Menikah Muda Rania

Menikah Muda Rania
EPISODE 5


__ADS_3

"Tuan" Bi Diyah ragu.


"Ada apa Bi?" Tanya Rafli.


"Begini, anakku sedang sakit di kampung, tidak ada yang mengurusnya, apakah saya boleh pulang untum mengurus anak saya?" Tanya bi Diyah sambil menunduk.


"Tentu saja boleh, mau kapan pulang? besok?"


tanya Rafli.


"Iya tuan, karna saya sudah khawatir"


"Baiklah, siap siap untuk pulang besok. Ini pesangon dari ku bulan ini, gunakan untuk pengobatan anakmu" Rafli sambil memberi amplop.


bi Diyah pun membukanya.


"Tuan, apakah ini tidak kebanyakan, biasanya kan tidak sebanyak ini" Tanya bi Diyah.


"Selebihnya buat perawatan anakmu bi"


"Terima kasih tuan"


Lalu bi Diyah lekas ke kamarnya untuk bersiap esok hari akan pulang kampung. Rania pun mendengarkan percakapan mereka lalu menghampiri Rafli.


"Kasian ya bi Diyah, anaknya sakit. Aku jadi inget ayah"


"Iya, makanya aku memperbolehkan nya pulang"


"Bagaimana dengan pekerjaan rumah mas? Hmm, Biar aku saja, aku bisa sih, tapi ga sesempurna bi Diyah" ujar Rania.


"Emang kamu nggapapa? Kamu kan sibuk sekolah Ran?" Tanya Rafli.


"Aku nggapapa kok, aku dirumah sering diajarin ibu pekerjaan rumah tangga, kata ibu ga boleh manja, nanti kelak yang ngurusin suami siapa? kalo bukan aku" Rania menjawab.


"Ya kamu lah Ran, kamu kan istri ku"


"Iya, bener bener terjadi aku udah nikah, ga nyangka aja loh mas, aku merasa kaya baru di gendong ayah kemarin, sekarang udah nikah aja" Rani menggerutu.


"Hahah, emang tidak terasa Ran, kamu sudah dewasa bahkan sudah menikah denganku. Ooh iya, apakah kamu paham tentang tujuan menikah?" Tanya Rafli.


Rania sempet diam dan teringat sesuatu, bagaimana jika Rafli meminta haknya sebagai suami, apa yang harus dilakukan nya? Bagaimana sekolahnya jika harus hamil, tanggung karena tingga satu tahun lagi.


"Kenapa bengong Ran?" Tanya Rafli.


"Enggapapa mas, aku hanya tadi sedang berfikir. Aku paham, melayani suami dengan baik kan?" Jawab Rania.


Rafli hanya tertawa, dan yang membuat Rania bingung, kenapa dia tertawa.


"Kok malah ketawa sih mas? Aku benarkan?" tanya Rania.


"Iyaa, salah satunya itu. Ya udah ya, aku mau ke kamar dulu, kalau kamu mau makan dulu, makan aja, pasti sudah lapar"


Lalu, Rafli menuju kamarnya. Rania mengambil makan untuk dirinya sendiri dan berfikir. Apa konsep pernikahan sesungguhnya? Rania yang baru ABG tentu saja belum tahu hanyak tentang itu. Setelah menghabiskan makanannya, lalu pergi ke kamar untuk tidur persiapan besok sekolah.


Keesokan harinya.


Bi Diyah sedang bersiap siap untuk pulang. Dan Rafli menghampiri bi Diyah.


"Sudah siap Bi?" tanya Rafli


"Sudah tuan, terima kasih atas kebaikan tuan kepada saya".


"Sama sama, aku juga terima kasih" jawab Rafli.


"Tuan, tadi saya sempat memasak. Silahkan di santap" Bi Diyah ceria.


"Terimakasih bi".


Lalu bi Diyah pergi pulang ke kampung halamannya. Rania pun keluar, sudah siap berangkat sekolah, lalu menuju ruang makan untuk sarapan.

__ADS_1


"Mas, bi Diyah udah pulang ya? yah ga asik dong, orang nya baik kok" Rania sambil mengambilkan makanan untuk Rafli.


"Iya sih, tapi mau gimana lagi, hari ini sekolah mau mas antar ? " Tanya rafli


"Ngga usah mas, aku udah bawa motor kok"


"Ya sudah".


Lalu mereka menghabiskan sarapan nya. Rania menuju ke garasi disusul Rafli yang akan naik mobil. Rania memakai helm, jaket agar safety saat perjalanan. Lalu Rania pamit ke suaminya itu.


"Mas, Aku berangkat sekolah dulu ya" Sambil mencium punggung tangan Rafli.


"Iya sana, hati hati tidak usah mengebut, sante aja" Rafli kepada Rania.


"Iya mas"


Lalu Rania melajukan motornya untuk berangkat sekolah, dan Rafli menuju kantornya. Saat tiba dikantor, para karyawan memberi hormat kepada Rafli mengucapkan selamat pagi. Lalu di sambut oleh sekretaris nya Emi.


"Selamat pagi pak, jadwal bapak hari ini lumayan padat" Sambil memberikannya teh hangat.


"Memang apa saja?" Tanya Rafli.


"Ada rapat dengan investor dari Perusahaan pak Yosep. Lalu janji makan siang bersama dengan Ibu Sari pemilik Chila Bakery, dan nanti sore jam 3 sore ada acara ulang tahun nona Yessa di Hotel pak" Emi membacakan jadwal.


"Hm, kalo begitu nanti kamu ikut saya rapat dengan investor nya pak Yosep ya"


"Baik pak, saya permisi dulu"


Emi adalah sekretaris Rafli, dia sudah menikah hanya saja belum di percayai memiliki keturunan. Emi sekretaris yang profesional.


Lalu tiba saatnya rapat dengan investor, Rafli dan Emi menuju ruangan untuk rapat. Belum datang investor nya, lalu Rafli memainkan ponsel. Tiba tiba ada telfon masuk dengan nama kontak "My Young Wife" lalu diangkat.


"Ada apa Ran?"


"Mas sibuk ga?" Tanya Rania.


"Iya Ran, ini sebentar lagi mau meeting"


Rania yang mendengarkannya pun kaget, sesak dan memikirkan hal yang aneh-aneh, siapa wanita itu? Apakah pacar mas Rafli? entahlah. Tidak lama kemudian telfonnya terputus.


"aneh ini anak, ada apa tumben telfon" Batin Rafli.


Lalu investor datang dan langsung mulai meeting.


Di sekolah Rania.


Bilqis melihat Rania yang agak murung, tumben dia murung seperti itu.


"Hey Ran, Kenapa kamu?" Sambil menepuk pundak Rania.


"Eh bilqis, nganggetin aja kamu tau" Rania ngambek.


"Kamu kenapa, cerita coba, aku tau kamu pasti sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Bilqis.


"Aku lagi mikirin suami ku itu pergi sama siapa yah, suara cewe" Rania menjawabnya.


"Apah? Suami? Aku ga salah denger kan Ran?" Tanya Bilqis.


"Jangn keras-keras qis, ini masih jadi rahasia, nanti kalo satu kelas denger bisa gawat aku, Iya suami aku" Rania menjawab.


"Kapan kamu menikah? Kenapa kamu ga cerita sama kita kita?"


"Baru minggu kemaren, karna perjodohan ayahku, itu permintaan ayahku, tau sendiri bil, aku ga bisa menolak permintaan ayahku" Rania menjawab.


"Ooh begitu, kamu sendiri bahagia dengan pernikahan itu?" Tanya bilqis.


"Awalnya aku ga suka Ran, orang aku gak cinta, tapi aku jalani aja deh apa yang ada" Jawab Rania


"Kalau kamu hamil bagaimana Ran?" Tanya bilqis

__ADS_1


"Dia tidak menyentuhku, jadi aku tidak khawatir dengan itu" Jawab Rania.


"Ooh begitu, bagaimana si rupanya suami mu itu?"


"Nih fotonya, di foto profil WA" Rania sambil menunjukkan kepada Bilqis.


"Wahhhhh, ganteng nih. Ini bos besar loh Ran, kamu gatau?" Tanya Bilqis.


"Enggatau, aku ga pernah tanya tanya sama dia" jawab Rania.


"Gila kamu, istrinya gatau" Jawab Rania.


"Iya, aku sih bodoamat" Nada Rania ketus.


"Hmmm yaudah, kita ke kantin yuk, tadi Okti sama Jeny udah duluan kesana."


"Yaudah hayukkk".


Lalu mereka menuju kantin dan mendekati Okti dan Jeny yang sedang makan disana.


"Ran, Bil kamu baru ke kantin?" Tanya Okti.


"Iya tadi aku ngobrol bentar sama Rania" Jawab Bilqis.


"Ngobrol apaan emang, kayanya asik benerrr" Tanya Okti.


"Rania udah menikah"


Sontak Okti dan Jeny langsung memandang Rania yang sedang santai makan.


"Serius Ran?" Tanya Okti.


"Hmmmm" jawab Rania singkat.


"Wah parah ga cerita cerita, payah kamu, kan masih sekolah Ran, ngebet banget yakk?" Tanya Jeny.


"Berarti kemaren kamu ijin sekolah itu buat nikah Ran?" Tanya Okti yang cerewet.


"Iya iya, maaf aku ga cerita soalnya dadakan" Jawab Rania.


"Pantesan kemaren ngga tanya tugas, ternyata sibuk ena ena" Jeny sambil tertawa kecil


"Eh, jangan salah, aku beda kamar sama dia" jawab Rania santai.


"Dimana mana suami istri itu satu kamar Ran, ini aneh, beda kamar"


"Gatau, dia yang minta, mungkin ngerti aku masih anak sekolah".


Lalu bel masuk pelajaran mereka pun masuk ke kelas sampai akhir pelajaran. Mereka pulang ke rumah masing masing. Rania menuju parkiran motor, sedangkan teman teman nya dijemput pakai mobil pribadi oleh orangtuanya, Rania agak sedih ketika melihat teman nya dijemput ayahnya, tapi dia ingat ayahnya sedang sakit. Lagian asik juga pulang naik motor, Rania pun memakai helm dan jaket langsung berjalan ke Rumah Sakit untuk melihat ayahnya. Sesampainya di rumah sakit, ayahnya sedang di suapi oleh Ibu.


"Ibuu..Ayahhh..." Rania memeluk ayahnya.


"Eh anak ayah, kamu sudah pulang, mana suami mu? Tanya ayah


"gatau"


"Loh, kok gatau Ran, apa dia tidak mengabari mu?" Tanya ayah.


"Bilangnya sih rapat, tapi aku ga peduli, sudahlah ayah. Bagaimana ayah sudah baikan , apa dada ayah masih sakit?" Tanya Rania.


"Ayah baik baik saja Ran. Jangan begitu ya sama suami. Sekarang tanggung jawab ayah sudah berpindah sama suami mu. Bukan sama ayah lagi, ingat itu. Kamu belajar lah menjadi istri yang baik, tanya ibumu bagaimana cara menjadi istri yang baik, ibumu itu istri terbaik ayah loooo...." tersenyum sambil melihat ibunya, ibunya pun ikut tersenyum.


"Tuh ran, dengerin kata ayah"


"Iya iya ibu" Rania agak kesal.


.


.

__ADS_1


.#Semoga kalian suka cerita ku❤


jangan lupa like novel dan vote yaa 😚


__ADS_2