Menikahi Ceo

Menikahi Ceo
Chapter#3


__ADS_3


Pagi mulai menyapa. Cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar rumah sakit. Tebalnya gorden berwarna kuning keemasan nyatanya tak bisa menghalangi cahaya itu masuk ke dalam ruangan. 


Nagisha gadis bertubuh mungil ini masih tertidur di Ranjang salah satu rumah sakit swasta di Kotanya. Jarum Infus masih terpasang ditangan kirinya. Begitu pun dengan selang oksigen yang masih terpasang. Wajah Nagisha tak jauh berbeda dari kemarin. Wajahnya tetap pucat menutupi kecantikan wajah aslinya.


"Gimana keadaan kamu, udah merasa baik? " tanya Annisa sambil mengecek selang infus Nagisha.


Nagisha tetap diam, tak merespon apapun. Mata Nagisha kosong, pandangannya jauh ntah kemana. Nagisha saat ini lebih seperti mayat hidup. Bernyawa tapi tak melakukan apapun, dan tak memberi respon apapun ke lingkungan sekitarnya.


"Gi, jangan gini dong... " Ochie memeluk Nagisha. Butiran kristal jatuh dari sudut mata sipit Ochie. Dia sedih melihat sahabatnya seperti saat ini.


Annisa ikut memeluk kedua sahabatnya itu. Berharap apa yang mereka lakukan saat ini, bisa di rasakan Nagisha. Nagisha tidak sendiri, Nagisha masih ada mereka berdua. Walaupun kita tak sedarah, tapi ikatan kita lebih kuat dari darah. Karena kita terbentuk karena hati. Yaa... hati yang tulus. Tulus saling menyayangi, dan tulus untuk saling menjaga dalam situasi apapun.


"Gi, kita pergi kuliah dulu ya. Nanti sore kita balik lagi ke sini. Kamu kalo perlu apapun, tekan bell ini aja. Nanti suster bakalan datang. Kamu istirahat ya.. " Ucap Annisa.


"Jangan Khawatir masalah kerjaan, orang tokomu udah kami kabarin kamu lagi sakit dan berduka. Jadi tenang aja, oke! " Sambung Ochie.


Hanya ada kedipan mata dan sedikit anggukan kepala dari Nagisha. Setidaknya Nagisha mendengarkan apa yang mereka katakan, dan meresponnya.


Ochie dan Annisa meninggal Nagisha sendiri di Kamar inap Rumah sakit. Tak ada satu orang pun keluarga Nagisha yang datang menjenguknya. Padahal Ochie dan Annisa sudah mengabari. Bahkan mereka bersyukur, Nagisha mengalami keguguran. Setidaknya keluarganya tidak akan di repotkan oleh Nagisha dan anaknya kelak. Itu yang dikatakan sendiri oleh Kak Robby ke Ochie dan Annisa. Miris!


Nagisha berada di Kamar rawat VIP di Rumah Sakit ini. Annisa dan Ochie tak akan terlalu khawatir meninggalkan Nagisha sendiri. Karena ada suster yang akan stanby menjaga Nagisha. Apalagi ini perintah langsung Putri direktur Rumah Sakit ini. Siapa yang akan membantah Annisa? Ngak akan ada yang berani.


Yups... Annisa Azzahra Muhammad Gadis cantik keturunan Arab ini merupakan anak Direktur Rumah Sakit ini. Gadis berkerudung ini juga adalah calon dokter. Sedangkan Sahabat Nagisa yang bernama Cristhie Ochie Karyne, atau lebih sering di panggil Ochie. Latar belakangnya tak jauh WOW dari Annisa. Ochie gadis Indo blasteran Jepang ini merupakan pewaris tunggal bisnis keluarganya. Papi Ochie sudah meninggal dunia dari Ochie duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Jadi jangan heran, kalau diusia yang masih sangat muda, Ochie sudah mulai melanjutkan bisnis keluarganya yang bergerak di bidang Departemen Store dan Ritel.

__ADS_1


Sedangkan Nagisha, dia hanya anak dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya Seorang Guru Agama Sekolah Menengah Atas. Sedangkan Ibunya, hanya PNS Golongan I. Tak ada latar belakang keluarga yang WOW seperti kedua sahabatnya itu. Nagisha kini bekerja di salah satu toko minimarket milik keluarga Ochie sambil menempuh pendidikan Sarjananya. Nagisha pintar, bahkan bisa masuk di SMA unggulan di Palembang dengan beasiswa. Sekolah Unggulan dengan murid-murid yang super tajir. Dan Karena itulah Nagisha bisa berteman dengan orang seperti Ochie dan Annisa. Kedua sahabatnya yang memiliki class sosial yang sangat berbeda dari dia.


Dengan latar belakang mereka berdua yang sangat hebat, terbayang seberapa mindernya Nagisha saat awal berkenalan dengan mereka. Tapi ntah kebaikan apa yang sudah Nagisha lakukan dikehidupan sebelumnya. Hingga dia diberikan 2 sahabat super baik seperti Ochie dan Annisa. Sahabat yang tak memandang class sosial, jabatan, harta dan latar belakang keluarga. Persahabatan yang benar-benar murni dan tulus, hingga saat ini.


 


🍃🍃🍃🍃


 


Ini hari ketiga Nagisha masih dirawat di Rumah Sakit. Nagisha masih seperti hari-hari sebelumnya. Matanya tetap sembab, pertanda tiada hari tanpa air mata. Wajahnya masih pucat, matanya masih kosong seakan tak ada lagi keinginan hidup di dunia ini.


Ayah Ibu, aku rindu. Bathin Nagisha.


Tetesan Air mata kembali jatuh tanpa izin ke pipih mulus Nagisha. Ada bunyi seseorang membuka pintu kamar Nagisha. Dengan cepat tangannya menghapus air mata yang jatuh itu.


"Ayo kita Beres-beres! Abis itu kita Cuz pulang ke rumah gue" Sambung Ochie.


"Ibu gue, benar-benar ngebuang gue? " tanya Nagisha. Ini kalimat terpanjang yang pernah dia ucapkan pasca dia masuk Rumah Sakit. Ochie dan Annisa terdiam, mereka bingung harus mengatakan apa.


Nagisha kembali menangis, kini bukan hanya butiran air mata yang jatuh. Bahkan kali ini Nagisha sampai terisak-isak menangis.


Sebenci itu kah Ibu sama aku? Sebesar itukah kemarahan Ibu sama aku? Tak ada maaf sedikitpun untuk aku, Putri Kandungnya!


"Gi jangan nangis lagi. " Ucap Ochie sambil mengusap Air Mata Nagisha yang tak kunjung berhenti. "Gi loe ngak sendiri kok. Ada gue, ada Nissa. Kita ada buat loe, kapan pun" Lanjut Ochie. Refleks, Nagisha langsung memeluk Ochie yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Makasih Chie, Nis... " Ucap Nagisha disela tangisannya.


 


🍃🍃🍃🍃


 



Sudah hampir seminggu Nagisha berasa di kamar mewah ini. Kamar dengan nuansa Ungu, warna favorit Ochie ini tetap tak mampu membuat Nagisha nyaman disini. Dia tetap rindu kamar kecil pribadinya. Dia tetap rindu Ibu, bahkan hatinya tetap hancur ketika Merindukan Ayahnya.


Rumah mewah ini tetap sangat sepi, membuat Nagisha semakin merasa sendiri. Ochie sedang kuliah, seperti biasanya. Dan Nagisha ditinggal sendiri dirumah besar ini.


Gadis berwajah tirus itu meneguk segelas air putih yang diambilnya. Ia menghembuskan nafas berat, "Ayah... aku rindu. ", gumamnya dalam hati. Butiran bening kembali jatuh dari mata bulatnya.


Matanya melihat pisau diatas meja. Diraihnya pisau tersebut lalu ia pandangi dengan pandangan yang begitu pedih. Ia genggam erat pisau itu dengan kanan tangannya.Lalu ia ulurkan tangan kirinya dan sekejam kemudian, tangan kirinya sudah teriris dan darah mengalir dari tangan itu.


Rasa sakit karena goresan pisau itu, mampu mengalahkan rasa sakit dihatinya. Darah terus mengalir, pandangannya mulai kabur. Ini percobaan bunuh diri ketiga kalinya yang sudah Nagisha lakukan. Pertama kali saat ia tahu dia sedang hamil, ia hampir meminum obat tidur dengan jumlah yang banyak. Namun gagal, karena ada panggilan Ayah yang membuatnya tersadar. Kedua, ia ingin loncat bunuh diri dari Jembatan. Tapi di gagalkan oleh Annisa dan Ochie. Untuk ketiga kalinya, sepertinya kali ini akan berhasil. Tak ada siapapun di rumah Ochie saat ini.


Kesadaran Nagisha mulai lemah. Darah dari pergelangan tangannya tak kunjung berhenti. Ada langkah kaki yang masuk ke Kamar Ochie. Seorang Pria dengan Jas hitam, berlari sangat cepat ke arah Nagisha. Ntah, kain apa yang pria ini sobek. Dia melakukan pertolongan pertama ke Nagisha. Dibalutnya kain itu ke pergelangan tangan Nagisha yang terluka. Di gendongnya tubuh mungil Nagisha itu. Ia berlari sangat cepat, bagaikan Mobil balap. Nagisha masih sedikit sadar saat itu. Tak lama kemudian, pandangannya semakin memudar. Kesadarannya pun melemah, hingga akhirnya ia tak sadarakan diri lagi.


 


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


 


To Be Continued...


__ADS_2