Boleh." Masih menjawab singkat.
Cekrak!
__ADS_1
Cekrek!
Chaka sangat kaku saat menghadap kamera, membuat semua orang tertawa. Wajahnya yang tampan jadi menggemaskan, ketika menahan risih dikerumuni banyak orang.
"Senyum yang lebar dong Kak!"
"Aku mau didekatnya juga, beri ruang untukku."
"Ah kamu, aku yang duluan minta foto bareng kok."
"Hih, seumur hidup juga aku baru ini, bisa foto sama CEO."
Mereka malah berdebat, karena memperebutkan Chaka. Bersamaan dengan itu, rujak angsa pesanannya sudah diberikan. Mereka semakin sibuk, untuk cepat membidik sebelum Chaka pergi.
"Kak, ayo foto sebentar saja."
Akhirnya mereka puas, saat Chaka ganti gaya. Beberapa bidikan telah didapatkan, kemudian membiarkan Chaka berlalu begitu saja.
Sesampainya di depan pintu mobil, Chaka pusing sendiri. Dia risih melihat para manusia, yang tergila-gila dengan manusia. Yana melihat Chaka membuka pintu mobil, dengan raut wajah tidak enak dipandang.
"Kenapa cemberut, menjadi rebutan anak-anak sekolahan itu?" Yana menahan tawa.
"Iya, mereka terlalu ambisius." Chaka menghembuskan nafas dengan kasar.
Mereka sudah kembali ke rumah, melihat Kaila yang sudah berdiri di depan pintu. Yana duduk di kursi sofa, sedangkan Chaka mengambil piring di dapur.
__ADS_1
"Kakak Ipar, kenapa Kakak mau menuruti keinginannya?" Kaila bertanya, sambil tertawa-tawa.
"Tanpa alasan, yang aku tahu dia adalah tanggungjawab." jawab Chaka.
"Harusnya kamu tahu Kaila, bahwa aku ini cantik." sahut Yana.
"Oh iya, aku rasa hanya dilihat dari lubang pipet." Kaila mengejeknya.
Prepet! Pus! Tretet!
Yana tidak sengaja buang angin, karena tidak dapat menahannya lagi. Chaka menggelitik pinggang Yana, dan dia terus saja buang angin.
"Maaf iya semuanya, aku sudah tidak tahan lagi. Biasanya tidak seperti ini, tapi semenjak hamil jadi berubah." ujar Yana.
"Sudahlah Kak, jangan banyak alasan. Kakak tidak tahu saja, aku hampir pingsan terkena gas beracun. Perut Kakak sungguh pintar menciptakan bau tak sedap." gerutu Kaila.
"Adik ipar, kamu jangan mengeluh. Buang angin itu baik untuk kesehatan, daripada ditahan kamu akan kembung." ujar Chaka.
"Jangan di sini dong Kak Yana, 'kan bisa lari ke toilet." Kaila berpangku tangan.
"Kaila, Kakak merasa keram kalau capek. Sejak hamil muda, bawaannya malas sekali beraktivitas padat." Yana cemberut.
"Sudahlah sayang, tidak apa-apa kok." Chaka mengambilkan air untuk istrinya cuci tangan.
Febby mencoba baju dengan heboh, lalu dilempar lagi. Febby menyahut baju yang lainnya, menatap diri sendiri depan cermin. "Aku cantik." Febby berputar-putar.
__ADS_1
"Hahah... hahah... seperti penjual yang kagum pada barang sendiri."