Menikahi Ceo

Menikahi Ceo
Chapter#2


__ADS_3


Langit sedari pagi sudah mendung, seakan turut berduka atas kepergian Pak Bayu, mendiang Ayah Nagisha.


Di samping Jenazah Ayah, ada wanita separuh baya yang tiada henti menangisi kepergianya. Siapa lagi, kalau bukan Ibu Nagisha. Istri tercinta Almarhum Pak Bayu.


Tetangga sekitar rumah silih berganti datang ke rumah Nagisha. Mereka turut berduka atas meninggalnya Pak Bayu.


"Gigi mana ya? Kok ngak kelihatan dari tadi? " tanya seorang tetangga.


Ntah, pertanyaan itu hanya basa-basi atau memang tulus bertanya tentang Nagisha. Hanya Tuhan dan dia yang tahu maksud dari pertanyaan itu. Kalian tahu, bagaimana situasi perkampungan rumah padat penduduk. Persaudaraan disini masih sangat kuat, saking kuatnya terkadang urusan keluarga orang menjadi urusan mereka. Ck! Lucu bukan? Itulah manusia.


"Jenazah akan segera di Kafanin, apa ada yang masih ditunggu? " tanya Pak Ustadz.


"Tak ada Ustadz! ". Jawab Ibu tegas. Sepertinya tak ada niat untuk menunggu kedatangan Nagisha.


"Ayaah.... "teriakan suara seorang wanita terdengar dari jauh.


Nagisha berlari tergesa-gesa. Nafasnya masih Ngos-Ngosan. Detak jantungnya kini berdetak tak beraturan. Yang ada di benak Nagisha hanya tentang ayahnya. Bagaimana pun, apapun yang akan terjadi nanti Nagisha akan hadapi. Yang terpenting dia harus bertemu dengan Ayahnya untuk yang terakhir kalinya.


" Ayaah.... " tangisan Nagisha pecah di pelukan Jenazah ayahnya yang kini sudah sebagian tertutupi Kain Kafan.


Robby berdiri hendak melepaskan Nagisha dari Jenazah Ayah. Ada tangan Jelita yang menghentikannya.


"Jangan menambah masalah, kita berduka. Apa kata orang nanti. Biarkan saja dia! " ucap Jelita menghentikan Robby.


Nagisha terus menangis, tetap tidak melepaskan pelukannya. Tanpa Nagisha sadarin, ada tatapan bahkan cibiran dari para tetangga yang saat ini sedang berada dirumahnya.


"Gigi pasti merasa sangat bersalah itu.. "


"Iyalah, orang ayahnya kena serangan jantung dan mati karena ulah dia!"


"Itu anak, pendiam. Eh, tau-tau udah bunting aja! mana Lakinya ngak mau tanggung jawab! "


"Malu banget ya pasti, padahal almarhum Ayahnya Soleh"


Dan masih banyak cibiran dari para tetangga ke Nagisha. Bukannya tak mendengar apa yang mereka katakan. Hanya saja, Nagisha tak mau menambah masalah. Jika bisa, ingin rasanya Nagisha menampar itu mulut ibu-ibu. Tangannya terlalu berharga untuk menampar mulut mereka yang seakan paling suci.

__ADS_1


🍃🍃🍃


Nagisha akhirnya merelakan cinta pertama dan terakhirnya terkubur bersama hatinya yang juga ikut patah. Perlahan-lahan taburan bunga berhamburan di atas tanah makam Ayah. Tak akan ada lagi senyum manis Ayah. Tak akan ada lagi yang akan mengkhawatirkan Nagisha, menelpon dia jika Jam 9 malam belum sampai dirumah. Tak akan ada lagi masakan Rendang terlezat yang selalu ada di Hari Raya. Tak ada lagi, pelukan hangat dan ciuman dari Ayah. Tak ada lagi, pundak yang kuat yang akan memompang keluarga ini. Kepala keluarga ini, Kapten keluarga ini sudah pergi untuk selama-lamanya dan tak akan mungkin kembali.


Nagisha masih terduduk di pusaran Ayah yang masih berupah tanah. Dipeluknya Nissan Kayu Ayahnya, seakan memeluk tubuh Ayahnya. Menangis hanya itu yang Nagisha lakukan tanpa berhenti sedikitpun. Taman Pemakanan kini sudah sepi, para pelayat yang datang kini sudah pulang. Tinggal Keluarga Almarhum yang masih di Pemakaman.


"Pergi !!!" teriak Robby sambil menarik kuat tangan Nagisha.


"Kak lepasin, Sakit! " Nagisha mencoba melakukan perlawanan.


"Kamu ngak tahu malu ya, sudah buat Ayah meninggal tapi masih berani datang! Anak durhaka! " Maki Jelita sambil menjambak Rambut Hitam Nagisha.


Tak ada perlawanan dari Nagisha. Nagisha tak memiliki tenaga untuk melawan kedua saudaranya ini. Nagisha hanya menerima, hingga akhirnya tubuh kecilnya terjatuh di tanah.


"Pergi, dan jangan pernah nunjukin muka mu lagi dihadapan kami!! " Maki Robby lagi. Di dorongnya tubuh munggil Nagisha hingga ia tubuhnya terbentur di Sisi Nissan kuburan yang di sebelah ayahnya.


Perut Nagisha terbentur, ada rasa Nyeri namun diabaikan saja oleh Nagisha. Seakan semua itu tak cukup. Kini kaki jenjang Kak Robby menendang tubuh munggil Nagisha. Robby sama sekali tak mendengarkan Jeritan Nagisha yang berulang kali mengakatan sakit. Jelita bahkan ibunya mengabaikan Nagisha.


Kenapa? Kenapa mereka begitu jahat dengan aku. Yaaa... aku memang salah. Aku buat keluarga malu karena sudah hamil diluar nikah. Tapi aku tetap keluarga mareka Khan? Aku tetap adik mereka, harusnya aku di rangkul bukan? kenapa malah seperti ini. Aku bahkan tidak diperlakukan layaknya manusia.


Ibu, tolong Putrimu ini. Lihat aku ibu, tolong aku ibu, aku mohon. Aku tahu ibu kehilangan Belahan Jiwa ibu. Ibu kehilangan kekasih hati ibu. Ibu kehilangan patner hidup ibu untuk selama-lamanya. Tapi bukan bearti ibu mengabaikan aku. Aku tetap anak kandungmu bu. Tolong lihat aku sekali ini saja.


"Sudah, Stop! " Akhirnya Ibu akan bicara. "Sudahi sampai disini, kita pulang sekarang!" Perintah Ibu.


Tak ada hati lagi kah ibuku ini? Begitu saja pergi dan meninggalkan aku kesakitan disini. Sebesar itu kah rasa bencimu kini?. Hingga mengabaikan aku. Bathin Nagisha.


Nagisha masih terdampar di tanah, tepat di samping makam Ayahnya. Perlahan-lahan pandangannya semakin gelap. Dumph... Nagisha jatuh pingsan.


 


🍃🍃🍃


 


Tangan Nagisha kini terpasang jarum infus. Wajahnya yang cantik, kini tertutup kesedihan. Matanya sembab, mukanya sangat pucat. Siapapun akan ikut sedih melihat kondisi Nagisha saat ini. Sayangnya, tak ada satupun keluarganya yang peduli dengan keadaan Nagisha. Bahkan ibunya pun mengabaikannya. Nagisha kini benar-benar dibuang keluarganya.


"Aku dimana? " tanya Nagisha langsung ketika membuka matanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah... Kamu udah sadar Gi? " Ucap Annisa bersyukur.


"Aku dimana? " tanya Nagisha lagi.


"Tenang, Loe lagi di Rumah Sakit sekarang" Jawab Ochie. "Tadi kita nemu loe di Taman pemakaman Ayah. Loe jatuh pingsan disana" Lanjut Ochie dengan nada suara berat.


Nagisha diam sejenak, memikirkan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Kenapa dia sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit. Nagisha ingat, saudaranya mengamuk dan membabi buta memukulnya tanpa ada rasa kasihan sedikitpun padanya. Tak ada yang menolongnya saat itu, bahkan Ibunya pun mengabaikannya.


"Janinku.. " Nagisha ingat sesuatu. Ada rasa sakit luar biasa di perutnya saat itu, efek benturan dan tendangan Kak Robby yang menghantam perutnya tanpa henti.


Yaa... berkali-kali Pria itu menendang perut Nagisha tanpa belas kasian sedikit pun. Nagisha merasa saat itu perutnya sangat sakit. Hingga dia tak bisa bertahan lagi, lalu pingsan. Bahkan dia pun tak tahu, siapa yang membawanya ke Rumah Sakit.


"Tenang dulu ya Gi, tenang! " Annisa berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Janin aku ngak kenapa-kenapa Khan Nis? " tanya Nagisha sangat khawatir.


Mata Annisa dan Ochie saling tatap. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari Nagisha. Dan mereka tidak tahu harus mengatakannya bagaimana.


"Kalian Jawab donk! " Bentak Nagisha semakin panik. Butiran Kristal kecil kini kembali jatuh dari ujung mata indah Nagisha.


"Janin loe ngak bisa diselamatkan. Loe keguguran Gi.. " Ochie membuka mulutnya.


Mendengar yang barusan Ochie katakan, membuat Nagisha yang tadi panik kini langsung terdiam bak Patung.


Apalagi ini Tuhan? Kenapa? Kenapa harus aku Tuhan?. Aku bahkan kehilangan 2 hal penting dalam waktu satu hari. Apa ini tidak terlalu kejam Tuhan untukku?. Aku memang tak menginginkan Janin ini. Tapi bukan bearti Engkau boleh mengambilnya lagi! Aku bahkan tak tahu, sudah berapa minggu Janin itu berada di Rahimku. Tapi dia sudah Engkau ambil lagi. Ini ngak adil Tuhan, sama sekali tidak adil !!


Ochie dan Annisa yang melihat Nagisha diam, sambil menjatuhkan air mata langsung memeluk Nagisha. Tak ada kata yang bisa mereka katakan untuk menghibur Sahabatnya ini. Hanya pelukan ini lah yang bisa mereka berikan. Minimal Nagisha tahu, saat ini dia tidak sendirian. Ada mereka berdua yang akan selalu ada menemani Nagisha. Menemani Nagisha dalam keadaan apapun, termasuk saat Nagisha berada di titik terendah hidupnya seperti saat ini. Mereka akan selalu support dan membantu Nagisha dengan senang hati. Mungkin keluarga Nagisha mampu meninggal dia. Tapi berbeda dengan Ochie dan Annisa, mereka tidak akan meninggalkannya selamanya.


 


🍃🍃🍃


 


To be continued...


Jangan lupa Like, coment dan Jadiin My Story ini di list favorit ya. Terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2