
“ Tentu saja. Aku perlu bukti jika kamu benar pria normal.” Tantang Tynsa tanpa takut. Yang ada di dalam pikirannya saat ini pasti Reno tidak bisa melakukan apa pun seperti kejadian sebelumnya.
Reno tersenyum tipis. “ Apa kamu yakin?” tanyanya.
Tynsa mengangguk. Dan sebelumnya tolong kamu menjauh dari tubuhku karena aku tahu kamu tidak akan melakukan apa-apa. Ucap Tynsa menyindir.
“ Kamu akan menyesal karna sudah menantang ku, Tynsa.” Wajah Reno semakin serius dan dingin membuat Tynsa jadi takut.
“ Apa maksud m-“ ucapan Tynsa terhenti pikirannya melayang di udara saat merasakan bibir Reno menempel di bibirnya. Tynsa terbelalak, tubuhnya seketika menegang mendapat perlakuan mengejutkan dari Reno.
Tynsa berusaha melepas, namun Reno semakin memeluk pinggangnya Tynsa dan menjatuhkan bokongnya ke sofa tanpa melepas pangutannya di bibir Tynsa. Tynsa di buat mati kutu, pertama kalinya merasakan berciuman dari seorang pria dengan benar. Terlepas dari waktu ia hanya mengecup bibir Reno.
Walaupun ini pertama kali baginya, namun Reno terlihat sangat ahli dalam berciuman. Ternyata ada juga untungnya menonton film dewasa Bersama Minho saat masih kuliah dulu. Hingga kini ia dapat mempraktekannya langsung.
Cukup lama Reno bekerja sendiri mencium bibir Tynsa tanpa balasan. Reno tak pantang menyerah. Kini sebelah tangannya terangkang dan memegang buah apelnya Tynsa hingga Tynsa tak bisa memiliki kesempatan melepas pangutannya. Tynsa mulai terbuai dengan ciuman Reno sehingga ia mulai bekerja sama dan membalas ciuman Reno.
Selang beberapa menit berlalu kedua insan tersebut semakin terbuai dalam ciuman panas mereka. Merasa tubuhnya mulai memanas, Reno segera melepas ciumannya dari Tynsa pelan-pelan agar sesuatu yang tidak di inginkan tidak terjadi.
“Sekali lagi jangan pernah menantangku atau lebih panas dari ini yang akan terjadi” Ucap Reno dengan kening sambil menempel.
Tynsa tidak membalas ucapa Reno. Saat ini ia benar-benar terkejut dengan perlakuan Reno yang tidak pernah ia sangkah-sangkah sebelumnya.
“ Re-reno…! Tynsa tergagap. Lidahnya terasa kelu saat ingin menyumpahi pria yang kini tengah menatap intens wajahnya.
Cup
Reno Kembali mengecup bibirnya Tynsa barang sesaat. “
Aku tak ingin lagi mendengar umpatanmu.” Ucap Reno lalu menjauhkan tubuhnya dari Tynsa.
Tynsa Kembali di buat tegang setelah mendapatkan ciuman kecupan singkat dari Reno.
Kenapa aku jadi pengen lagi mencicipi bibirnya lebih lama. Ucap Tynsa dalam hati sambil menatap punggungnya Reno yang mulai hilang di balik pintu kamar.
Tynsa memegang bibirnya yang basah karena ulah Reno.
“Kenapa dia terlihat sangat lihai saat menciumku.” Gumam Tynsa mengusap-usap bibirnya. Hangatnya bibir Reno benar-benar membuatnya mulai melayang.
Tynsa tak melepas jempolnya dari bibirnya hingga Reno Kembali dari kamarnya. Melihat tingkahnya Tynsa, tanpa sadar menarik tipis kedua sudut bibirnya.
Reno berjalan kearah dapur beberapa menit kemudian.
“Makanlah” ucapnya menyerahkan semangkok mie ke depan Tynsa.
__ADS_1
Tynsa buru-buru melepas jempol dari bibirnya. Wajahnya kelihatan memerah menahan malu karena Reno pasti melihat apa yang ia lakukan barusan.
Tynsa tidak membalas ucapan Reno. Pandangannya kini tertuju pada mangkok mie yang di depannya.
*
Tynsa menyantap semangkok mie yang terlihat sangat menggoda di depannya saat ini. Enak sekali, batin Tynsa dalam hati merasakan nikmatnya bumbu kaldu dari mie rebus yang kini ia makan. Tanpa sadar Tynsa memakannya begitu cepat sehingga ia lebih dulu menghabiskan mienya dari pada Reno.
“Mienya sangat enak.” Puji Tynsa tanpa sadar.
“Jika kamu masih ingin, kamu bisa memakan mieku.” Tawar Reno dengan nada sedikit mengejek.
Tynsa tersadar baru saja memuji nikmatnya mie buatan Reno. Pandangan Tynsa terjatuh pada mangkok Reno yang masih berisi mie.
“ Kau sangat lambat sekali hanya memakan mie.” Cibir Tynsa.
“ Aku tidak terlalu cepat. Kamu saja yang seperti berbulan-bulan tidak makan.
Wajah Tynsa memerah. Menyadari jika tadi ia menghabiskan mienya seperti orang belum makan berbulan-bulan.
Reno Kembali melanjutkan menghabiskan mie nya, setelah siap Reno bangkit lalu mengambil mangkok Tynsa.
“ Eh tunggu.” Kamu ingin membawanya kemana? Tanya Tynsa.
“aku ingin membawanya kedapur untuk di cuci.” Jelas Reno.
Biar aku saja yang mencucinya. Ucap Tynsa merebut mangkok di tangan Reno lalu melangkah kearah dapur.
Malam semakin larut, Tynsa dan Reno pun masuk ke dalam kamar masing-masing setelah menghabiskan waktu di ruang tamu yang canggung memainkan ponsel masing masing.
Tynsa melemparkan tubuhnya ke Kasur. Jempolnya Kembali memegang bibirnya. Sapuan hangat bibir Reno masih teringat jelas di bibirnya.
“ini benar-benar membuatku gila! Kenapa aku jadi kecanduan, jadi pengen lagi. Amuk Tynsa membanting kakinya ke atas Kasur.
Tynsa bangkit dari pembaringan. Menatap langit-langit kamar dengan tertuju pada wajah Reno.
Tak berbeda jauh dengan Reno, di dalam kamarnya Reno pun turut membayangkan wajah Tynsa. Wajah Wanita akhir-akhir ini mengacaukan pemikirannya akibat kebohongan yang di timbulkan Wanita itu.
“Wanita gila!” mengingat bagaimana Tynsa menantangnya.
Pukul tiga malam Tynsa terbangun dari tidurnya saat merasa sesak karena kesulitan bernafas.
“kenapa gelap sekali.” Perasaan aku tidak mematikan lampunya saat tidur tadi. Tynsa melihat sekelilingnya namun tidak ada sedikit pun cahaya.
__ADS_1
Prang…
Suara benda terjatuh di dalam kamarnya membuat Tynsa terkejut. Tynsa memundurkan tubuhnya menatap sekelilingnya yang gelap dengan tatapan takut.
Prang…
Mendengar suara benda terjatuh kedua kalinya semakin membuat tubuh Tynsa bergetar.
“ Reno…! Tynsa memekik ketakutan. Dengan keberaniannya hanya tinggal sedikit, Tynsa turun dari ranjang lalu berjalan kearah pintu dengan instingnya sendiri sehingga dia menabrak dinding lalu berdiri lagi dan mengingat arah pintu dimana dan berhasil keluar dari kamar tamu.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras membuat Reno terbangun dari tidurnya.
“Reno…” Tynsa berteriak memanggil nama Reno dengan menggenggam kedua tangannya memukul pintu kamarnya Reno.
Mendengar suara Tynsa, Reno turun dari ranjangnya. “ mati lampu?” gumam Reno saat menghidupkan lampu kamarnya tidak hidup.
Reno berjalan kearah pintu lalu menghidupkan lampunya. Baru saja pintu terbuka, hampir saja tubuhnya terhuyung ke belakang saat tiba-tiba saja Tynsa melompat ke dalam gendongannya.
“ apa yang kamu lakukan?” suara Reno terdengar meninggi.
“ Reno aku takut.” Ucap Tynsa sambil mengeratkan pelukannya di leher Reno.
Mendengar jawaban dari Tynsa. Reno Kembali berbicara dengan suara yang lebih rendah. “ ada apa?” tanya Reno.
Aku takut.
“apa yang kamu takutkan?” tanya Reno lagi.
Hantu. Ada hantu di kamar tamu. Ucap Tynsa.
Hantu? Reno menggeleng tidak percaya. Kamu jangan sembarangan kalau bicara. Turun sekarang! Tubuhmu ini sangat berat. Cetus Reno.
Kenapa lampu apartemen mu mati? Aku takut. Tynsa mulai menangis.
Aku juga tidak tahu mengapa lampunya mati. Biasanya tidak pernah seperti ini. Reno menahan tubuhnya Tynsa agar tidak terjatuh dan berjalan kearah ranjang.
lanjut
__ADS_1
mohon dukungannya melalui like, komentar dan vote terimakasih.