
Dharmo mulai memutar tombol amplifier, dan suara rekaman berbunyi. Dharmo tersenyum, menghayal berjualan keliling. Dia duduk sambil menikmati air kopi, membayangkan banyaknya para pembeli. Tiba-tiba, suara amplifier mati sendiri.
"Haduh, ini kenapa mendadak mati?" Dharmo memeriksa mic sambil melotot, sampai ke arah lubang flash disk.
Awalnya ditiup tidak hidup juga, lalu dijilati tombol volumenya. Tiba-tiba suaranya hidup kembali, saat telinganya mendekat. Suaranya menjadi bertambah lebih kuat, terdengar tepat di lubang telinga.
Dharmo memukul alat tersebut. "Kurang asam ini alat, beraninya membuat telingaku sakit."
Saat telinga menjauhi mic tidak berbunyi lagi, jadi dipukul sekalian oleh Dharmo. Suaranya mulai muncul, namun putus-putus. Sungguh membuat kesal saja, sudah dicoba berulang kali.
"Mengapa Ayah menggerutu?" tanya Thara.
"Ini untuk jualan es krim di kampung, mengapa toa ini malah rusak." Dharmo memperhatikan speaker mini, yang biasa dipakai untuk berjualan keliling.
"Sini, biar Ibu bantu memukulnya." Thara membawa sapu, lalu melakukannya dengan semangat empat puluh lima.
"Hahah... hahah..." Dharmo tertawa, sambil terus memukul dengan lincah.
Febby heran melihat kedua orangtuanya, sudah semakin aneh. Jelas-jelas tinggal di rumah orang, nanti bisa malu dengan Artha.
"Kalian ini kenapa? Suami istri sungguh aneh." Febby geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Febby, ini namanya merayakan momen terakhir kali. Kalau Ayah pulang ke kampung, mana bisa tinggal di apartemen yang disewa Artha." jelas Dharmo.
"Setidaknya, Ayah dan Ibu sudah bisa tenang. Tidak seperti awal dulu, selalu khawatir bila kami berdua." ujar Febby.
"Kamu benar Nak, segalanya sudah lebih baik lagi." Thara memeluk putri tunggalnya, dan mendapatkan balasan dari Febby.
"Ditinggal menikah dengan anak sendiri ternyata sesedih ini." Thara belum puas memeluk putrinya.
"Iya Bu, sudah dewasa semua orang menjalani kehidupan masing-masing." jawab Febby.
Yana menarik lengan suaminya berulang kali dengan manja. "Sayang, aku mau buah-buahan segar. Ditambah lagi mau makan jengkol sambal, tapi masakan kamu sendiri."
"Bagaimana bisa bilang seperti itu, dicoba saja belum." ujar Yana.
"Pintar merayu, baiklah akan aku buatkan untuk kamu." Chaka mencubit pipi Yana.
Chaka merebus jengkol di dalam panci, lalu menggiling cabai dengan mesin blender. Chaka tertawa melihat cara Chaka memegang peranan di dapur. Dari tadi memasukkan jengkol, sambil lempar-lempar dari jauh.
"Sayang, cepat sedikit iya." Yana tersenyum saat Chaka menoleh.
"Sabar istriku, aku sedang tahap belajar." jawab Chaka.
__ADS_1
"Hahah... anak kita memang keterlaluan." Yana mengelus perutnya, membayangkan bayi mungil.
"Keinginan mamanya, mengapa anak kita menjadi korban." Chaka menggeleng heran.
Kaila mendekatkan telinganya ke perut Yana, terasa tendangan dalam perutnya. Kaila tertawa senang, karena sebentar lagi mempunyai ponakan. Tanpa terasa sebentar lagi Yana melahirkan, karena usia kandungannya sudah 6 bulan.
"Hei ponakan, doakan aku lulus. Aku mau pergi, aku harap kamu menendang perut Kakak dengan kuat." Kaila tersenyum menyebalkan.
"Dasar Bibi yang kejam, bisa-bisanya berdoa seperti itu." jawab Yana.
"Baiklah, Bibi yang kejam ini akan pergi." Kaila melompat-lompat.
Pagi yang cerah Kaila dan Kaihan melihat nilai kelulusan di majalah dinding. Kaila melompat-lompat sambil tersenyum, karena nilai ujiannya mendapatkan nilai tertinggi.
"Eh Kaila, selamat iya." ujar Isruni.
"Baiklah, terima kasih." jawab Kaila.
"Kaihan, setelah lulus mau lanjut sekolah di mana?" Isruni melihat ke arahnya.
"Hal yang berurusan dengan Kaihan, tidak ada kaitannya dengan kamu." jawab Kaila.
__ADS_1