Menikah Untuk Cinta

Menikah Untuk Cinta
Tawaran Kedua


__ADS_3

“Pria gila?” Kening Lena berkerut.


“Memangnya ada pria gila di dalam mall ini?” Tanya Lena dengan polosnya.


Mendengar pertanyaan Lena membuat Tynsa mendengus.


Tentu saja ada, jika tidak ada mana mungkin aku mengatakannya. Ucap Tynsa sedikit meninggikan suaranya.


Dimejanya, Reno yang mendengar ucapan Tynsa lebih memilih menulikkan telingannya dan melanjutkan pembahasan dengan Minho yang sempat tertunda.


“Apa kamu mendengar sesuatu Reno?” Tanya Minho yang dapat menangkap ucapan dari Tynsa pada Reno.


Reno menggeleng kepalanya acuh. Melihat respon Reno membuat Minho memilih diam agar tidak tertawa. Karena untuk pertama kalinya ada wanita yang berani menyindir Reno.


“Jadi bagaimana? Apa kamu sudah yakin kita harus melanjutkan proyek pembangunan aparteman tersebut?. Tanya Reno mengalihkan pembicaraan Minho pada bisnis. Mendengar pertanyaan Reno, Minho pun Kembali fokus pada pembahasan bisnis mereka dan tidak lagi memperhatikan Tynsa yang kini tengah menggerutu karena sikap sahabat-sahabatnya itu.


*


*


“Tynsa bagaimana kalau aku mengantarmu ke rumah?”


Tawar Ristaman saat mereka sudah keluar dari mall.

__ADS_1


Mendengar tawaran dari Ristaman, Lena pun sontak menyenggol Tynsa untuk segera mengiyakan.


Tynsa terdiam sambil berpikir.


Bagaimana ini, aku tidak enak jika aku menolak tawarannya. Batin Tynsa.


“Baiklah. Aku pulang bareng kakak saja.” Balas Tynsa pada akhirnya.


Ristaman melebarkan senyumannya. Merasa puas dengan jawaban Tynsa sesuai dengan keinginannya.


“ Kak Ristaman, terimakasih makan malamnya hari ini. Aku merasa tidak enak sekali.” Ucap Tynsa merasa sungkan saat mobil Ristaman sudah melaju ke jalan raya.


“sama-sama. Tidak perlu sungkan begitu, lagi pula aku senang melakukannya.” Balas Ristaman dengan tersenyum tulus.


“Tynsa … bagaimana kalau kita pergi makan malam lagi tapi hanya kita berdua?. Tanya Ristaman sambil menatap Tynsa.


Tynsa tidak langsung menjawap pertanyaan dari Ristaman. Ia Kembali menatap Ristaman yang sudah Kembali menatap lurus kedepan.


“Sebenarnya aku tidak terbiasa berpergian Bersama pria seperti saat ini, kak.” Ucap Tynsa dengan jujur. Ia sungguh tidak mau memberikan harapan pada pria itu.


“Apa kamu tidak pernah berpacaran?” Tanya Ristaman yang sedikit terkejut atas ucapan Tynsa.


Tynsa mengangguk membenarkan. “ beruntungnya aku sebagai pria pertama yang bisa pergi bersamamu.” Ucapnya lalu tersenyum.

__ADS_1


Tynsa pun ikut tertawa palsu.


Ingatlah, aku melakukannya karena terpaksa. Batin Tynsa yang tidak mau berdebat lagi dengan Reno.


Mobil pun terus melaju membelah keheningan malam. Selama perjalanan Tynsa lebih memilih mengalihkan pembicaraan mereka agar Ristaman tidak mempertanyakan kembali tawaran untuk mengajak pergi berdua.


Empat puluh menit telah berlau, mobil Ristaman pun sampai di depan rumahnya Tynsa.


“terimakasih telah mengantarkan aku pulang kak, maaf merepotkan.” Ucap Tynsa.


“Sama-sama.” Balas Ristaman tersenyum.


“Tynsa, bagaimana dengan ajakanku tadi?” Tanya Ristaman.


Tynsa menghela nafas Panjang lalu menurunkan tangan Ristaman yang sudah memegang pergelangan tangannya.


“Akan aku pikirkan nanti, kak.” Balas Tynsa lalu turun dari mobil setelah Ristaman menganggukan kepalanya tanda mengerti.


“Berani sekali dia memegang tanganku.” Gerutu Tynsa dalam hati sambil menatap mobil Ristaman yang pelan-pelan mulai melaju meninggalkan rumah orang tua Tynsa.


***


Mohon dukungannya teman-teman melalui like, komentar dan votenya.

__ADS_1


Terimakasih atas antusiasnya.


__ADS_2