
Rania dan Rafli pun kembali kerumahnya untuk beristirahat. Dan sambil memikirkan nasib sahabat nya Jeny.
"Mas, aku ngga nyangka aja, jeny akan seperti ini" Rania sambil membereskan ranjangnya.
"Iya kadang ada sesuatu yang memang kita tidak inginkan sayang" Jawab Rafli yang sedang duduk di sofa.
"Sebenarnya aku sudah siap hamil mas, ngeliat Jeny, jeny seperti nya sayang sekali sama bayi dalam perutnya" Ucap Rania sambil merebahkan tubuhnya di ranjang tadi.
"Tapi mas akan ngerti kok keadaanmu sekarang, gapapa mas tahan dulu" Rafli sambil menyusul Rania di ranjang untuk todur setelah seharian pergi.
Keesokan harinya.
Rania bangun karena ada yang aneh pada tubuhnya, Rania langsung pergi ke kamar mandi, disana dia muntah muntah, Rafli yang mendengarnya pun terbangun.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Rafli
"Aku gapapa mas" teriak Rania dari kamar mandi
Lalu Rania keluar dari kamar mandi.
"Kamu kok pucet si sayang? sakit yah gara gara kemaren kita seharian pergi, ngga usah berangkat sekolah dulu aja deh, nanti mas izinin ke sekolah gimana?" Tanya Rafli
"Tapi mas..."
"Udah, lihatlah kondisi mu sekarang, istirahatlah dirumah, nanti biar aku siapkan sarapan untuk mu juga".
Lalu Rafli menuju dapur menghampiri bi diyah untuk menyiapkan makanan.
Setiap pagi Rania merasakan muntah muntah, seketika dia teringat Jeny yang pernah bilang keluhan nya.
"Apa mungkin aku sama kaya Jeny? Hamil?" Batin Rania.
Rania lalu mengecek kalender yang dicoreti untuk jadwal haidnya, dan benar saja sudah telat satu bulan.
"Mas, mas dimana, aku mau ngomong sesuatu" teriak Rania
"Bentar sayang, mas mau menyelesaikan ini dulu"
Lalu Rafli menghampiri Rania
"Ada apa sayang?" Tanya Rafli
"Mas, terakhir kita ngelakuin itu kapan?" Tanya Rania
"Hemm, kapan ya? Minggu kemaren kan?" Tanya Rafli.
"Mas inget ngga selama kita ngelakuin itu mas ga pake pengaman kan?" Tanya Rania.
"Bentar bentar" (Rafli sambil mengingat)
"Iya maaf sayang mas lupa, yang kemarin kemarin lupa tidak memakainya" Jawab Rafli gelisah.
Lalu Rania menunjukan kalender jadwal haidnya.
"Ini maksudnya apa Ran?" Tanya Rafli sambil bengong karena bingung.
"Aku telat satu bulan" Jawab Rania
"Maksudmu, kamu hamil gitu Ran?" Tanya Rafli yang makin bingung.
"Aku nggatau mas, yang pasti mas mau kan , beli testpack di apotek buat memastikan?" Tanya Rania.
__ADS_1
"Ya sudah aku berangkat ke apotek sekarang".
Rafli langsung menuju Apotek terdekat dan membeli beberapa testpack.
"Maaf mbak, saya mau beli testpack alat tes kehamilan" Tanya Rafli kepada apoteker.
"Ini banyak jenis nya pak, ada yang mahal, yang biasa ada juga" (apoteker sambil menunjukkan beberapa testpack)
"Saya beli berbagai merk, ini, ini dan ini" Sambil menunjukan beberapan testpack
"Baik pak silahkan ke kasir untuk melakukan pembayaran".
Setelah itu Rafli langsung pulang dan menghampiri istrinya.
"Sayanggg..aku sudah beli ini" Rafli berteriak ke kamar.
"Iya mas taro aja disitu, tadi aku abis muntah lagi" Jawab Rania dengan wajah lesu.
"Kamu gapapa kan sayang? apa kita ke dokter saja?" tanya Rafli.
"Tidak usah mas, aku hanga ingin memastikan ini dulu".
Lalu Rania membuka testpack dan melakukan tes kehamilan.
Dari ketiga testpack tersebut bergaris dua tetapi samar samar jadi Rania dan Rafli juga bingung.
"Garis dua kok tapi samar samar ya mas?" Tanya Rania sambil memandangi testpacknya.
"Ya udah mastiin aja, kita ke dokter buat mastiin, kita berangkat sekarang juga".
Rafli memilih dokter yang perempuan. Dokter Erin. Dokter Erin merupakan teman mama Rafli.
"Bagaimana keluhan anda nyonya?" Tanya dokter Erin.
"Hemm begitu, coba mari ikut saya, USG dulu"
Perawat pun mengoleskan gel di perut Rania, Rania tampak pucat sambil memegang tangan Rafli. Rafli pun tampak menenangkan Rania.
"Lihatlah, disitu terdapat gumpalan darah yang berarti nyonya Rania positif hamil, sekitar 6 minggu" Dokter Erin sambim menunjukan hasil USG.
Rania dan Rafli saling menatap bingung.
"Berarti saya beneran positif hamil dok?" Tanya Rania.
"Iya, kandungan nya cukup kuat juga bu, tetapi tetap jaga pola makan" Jawab Dokter Erin.
Rafli antara bingung, sedih atau mau bahagia? Jelas bahagia, ketika dia tau akan menjadi seorang Ayah, tetapi dengan Rania
Setelah dari dokter tadi. Rania pun menunjukan wajah bingung.
"Mas..." Panggil Rania
"Kenapa sayang?" Jawab Rafli
"Aku bahagia banget, aku mau jadi ibu, aku mengandung anakmu juga.." Rania bahagia.
"Maafin mas yah, gara gara mas kamu jadi hamil, mas udah janji ga buat kamu hamil dulu sebelum kelulusan, tapi lihatlah sekarang, maafin mas ya sayang..." Rafli sambil memegang tangan Rania.
"Gapapa sayang, aku gapapa, emang selayaknya kan begini, aku istrimu kewwajibanku seperti ini, cuman memang keadaan yang begini, maafin aku menghalangimu ingin mempunyai anak mas, sudah saatnya di usiamu sudah memiliki anak, dan lihatlah, kamu sudah punya anak, kamu akan jadi ayah" (Rania menempelkan tangan Rafli ke perut nya yang masih rata).
"Makasih ya sayang" Rafli senang.
__ADS_1
Tiba-tiba Jeny menelfon.
"Hallo Ran? kamu sakit? kamu tidak apa apa kan? bagaimana keadaanmu?" Tanya Jeny
"Aku tidak apa apa Jen, kamu bisa kerumah mas Rafli sekarang?" Tanya Rania.
"Bisa Ran, aku kesitu sekarang?" Tanya Jeny
"Iya sekarang Jen, aku tunggu hati hati dijalan" Jawab Rania.
Jeny pun lekas pergi kerumah Rania dan Rafli. Tak lama kemudian sampau dirumah Rafli.
tok. tok. tok.
"Assalamualaikum, Ran? Raniaa"
Bi Diyah pun bergegas membuka pintu depan.
"Waalaikumsalam, eh nona cari siapa?" Tanya bi Diyah
"saya mau mencari Rania, tadi sudah janjian kok" Jawab Jeny
"Ooh mari masuk dulu non, nanti saya panggilkan nyonya Rania"
Lalu bi diyah pergi ke kamar Rania dan Rafli.
"Non Rania, tadi ada tamu yang mencarimu, sepertinya dia seumuranmu" Teriak bi Diyah dari balik pintu.
"Iyaa baik bi, aku akan keluar"
Lalu Rania pun keluar.
"Hallo jen, apa kabarmu hari ini, bagaimana dengan babymu?" Tanya Rania
"Babyku akan sehat Ran setelah minum susu" jawab Jeny
"Ohh syukurlah kalau begitu, lalu denganmu? ada apa Ran? tampak serius sekali" Tanya Jeny.
Lalu Rania menunjukan perut ratanya.
"Maskudmu?" Tanya Jeny
"Aku sepertimu Jen" Jawab Rania
"Kamu hamil Ran?" Tanya Jeny
"Iya, usia kandungan kita tidak beda jauh" jawab Rania
"Apakah ini benar benar sahabat, sampai hamil pun bareng, selamat yah, kamu jadi ibu dari anak suami sah mu Ran" Ucap Jeny.
"Iya sama sama, selamat juga untukmu, wanita kuat yang akan menjadi ibu tunggal yang hebat" Ucap Rania sambil memengelus pundak Jeny.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
#JANGAN LUPA LIKE KOMENT DAN KASIH RATE👍😚