
Limat menit Tynsa terdiam mendengar perkataan Reno yang menyuruhnya masuk ke mobil sehingga wajahnya tegang dan mulutnya menganga terbuka.
“ Masuk kemana?” Tanya Tynsa.
“ Masuk kedalam mobilku.” Balas Reno.
“Kedalam mobilmu?” Tynsa balik bertanya lagi.
“ Apa kamu mau menunggu disini sampai hujannya reda?” Cetus Reno.
“ Lalu bagaimana dengan motorku?” Tanya Tynsa yang sudah mengerti ucapan Reno.
Reno hanya terdiam. Namun Reno berjalan menuju tokoh dan berbicara kepada pemilik toko tersebut. Setelah sudah cukup berbicara Reno Kembali keluar.
“Saya sudah berbicara kepada pemilik toko.” Untuk saat ini titipkan saja motormu di sini, besok pagi kita akan menjemputnya kembali. Jelas Reno.
Tynsa mengangguk paham. Apa dia akan mengantarku Kembali kerumah? Tynsa bertanya dalam hati. Entah mengapa Reno begitu perhatian padanya.
“ Ayo masuk!.” Ajak Reno sambil membuka pintu mobil untuk di masukkan oleh Tynsa kemudian motor Tynsa di masukkanya ke garasi pemilik tokoh tersebut.
Tynsa sempat ragu namun ia kembali mengikuti perintah Reno setelah melihat tatapan tajam dan dingin wajah tersebut.
“Seperti biasa saat hujan deras, di jalan akan banjir.” Jelas Reno saat mobil sudah mulai melaju.
“ Astaga. Aku melupakannya. Banjirnya pasti sudah sampai ke jalan raya. Balas Tynsa.
“ Bagaimana ini?” berbahaya jika kamu mengantarku pulang ke rumah. Tynsa gelisah.
“ Bagaimana kalau kerumah Angel?” Tawar Reno.
Tynsa menggeleng cepat. Angel saat ini pasti sudah tidur dan aku gak enak sama orang tua Angel.
Jadi bagaimana solusinya? Tanya Reno sambil menatap lurus kedepan tanpa mempedulikan wajah bingungnya Tynsa.
“Aku tidak tahu harus bagaimana, jika kamu mengantarku pulang yang ada mobilmu mogok di tengah jalan.”
“ Apa orang tuamu ada di rumah?” Tanya Reno.
Tynsa diam.
Reno tidak bertanya lagi kemudian mempercepat laju kecepatan mobil saat jalan sudah mulai sepi.
“Kamu membawaku kemana?” Tanya Tynsa saat mobil Reno melaju kejalan yang bukan kearah rumahnya.
__ADS_1
“ Ke apartemen ku. Balas Reno.
Tynsa melebarkan kedua bola matanya. Kenapa membawaku kesanan? Kau berniat macam-macam? Tanya Tynsa lalu menyilangkan tangan ke dadanya.
Reno menatap Tynsa dengan aneh. Tolong berpikiran positif. Aku membawamu kesana karena tidak ada lagi tempat yang bisa kamu tunjuk. Lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuh datarmu itu. Jadi jangan berpikiran aneh-aneh. Cetus Reno. Walaupun Reno berbicara panjang lebar namun wajahnya tetap lurus kedepan tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun.
Tynsa menghela nafas panjang dengan kesal tersinggung dengan perkataan Reno namun pulang ke apartemennya Reno lebih baik dari pada menerjang banjir pulang ke rumahnya.
Sesampainya di apartemen Reno.
“ Pakai ini.” Reno melemparkan Kemeja putih lengan panjang kepada Tynsa.
Tynsa menerimanya dan memperhatikan pakaian yang di berikan Reno berbeda dengan pakaian saat pertama kalinya dia menginap.
“Apa tidak ada baju selain ini bukanya ini terlalu pendek dan tipis?” Tanya Tynsa.
Reno tidak menghiraukan pertanyaan dari Tynsa Kembali berjalan menuju kamarnya.
“ Dasar Reno dingin.” Apa suara nya itu sangat mahal jika keluar dari mulutnya?. Tynsa mendengus.
Tynsa melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar tamu yang sudah ia tempati sebelumnya. “ Apa tak masalah ya jika aku masuk saja ke kamar tamu ini tanpa izin dulu dengan Reno? Ya sudah lah percuma saya izin pasti dia tidak keluar dari kamarnya. Tynsa merasa bimbang di depan kamar tamu apa langsung masuk saja atau minta izin dulu.
“ Ya sudahlah.” Aku masuk saja ke dalam kamar.
“ Ternyata dia masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.” Ucap Tynsa dalam hati sambil terus melangkah menuju kearah Reno berada.
“ Apa minum ini untukku? Tanya Tynsa menunjuk kearah teh hangat yang ada di atas meja yang sepertinya di buatkan untuknya.
Reno tidak menjawap dan meletakkan minumannya ke atas meja lalu memainkan ponselnya sebentar.
“ Apakah kamu hanya memandanginya? Tidak kamu minum?” Tanya Reno saat melihat wajah Tynsa hanya memandangi gelas Teh tersebut.
“ Aku takut meminumnya belum tentu teh ini untukku.” Cetus Tynsa nyindir.
“ kamu sudah bisa meminumnya karena teh itu untukmu.” Balas Reno dengan dingin.
Tynsa menarik ujung bibirnya ke samping kiri. Menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar pada Reno yang sudah membuatnya naik darah hanya dengan melihat wajah dinginnya.
Reno Kembali memainkan ponselnya setelah menyuruh Tynsa meminum tehnya tanpa memedulikan keberadaan Tynsa di sampingnya yang sudah naik pitam.
Reno kemudian menarik alisnya sebelah kanan ke atas dan menghela nafas panjang.
Tynsa di buat geram lagi. “ apa suaramu sangat mahal sehingga kamu tidak bisa berkata ada apa?” Sindir Tynsa lagi tidak dapat menahan kekesalannya.
__ADS_1
“ Ada apa? Tanya Reno.
Bukan menghilangkan rasa kesalnya. Namun Tynsa lagi-lagi di buat makin geram. Entah kenapa Tynsa merasa geram.
“ Apa suaramu itu emas sehingga kamu sangat pelit berbicara?” Sindir Tynsa lagi.
“Tidak.” Jawap Reno.
Tynsa menahan emosinya sambil mengelus dadanya. “ oh seperti itu.” Balasnya sambil menatap ke samping.
“ Apak kamu hanya menanyakan itu saja?” tanya Reno.
“Tidak.” Tynsa menarik nafas panjang. Aku ingin bertanya saat pertama kali kamu membawaku kesini apa tidak ada kamu lihat sesuatu dalam tubuhku saat aku memakai baju putih dan celana pemberianmu?.
“ Memang aku melihat apa?” Reno balik bertanya.
Bentuk bagian tubuhku misalnya. Jelas Tynsa.
“ Oh.” Reno menganggukan kepalanya paham.
“Oh?” jawaban macam apa itu!. Tynsa di buat bingung dengan jawaban Reno.
“ Apa kamu ingin aku mengatakan bahwa aku melihat bentuk dada mu yang kecil seperti buah pinang?” Tanya Reno dengan santai.
“Apa?” Tynsa di buat terkejut dengan pertanyaan Reno sambil melihat bentuk dadanya Nampak berbentuk dan berisi. Tidak seperti yang di katakana Reno.
Kamu berani sekali mengatakan dadaku kecil. Sembur Tynsa emosi.
“ Memang seperti itu faktanya.” Dada mu tidak membuatku tertarik walaupun belum terbungkus bra. Balas Reno santai.
Tynsa langsung berdiri dan membusungkan dadanya ke depan seolah-olah menunjukkan kelebihan dari bagian dadanya.
“ Sepertinya matamu harus di periksa karena kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal sama sekali.” Tegas Tynsa.
“ Aku berkata apa adanya.” Balas Reno.
TYnsa kemudian meluruskan badannya. Percuma saja berucap pada pria seperti Reno yang sangat menguji kewarasannya.
Reno masih tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun ia bergerak bangkit lalu mendekat kearah wajahnya Tynsa.
“ Apa kamu butuh pembuktian bahwa aku pria normal?” tanya Reno sambil membungkukkan tubuhnya melihat wajah Tynsa secara intens. Bahkan Tynsa merasakan hembusan nafa pria itu.
Hay mohon dukungannya melalui like, koment, dan vote terimakasih.
__ADS_1