
Saat sampai perusahaan, masih juga saling mendiamkan. Yana sesekali mengintip dari balik ruangan, yang tidak ditutup tirai.
”Suamiku lagi ngapain, mengapa berbicara sangat lama dengan perempuan. Dia marah mendadak, termasuk dalam ciri-ciri perselingkuhan.” batin Yana menduga-duga.
Chaka menoleh ke arah kaca ruangan, Yana segera fokus kembali ke laptopnya. Chaka tersenyum diam-diam, memperhatikan istrinya dari kejauhan.
"Pasti kamu sangat kesal, biarkan saja. Saat aku memberi kejutan, kamu juga akan terharu. Mungkin lompat-lompat kegirangan, karena ternyata suamimu lebih romantis dari suami drama." Chaka hampir cekikikan sendiri, beruntung karyawati perempuan tadi sudah keluar.
Saat jam makan siang, Yana mengikuti di belakang. "Aku pasti akan memergoki kamu, lihat saja saat tertangkap basah. Enyahlah perempuan yang telah menjadi penggoda."
Chaka membeli perhiasan disebuah toko, dengan kotak yang berwarna merah. Yana merasa heran, karena marah tidak masuk akal. Suaminya seperti mencari-cari alasan, agar Yana tidak menegurnya seperti sekarang. Baru saja curiga, seorang perempuan muncul di depan Chaka.
"Ada apa tuan menyuruhku datang ke sini?" tanyanya.
"Aku ingin kamu mencoba kalung ini, tapi pasang sendiri iya." Chaka berbisik lirih.
"Apa yang mereka bicarakan?" Yana bertanya-tanya sendiri, tapi kesulitan untuk menguping pembicaraan.
Perempuan tersebut memasang kalung berbentuk love, lalu tersenyum ke arah Chaka. "Menurutku, kalung ini bagus untuk istri tuan."
"Tentu saja, aku ingin memberikan padanya." jawab Chaka.
__ADS_1
"Semoga rencananya berhasil iya." Berbicara terlihat akrab.
"Terima kasih." jawabnya.
Yana segera pergi, sebelum melihat perempuan itu melepaskan kalungnya. Sepanjang perjalanan dia menangis, sampai perutnya merasa keram. Tiba-tiba, dia bertemu dengan Febby.
"Yana, kamu kenapa jalan sendirian? Ayo naik ke motorku." ajak Febby.
"Aku sedih sekali, kebetulan ada yang ingin aku ceritakan." jawabnya.
Yana naik ke atas motor, lalu melaju ke arah apartemen. Yana tersenyum melihat apartemen besar itu, dengan ruangan tempat tinggal yang disulap nyaris sempurna.
"Sahabatku, kamu tidak biasanya berbicara seperti ini. Apa ada sesuatu yang terjadi, antara kamu dan Chaka?"
"Suamiku selingkuh, dengan teman sekantornya." Yana curhat.
"Apa sudah pasti?" Febby menatap mata sahabatnya dalam-dalam.
"Laki-laki beristri kalau tidak selingkuh, mana mungkin membeli kalung diam-diam." Yana sampai meneteskan air matanya.
"Nah, ini memang patut dipertanyakan." ujar Febby.
__ADS_1
"Kami sedang marahan, dia terus saja mendiamkan aku." jawab Yana.
Saat Yana kembali ke rumah, dia terkejut melihat ruangan gelap. Tidak ada siapapun juga, padahal sudah malam. Yana berjalan pelan-pelan, memanggil nama semua orang.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Yana, sambil mengarahkan senter ponsel ke wajah sendiri. Yana terkejut, sampai berteriak-teriak.
"Aaa.... setan!"
"Dih, ini aku Kakak." jawab Kaila, hampir tertawa lantang.
Chaka tiba-tiba muncul di hadapan Yana, sambil membawa kue bolu di tangannya. Bersamaan dengan itu, lampu rumah menyala. Terlihat terang benderang, bahkan berwarna pelangi.
"Happy birthday sayang aku, ayo potong kuenya." ucap Chaka.
"Apaan si kamu, tidak lucu bercanda seperti ini." jawab Yana ketus.
"Ini kejutan, maaf telah membuat kesal." ujar Chaka.
"Aku tidak mau memaafkan sifatmu ini. Kekanak-kanakan!" Yana segera meninggalkannya, menuju ke kamar.
Kaila, Devin, dan Tasya merasa gagal, dalam merencanakan kejutan istimewa.
__ADS_1