
Jordy melihat Kaihan, dia segera berlari lompat-lompat. Kaila hanya memasang senyuman, namun tidak terlalu menggubris ucapannya.
"Eh Kaihan, kamu sekolah di sini juga?" tanyanya, dengan raut wajah ceria.
"Iya, Kaila 'kan ingin sekolah di sini." jawab Kaihan.
"Wah, wah, benar-benar tidak bisa terpisahkan." Jordy tersenyum menyebalkan.
"Sudahlah, ayo masuk ke dalam. Sekarang hari pertama MOS, aku dengar seniornya galak." jelas Kaila.
Mereka segera pergi meletakkan tas di dalam kelas sementara. Kaila, Kaihan, dan Jordy berlari ke lapangan upacara. Para senior melihat mereka terlambat datang, sementara yang lain sudah berdiri.
"Mengapa kalian terlambat?" tanya seorang perempuan, dengan bentuk badan tinggi kurus.
"Tadi ada urusan penting." jawab Jordy.
"Apa sekolah sangat tidak penting, hingga ada yang didahulukan dari disiplin waktu?" Kakak senior itu menatap tajam, satu persatu dari mereka.
"Meskipun sekolah penting, namun keluarga lebih nomor satu. Tidak heran, jika ada orang yang rela dimarahi demi keluarganya. Bahkan, dihukum seberat apapun akan dilakukan." bantah Kaila, dengan ekspresi menantang.
__ADS_1
"Lihat anak baru satu ini, sudah berani melawan senior." ujarnya.
"Junior juga manusia, pasti melawan bila ditindas. Satu lagi, aku adalah cucu dari konglomerat sejagat. Bila siapa pun menindasku, dia bisa ditendang dalam beberapa menit." Kaila tersenyum mengancam.
Beberapa kakak senior yang lain langsung terdiam, padahal tadi sibuk ghibah. Mereka memilih mengalah, dan memberikan hukuman yang ringan saja.
"Kamu dan teman-temanmu lompat kodok saja." ujarnya.
"Baiklah, aku akan melakukannya." jawab Kaila.
Pulang dari sekolah, makan kue bolu semalam. Kaihan melihat dekorasi pada kue, jadi tahu itu makanan istimewa. Semalam pasti ada kejutan, tentang perayaan ulang tahun Yana.
"Eh, kenapa kamu lancang memakannya? Bahkan, aku melihat kue ini masih utuh." tegur Kaihan.
"Kamu ini, selalu saja memuji diri sendiri." Kaihan mencubit kedua pipinya.
"Hahah... aku memang manis, lucu, dan imut." Kaila terbuka lebar mulutnya.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Suara ketukan pintu mengejutkan mereka, ternyata ada Kenan. Kaila tersenyum dengan mata berbinar-binar, melihat saudara sepupunya datang.
"Kak Kenan, mengapa tidak mengabari kalau mau datang." ujar Kaila.
"Biasa, aku sedang sibuk di Korea." jawab Kenan.
"Iya sudah, aku akan menyambut kamu dengan makan mie kuah hangat saja. Sekarang, mengobrol bersama temanku dulu." Kaila menoleh ke arah Kaihan.
"Baiklah, aku tunggu di kursi ruang makan." jawabnya.
Kaila tersenyum melotot, saat memutar tombol kompor gas. Setelah hidup, memasukkan air dingin. Beberapa menit menunggu hingga mendidih, baru memasukkan mie kering ke dalamnya.
Chaka dan Yana membuka lemari es, lalu melihat kue ulang tahun sudah tidak ada. Mereka berdua mendelik saling pandang, dengan baju jas kerja yang masih menempel di tubuh masing-masing.
Yana melihat Kaila yang sedang berjalan. "Kaila, di mana kuenya?"
"Sudah aku makan hahah..." Kaila tertawa renyah, tanpa dosa. "Semalam Kakak tidak bersedia menerimanya, jadi untukku saja."
__ADS_1
"Dih, tidak bilang-bilang lagi." ucap Yana kesal.
"Kalau sudah ditolak, apa salahnya diberikan padaku yang kelaparan. Aku tadi sangat gerah, tenaga terkuras habis karena marah." jawab Kaila.