Menikah Denganmu Takdirku

Menikah Denganmu Takdirku
Membuat Alasan


__ADS_3

Di dalam perjalanan, mereka berjumpa dengan Ronal. Yana mendapatkan sapaan darinya, lalu Ronal juga mendapatkan sapaan balik.


"Hai Yana!" sapa Ronal.


"Hai juga Ronal." jawab Yana.


"Kamu kok anehnya gak takut sama Ronal, tapi malah takut sama suami sendiri." ucap Febby.


"Iya dong, karena Ronal itu buta. Dia juga kalem, tidak galak kayak Chaka." jawab Yana.


"Yaelah, Chaka bukan galak tapi ganteng." puji Febby.


"Febby, Febby, kalau kamu mau ambil saja." jawab Yana.


"Aku mau mengambilnya jadi suami, kalau dia bisa romantis seperti pria India. Dia akan berlari di tengah hujan, lalu memayungi aku yang terkena rintikan derasnya." ujar Febby.


Yana menepuk jidatnya satu kali. "Imajinasi kamu liar juga, bagaimana mungkin memiliki fantasi alai."


Ronal tertawa mendengar perbincangan mereka. Apa lagi penuturan Febby yang penuh drama.


Chaka melihat mereka yang sedang mengobrol dari kejauhan. Chaka merasa kesal, melihat Yana nyaman bersama pria lain.


"Katanya takut sama pria, tapi bergaul sama banci. Kenapa disebut banci, karena dia berani mendekati istri orang." Chaka mengoceh panjang dan lebar.

__ADS_1


Chaka meneruskan ucapannya. "Eh, aku bilang apa tadi? Istri? What istri? Sejak kapan aku menganggapnya, bukankah dari kecil dia hanya bocah ingusan."


Sampai di perusahaan, Chaka mengomeli karyawannya. Tidak peduli sudah lama, ataupun yang baru masuk.


"Kenapa lantai masih kotor seperti ini, apa kalian tidak membersihkannya." gerutu Chaka.


"Kami sudah bekerja dengan baik tuan, tapi kotor sedikit adalah hal wajar." jawabnya.


"Apa bila wajahmu terdapat jerawat sedikit, itu juga hal wajar?" tanya Chaka.


"Tentunya, aku tidak mau." jawab perempuan muda itu.


"Sama seperti perusahaan ini, tidak boleh kotor sama sekali. Terutama bila aku melewatinya, masih ada debu-debu yang menempel." Chaka menunjuk buku-buku.


”Dasar tuan Chaka, sudah gila kebersihan. Dia tidak melihat apa, bahwa dahi kami sampai berkeringat. Lantai sudah mengkilat, masih saja dibilang kotor.” batinnya.


"Apa mata kalian harus sampai keluar, kalau ingin memberi hormat pada atasan?" tanya Chaka.


"Tidak tuan." jawab semuanya.


"Pergi sana, bersihkan lagi ruangan ini." titah Chaka.


"Baik tuan." jawab semuanya.

__ADS_1


Mereka segera berlalu, dari hadapan Chaka. Membersihkan ruangan, hingga lebih mengkilat lagi. Sebenarnya Chaka hanya melampiaskan amarah, padahal sudah terlihat bersih. Sementara Yana dan Febby sudah sampai, pada rumah Yana Creator.


"Eh Yana, aku sudah mencoba aplikasi pencari jodoh." ucap Febby.


"Aku juga ingin mencobanya, siapa tahu jodohku orang yang tidak mau menyentuh wanita." Yana mengatupkan tangannya, sambil tersenyum.


"Kamu kok aneh banget si, tidak mungkin ada yang seperti itu." ujar Febby.


"Pasti ada, satu di antara belahan dunia ini." jawab Yana, dengan yakin.


Sebelum Chaka pulang ke rumah, Yana sudah berada di rumah duluan. Dia tidak ingin, bila suaminya marah-marah.


"Dasar banyak pengatur, padahal aku juga bisa sendiri." Yana melompat-lompat gembira.


Tiba-tiba, Chaka muncul di depannya. Padahal, awalnya Yana mengira dia belum pulang. Yana nyengir, sambil menggaruk kepalanya.


"Kenapa kamu tetap keluar rumah?" tanya Chaka.


"Hari ini, aku ada keperluan ke mall." alibi Yana.


"Jangan banyak alasan, aku punya Cctv pengintai berjalan." ujar Chaka.


"Oh gitu iya." jawab Yana, sambil menunduk.

__ADS_1


"Jangan berlagak polos kamu, tadi juga kabur." ucap Chaka.


"Terserah kamu, aku mau istirahat di kamar." jawab Yana.


__ADS_2