
Niat Tynsa pun berhasil. Reno yang merasa tersindir itu pun memutar kepalanya ke samping lalu menatap Tynsa dengan wajah dinginnya.
Tynsa melebarkan kedua matanya, merasa tidak takut dengan tatapan itu.
Apa? begitulah seolah arti tatapan Tynsa pada Reno
Reno tak berekspresi apa-apa. Ia lebih memilih kembali memutar kepalanya seakan tatapan dan ucapan Tynsa tidak terlalu penting baginya.
"Tynsa... jaga ucapan mu. Dia bisa saja tersinggung!" ucap Angel merasa tidak enak dengan sikap Tynsa.
"Memang aku bicara apa?" tanya Tynsa dengan acuh lalu kembali memainkan ponsel di tangannya.
"Astaga Tynsa... kamu memang benar-benar." Angel hanya bisa menggeleng melihat sikap sahabatnya itu.
*
Sore itu di sebuah ruangan lantai dua paling depan diadakan rapat bagi karyawan yang baru masuk kerja bertujuan untuk memberikan pengarahan, bimbingan apa yang seharusnya dijalankan untuk membantu jalannya pelayanan terhadap Pasien yang mau berobat.
"Kenapa tidak sejak awal diadakan Rapatnya? " decak Tynsa merasa sistem mereka sangat lambat.
__ADS_1
"Sejak awal sudah di lakukan, tapi kan tahu sendiri bukan?" kamu salah satu yang terlambat datang sehingga Rapatnya tidak berjalan sesuai pengumuman. Balas Angel.
Lidah Tynsa berdecak. "Itu karena kalian saja yang malas melakukan Rapat." Balas Tynsa.
Kepala Angel menggeleng. "Bagaimana tidak dilakukan Rapat, kamu lihat saja saja yang ikut rapat tidak sampai lima orang dan sekaranglah waktunya rapat yang tepat. Jelas Angel.
"Ya, ya. Terserah kamu saja." Balas Tynsa lagi yang sudah tidak ingin berdebat.
Acara rapat hari itu pun dimulai, Tynsa, Angel dan teman-teman mereka yang lainnya pun mendengarkan dengan seksama arahan dari tentang jalannya pelayan di lantai satu.
Dua orang dari depan diminta untuk memperkenalkan diri masing-masing.
"Siapa yang satu itu?" bisik Angel di telinganya Tynsa.
Tak lama setelah perkenalan masing-masing, kebisingan pun mulai memenuhi ruang Rapat saat seseorang bagian terakhir memperkenalkan dirinya.
"Kamu lihat itu Tynsa? Reno memperkenalkan dirinya!" seru Angel tanpa sadar sambil bertepuk tangan.
Tynsa mendengus melihat sikap sahabatnya yang berlebihan. "Aku tidak melihatnya." Balas Tynsa
__ADS_1
"Sepertinya kamu benar-benar tidak menggunakan organ tubuhmu dengan benar!" balas Angel merasa jenuh dengan sikap sahabatnya.
Dunia ini memang benar-benar aneh, bisa-bisanya lemari Frizer dua pintu di jadikan idola bagi wanita-wanita, yang benar saja. Apa mereka ingin menjadikan dia Pangeran Frizer? Rutuk batin Tynsa
Dua puluh menit rapat sudah berjalan seperti biasa, semua sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
"Tynsa kamu mau Pesan apa?" bisik Angel sambil menulis pesanan makan siangnya.
Tynsa mengangkat kedua bahunya. "Aku bahkan tak berniat makan siang." Balasnya tidak sesuai dengan tulisan tangannya.
Lima menit berlalu, makan siang pun diantar diletakan diatas meja pas di tengah
"Wah...ternyata ada satu jenis pesanan yang berbeda dari pesanan yang lain." Semua mata tertuju pada pesanan yang kini berada di atas meja.
Hanya ada satu pesanan yang berbeda? apa itu aku? tanya Tynsa dalam hati sambil memperhatikan teman-teman satu tempat kerjanya, nampak bersemu merah menatap kearah pesanan yang kini berada diatas meja.
Reno kini tengah tersenyum tipis. Sangat tipis sekali hingga hanya Reno dan Tuhan yang tahu adanya senyuman di wajah Reno.
Lanju...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya tem.
terimakasih sebelumnya