
Saat Rafli sudah sampai dirumah langsung menuju kamar.
"Sayang, kamu nunggu lama ya" Tanya Rafli.
"Engga kok mas, ini tadi abis telfon sama ibunya Jeny, sini jaz sama tasnya" Jawab Rania sambil membawakan tasnya Rafli ke rak tas.
"Membicarakan soal apa ran?" Tanya Rafli
"Ibunya Jeny khawatir soal Jeny mas, soalnya Jeny akhir akhir ini tampak berbeda, aku juga mengkhawatirkannya, tadi aku sudah ketemu sama bryan, ngomongin soal Jeny, abisnya aku gedeg banget mas, cowo itu bener bener ga pantes buat Jeny" Jawab Rania kesal.
"Iya sudah Ran, kamu harus dukung Jeny, kamu menawarkan sebagai tempat curhat untuk Jeny, iyaa agar mengurangi rasa sedihnya, tapi kalau Jeny terus terusan masih pacaran dengan bryan apa bedanya Ran?" Tanya Rafli
"Itu yang aku sedang permasalahkan mas, kenapa Jeny ngga udahan aja sama si bryan" Jawab Rania kesal
"Iya sudah, itu butuh waktu sepertinya".
"Ooh iya mas, makan ya, aku sudah masakin buat kamu, ayo makan" Rania sambil memegang tangan Rafli, menarik nya menuju ruang makan.
"Iya sayang" Jawab Rafli.
Setelah sampai di ruang makan, Rania memanggil bi Diyah untuk makan bersama.
"Bi Diyah, mari kita makan bersama bi" Rania berteriak
"Iya sebentar non" Jawab Bi Diyah dari ruangan depan.
Rania mengambilkan makanan untuk Rafli dan dirinya.
"Mas, maaf ya kamu cuti seminggu jadinya kerjaan kamu numpuk kayagini gara gara liburan sama aku" (Rania merasa bersalah)
"Loh, memangnya kenapa? itu perusahaan punya mas, tidak masalah sayang " Jawab Rafli sambil menarik hidung Rania.
"Ihh sakit tau mas" Rania merengek.
"Iya sudah, jangan bilang kayagitu lagi ya sayang"
"Iya iya mas, abisib dulu makanannya".
Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka menuju ke kamar untuk beristirahat.
Tiba saatnya masuk sekolah.
Rania tampak antusias untuk masuk sekolah di semester genap, karena sudah lama tidak sekolah. Rania menyiapkan buku untuk sekolah dan menyiapkan pakaian untuk dipakai kerja Rafli.
__ADS_1
"Mas, hari ini aku berangkat sekolah" Rania senang
"Oh iya? Semangat belajarnya ya sayang, ini masa masa terakhir mu di sekolah" Jawab Rafli ikut senang.
"Iya mas, makasih"
"Ran, mas mau tanya sesuatu" Tanya Rafli serius
"Tanya apa mas?" Tanya Rania.
"orang tuaku sudah minta cucu Ran, bagaimana dengan pendapat mu?" Tanya Rafli.
Rania terdiam sejenak dan memikirkannya.
"Aku sebenarnya siap untuk hamil, tetapi kan aku masih sekolah, apakah mereka mau menunggu hingga tiba saatnya?" Tanya Rania.
"Mungkin mau menunggu, mereka juga tahu kalau kamu masih sekolah, ya sudah jangan terlalu di pikirkan, kamu fokus sekolah aja sayang" Rafli sambil mencium kening Rania.
"Iya baiklah mas, aku akan fokus sekolah".
------------------------------------
Di sekolah, teman teman Rania memandang Rania dengan senang. Lalu Jeny menghampirinya.
"Rania.." Jeny memanggil Rania dengan raut sedih.
"Aku hanya mengatakan ini kepadamu Ran, aku tidak tahu harus mengatakan kepada siapa lagi Ran, tolong bantu aku cari jalan keluarnya Ran" Jeny menangis.
"Aku akan membantumu, tapi kamu kenapa?" Tanya Rania.
Setelah itu Jeny menunjukan testpack yang hasil nya positif. Rania yang melihatnya pun kaget.
"Jen, ini kamu serius, anak bryan?" Tanya Rania.
"Iya Ran, aku harus bagaimana Ran, tolong bantu aku" Jeny menangis.
"Jen, jangan menangis disini, nanti kita bicarakan lagi, simpan itu testpackmu, sebentar lagi ada guru datang, tenang saja aku pasti akan membantumu"
Lalu jeny kembali ke bangkunya. Guru pun sudah datang ke kelas mereka. Rania memandang Jeny , dia lemas tidak berdaya, Rania merasa kasihan melihat Jeny. Setelah pulang sekolah Rania berniat untuk mengajak Jeny untuk ke dokter kandungan untuk memastikannya lagi. Pada saat jam istirahat Bilqis dan Okti mengajak Rania dan Jeny untuk ke kantin, tetapi mereka menolak.
"Ran, kita ke kantin yukkk, aku laper banget nih" Okti merayu.
"Ayo lah jen kamu emang ga laper?" Tanya Bilqis ke Jeny
__ADS_1
"Aku ngga laper kok Bil" jawab Jeny.
" Tapi kamu lemes banget, lesu, kamu ngga sakit kan?" Tanya Bilqis.
"Iya beneran, aku nggapapa" Jawab Jeny lemas.
"Iya udah deh, kalo gitu aku duluan ya".
Okti dan Bilqis pun pergi ke kantin.
Sementara Rania dan Jeny akan membicarakan masalah yang tadi. Mereka memilih tempat yang sepi untuk berbincang.
"Jeny, nanti sepulang kita sekolah, aku akan bawa kamu ke dokter kandungan, plis kamu mau ya, demi kebaikan kamu" Rania memohon.
"Tapi aku takut Ran" jawab Jeny ragu.
"Tidak usah takut, cuma ngecheck apakah benar kamu hamil atau tidak nya, plis aku mohon, kalau kamu beneran positif hamil, aku akan minta pertanggung jawaban Bryan, titik!" Rania agak kesal.
"Jangan Ran, aku nggapapa, bagaimana dengan sekolahku nanti?" Tanya Jeny.
"Aku juga lagi bingung Jen, sekarang kan baru bulan Januari, kemungkinan kalau nanti kelulusan kita kandunganmu 5 bulan kurang lebih, mungkin bisa di tutupi pakai korset barangkali? Tapi itu mempengaruhi janin mu tidak ya?" Rania pu ikut bingung.
"Entah lah Ran, aku sudah pasrah" jawab Jeny.
"Hey, jangan begitu Jen, kamu semangat, ingat kita sekolah tidak lama lagi kok, sabar dan semangat ya Jen, aku sayang kamu sebagai sahabat ku, aku ngga mau kamu kenapa kenapa Jen, aku janji bakal membantu mu kok" Rania memeluk Jeny.
"Terima kasih Ran, kamu mau mengerti perasaanku" Jeny terharu.
"Iya sama sama. Ooh iya kemarin ibu mu telfon aku Jen, dia khawatir sama kamu, aku jadi bingung Jen, apa sebaiknya kamu jujur saja? Eh tapi..." (tiba tiba terpotong pembicaraan nya karena ada bel masuk)
"Ya sudah, nanti intinya kamu ke dokter kandungan dulu ya, sama aku. Nanti kita kesana naik taksi aja, motorku di sekolah dulu, nanti aku titip sebentar ke satpam, udah ya kamu semangat" Rania sambil memegang tangan Jeny.
"Baiklah, terimakasih banyak ya ran" Jeny terharu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KASIH RATE YA KAWAN KAWAN🤗