Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Bermesraan Di Pojokan


__ADS_3

Keesokan harinya, Chaka dan Yana pergi ke perusahaan Alexander. Semua orang menunduk hormat, saat mereka memasuki pintu perusahaan. Meskipun di belakang, tiga orang mulai menghibahkan lagi.


Friyun melihat baju mereka yang kompakan warna. "Eh, jas mereka sama modelnya."


Artiya menggulung rambutnya sendiri. "Iya dong, mereka 'kan pasangan."


Salena mengingat saat Chaka masih lajang dulu. "Aku malah lebih senang saat dia masih belum menikah, masih bebas menggodanya."


"Dulu aku berharap, salah satu di antara kita bisa menikah dengannya." jawab Friyun.


"Mana mungkin, mereka itu memang teman sejak kecil." Artiya ikut nimbrung.


"Kenal sejak kecil tidak menjamin jodoh, tetap saja lebih pantas bersamaku." jawab Salena, dengan percaya diri.


Yana melihat desain rancangan barunya di komputer. Rencananya kursi tunggu konsumen, akan diletakkan di mall milik perusahaan Alexander.


"Dengan bentuk yang menarik seperti ini, pasti anak-anak akan duduk lebih lama. Jika orangtuanya ikut menemani, kesempatan pegawai mall melakukan promosi diskon. Meski total keseluruhan belum pasti berminat, namun beberapa orang pasti akan singgah." Yana berputar-putar dengan kursi kantornya yang empuk.


Setelah selesai dengan perencanaan desain peralatan perusahaan, Yana pergi ke tempat biasanya. Kegiatan kelas ibu hamil, akan menemaninya beberapa bulan ke depan.


"Silakan Ibu dan Bapak ke sana." ujar pelatih, yang menunjuk tempat paling pojok.

__ADS_1


"Aku mau di depan." bantah Chaka.


"Sudahlah sayang, di pojok malah lebih bebas." Yana merayunya, agar tidak berdebat lebih panjang.


"Berikan kebebasan untukku, dengan cara apapun." Chaka berucap dengan manja.


"Tenang, nanti kita bermesraan sepuasnya." bisik Yana, sambil tertawa kecil.


"Iya sayang, ayo kita mulai." Chaka lebih bersemangat, menggandeng tangan Yana.


Sampai di pojok kanan, Chaka mendekatkan wajahnya ke arah Yana. Semua orang fokus latihan, tidak melihat ke arah mereka. Kesempatan Chaka menyentuh bibir Yana, sampai memberikan kecupan satu menit.


Di rumah, tepatnya ruang utama keluarga.


"Sayang, aku tidak sakit. Jangan aneh-aneh iya permintaan kamu."


"Ini bukan permintaan aku, tapi anak kita yang menginginkannya." Yana sudah terlihat cemberut.


"Iya sudah, ayo sekarang lakukan yang kamu mau." Chaka melirik pengawal Belko.


"Jangan bilang, bahwa aku yang menjadi pelampiasan." Belko angkat tangan.

__ADS_1


"Kalau kamu masih ingin bekerja dengan keluarga Alexander, turuti saja keinginan istriku. Cepat cari kursi roda, di manapun berada." titah Chaka.


"Baik tuan muda." jawabnya bersedia.


"Eh tunggu, jangan lupa beli larutan penyegar yang ada badaknya. Oke?" Yana tersenyum menyebalkan, ke arah Belko.


"Baik nona muda." jawabnya pasrah.


Chaka dengan cepat memalingkan wajah Yana. Dia menyentuh pipi istrinya dengan lembut. "Aku tidak suka melihat kamu tersenyum penuh canda, dengan laki-laki selain aku seorang."


"Uluh, uluh ngambek, maafkan aku iya sayang." Yana merayu suaminya.


Tidak butuh waktu lama, Belko sudah menyediakan kursi roda. Yana tersenyum semangat, dorong-dorong suaminya agar segera duduk.


"Kamu duduk manis iya, Bidadari akan mengajakmu jalan-jalan." ucap Yana.


"Sayang, kalau kamu mendorongku pasti berat." jawab Chaka.


"Bukan aku yang mendorongmu, namun pengawal Belko yang akan melakukannya." Yana tersenyum ke arah Belko.


"Tidak masalah nona muda, ayo aku antar kalian jalan-jalan." Belko menepuk punggung Chaka, sambil tertawa lirih.

__ADS_1


”Apa mengidam seaneh ini, orang tidak sakit pun disuruh pakai kursi roda.” batin Chaka berbicara.


__ADS_2