
Aku Nagisha Salsabila, mereka bilang aku cantik dan sempurna bak Seorang Bidadari. Yaa... mereka hanya melihatku dari covernya saja. Mereka ngak melihat aku dari sisi hatinya.
Kalian tahu, aku membunuh Ayah Kandungku sendiri. Tentunya bukan dengan pisau, apalagi tembakan pistol.
5 tahun yang lalu...
"Aku hamil... " Ucap Nagisha sangat pelan. Ada butiran kristal yang keluar dari sudut matanya.
Dgaarrr !!!!
Bunyi gelas pecah, sentak membuat Nagisha dan Ochie terdiam. Ada Ibu Nagisha ntah sejak kapan berdiri di depan pintu kamar Nagisha. Bahkan mungkin dia mendengar semua obrolan Nagisha ke Ochie sahabatnya itu.
"Ibu..." Nagisha panik, Ochie tak kalah paniknya.
"Apa yang ibu dengar, salah kan Gi ? Ibu salah dengar kan Gi? Jawab!!!" Gertakan ibu sambil menguncang tubuh Nagisha.
Tak ada satu katapun yang mampu Nagisha ucapkan kali ini. Yang ada air matanya terus jatuh semakin deras. Ibu semakin Histeris menangis, melihat Putri kesayangannya itu tetap diam. Tak ada pembelaan apapun dari Nagisha, yang artinya itu semua benar. Ibu jatuh terduduk dilantai, Air matanya terus mengalir. Ochie yang melihat semuanya bingung harus bagaimana.
"Ibu tenang dulu yaa... " Ochie berusaha menangkan Ibu Sahabatnya itu.
Nagisha tetap berdiri, bak pantung. Dia blang, dia tak tahu harus bagaimana. Hidupnya kini benar-benar hancur tanpa ada sisa sedikitpun.
🍃🍃🍃🍃
Semua keluarga mendadak kumpul. Ada Mbak Jelita, Kak Robby mereka saudara Kandung Nagisha. Ibu masih duduk di Ruang keluarga. Dengan mata sembab, yang menandakan wanita separuh baya ini telah menangis seharian.
Nagisha duduk berhadapan dengan Ibunya, ada Ochie disampingnya yang terus berusaha menguatkan Nagisha. Tatapan Nagisha kosong, tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Hatinya tak jauh lebih hancur dari Ibunya saat ini.
Sedangkan Mbak Jelita dan Kak Robby, ada tatapan marah kecewa dan khawatir dari mereka. Bagaimana mungkin, adik bungsunya ini sangat pintar. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan kesalahan besar ini. Apa yang akan Ayah Lakukan ke Adik Bungsu mereka, Jika Ayah tahu Putrinya sedang mengandung. Dan apa yang akan tetangga pikirkan jika mereka tahu Nagisha hamil diluar pernikahan.
Tak lama, ada suara mesin motor yang masuk ke perkarangan rumah Nagisha. Motor siapa lagi, jika bukan motor Ayah Nagisha.
"Ini kenapa? Ada apa? " tanya Ayah langsung ketika masuk dirumah.
Ayah yang sedang bekerja, ditelpon Ibu untuk pulang segera. Sepanjang jalan, Ayah terus berpikir ada apa dirumah. Hingga Istrinya menyuruhnya pulang segera mungkin.
"Ayah duduk dulu.. " sambut Ibu. "Ambilkan ayahmu minum Jelita! " perintah Ibu.
__ADS_1
Ibu yang dari tadi hanya diam. Kini seakan berusaha melindungi Putrinya Nagisha. Ibu memberikan Ayah segelas Air Putih. Berusaha menenangkan Ayah, menunggu hingga rasa lelah suaminya sedikit berkurang. Barulah ibu menceritakan semua yang dia dengar tak sengaja saat Nagisha curhat di kamar dengan Ochie.
"Apa? " Ayah kaget bukan main mendengar cerita dari Istrinya itu.
"Ma.. aafff.... Maaf Ayah... " Ucap Nagisha sambil berlutut di Kaki Ayahnya. "Maaff.... " ada penyesalan teramat dalam disana.
"Berdiri! " perintah Ayah. "Ayah bilang berdiri Nagisha !!" Teriak Ayah emosi.
Ppllaaakkk....!
Tamparan keras yang tak pernah Nagisha terimah sebelumnya. Semua berdiri syok, melihat Ayah menampar Nagisha. Ayah yang tak pernah kasar kepada anak-anaknya. Jangankan untuk menampar kuat seperti ini, menyubit pun Ayah tak pernah melakukannya.
"Kaa.. muu.. " Ayah berhenti berkata. Dadanya sesak. Ayah mencoba menarik nafas, mengatur emosinya. "Siapa Bapak anak itu? " tanya Ayah. Nagisha diam.
"Jawab Gi! " bentak Ayah lagi.
"Lelakinya ngak mau tanggung jawab Yah... " Jawab Nagisha sambil menangis terisak-isak.
Ayah terdiam mendengar jawaban Nagisha. Ayah memegang Dadanya, yang terasa semakin sesak dan sakit. Lalu, Dhuuupp... Tubuh kuat Ayah terjatuh ke lantai. Ayah jatuh pingsan, semua seisi rumah panik.
Ayah dilarikan ke rumah sakit dengan ambulance. Semua orang panik, Ibu menangis sejadi-jadinya. Mbak Jelita dan kak Robby berusaha menenangkan Ibu.
Disudut koridor rumah sakit, Nagisha terduduk dilantai. Ia memeluk Ochie, ada rasa takut yang sangat besar yang ia rasakan saat ini.
Dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah yang berbeda. Semua berjalan ke arah dokter tersebut. Dokter melepaskan Masker penutup mulutnya.
"Maaf, Bapak Bayu ngak bisa terselamatkan. Beliau meninggal karena serangan Jantung"
Mendengar apa yang barusan dokter katakan. Membuat Nagisha lagi-lagi hancur. Dunianya kini sangat hancur, mungkin bukan lagi hancur. Lebih tepatnya kini dunianya Kiamat. Ayah, lelaki dan cinta Pertama bagi semua Anak perempuannya, kini tiada karena Putrinya sendiri.
"Ini semua karena kamu, Ayah meninggal karena kamu! " Teriak Mbak Jelita membuat Nagisha semakin terpuruk.
"Kamu pergi dari sini Gi, pergi !!" Mbak Jelita semakin membabi buta ke Nagisha.
"Kenapa aku harus pergi? Itu juga ayah aku Mbak! " Nagisha mencoba membela diri.
"Kamu... " Ucapan Mbak Jelita terhenti oleh ibu.
"Gi, tolong pergi. Ibu mohon! " pinta Ibu dengar suara Lirih.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Nagisha melangkahkan kakinya ntah kemana. Dia bagaikan Layangan yang putus, terbang tiada arah mengikuti angin yang ntah akan membawanya kemana.
Yang ada dipikiran Nagisha hanya ayahnya. Bagaimana caranya agar setidaknya dia bisa melihat mendiang Ayahnya. Terlebih lagi, kenapa Ibunya yang biasanya selalu melindunginya kini berubah seakan sangat membencinya.
"Aku harus bagaimana? " Bathin Nagisha.
Butiran air mata Nagisha tak kunjung berhenti. Bahkan ia sama sekali tak memperdulikan pandangan semua orang ke dirinya saat ini.
Nagisha berdiri di Sebuah jembatan yang menjadi Icon kotanya. Dilihatnya kebawah, Arus Sungai saat ini sangat deras. Mungkin karena ini sudah mulai memasuki Musim Penghujan. Dinaiki kakinya selangkah ke pagar pembatas Jembatan. Pikirannya kini kosong, tak ada yang harus Nagisha pertahankan saat ini. Ayahnya meninggal karena ulahnya. Anak yang kini ada di kandungannya pun tak ada yang mengharapkannya. Bahkan Lelaki yang menanamkan benih di rahim Nagisha pun, ntah hilang kemana.
"Lebih baik Aku mati.. " bisik Nagisha yang siap meloncat dari Jembatan ini.
1...2...3...
Dan....
"Nagisha.... " teriak seorang wanita menghentikan Nagisha.
"Loe bodoh ya! Bunuh diri ngak nyelesain masalah! " Maki seseorang wanita berkerudung cokelat itu. Ditariknya tubuh Nagisha ke pelukannya.
"Loe Jangan nekat gini! " Ucapnya lagi.
"Gue ngak tahu harus gimana lagi Nis, Hidup gue hancur! Benar-benar hancur tanpa sisa sedikitpun! " Semua emosi Nagisha kali ini tumpah ke Annisa, gadis Keturan Arab yang dari SMA menjadi sahabat Nagisha bersama Ochie.
"Sekarang loe masuk ke mobil dulu, kita pulang! " Ajak Annisa.
Tarikan tangan Annisa ditahan Nagisha. "Gue mau pulang kemana? Gue ngak ada rumah, bahkan ibu gue ngak mau nerima gue lagi! " Ucap Nagisha.
"Loe ikut gue aja, dengerin gue kali ini.! " perintah Annisa yang di iyakan Nagisha.
🍃🍃🍃
To be Continued....
Jangan lupa Like, Coment, dan jadiin novel ini sebagai favorit ya...
Terimakasih ❤
__ADS_1