
Satria Pamboedi, begitulah nama Pria yang telah mengukir luka terdalam dihati Nagisha. Mas Satria, begitu panggilan akrab yang sering terucap di bibir munggil Nagisha. Ia enam tahun lebih dewasa dari Gigi. Dewasa, baik, sabar semua karakteristiknya masuk sebagai Pria idaman Gigi. Apalagi sifat ngemongnya, mampu membuat Gigi begitu nyaman ketika bersamanya.
Perkenalan mereka berawal dari minimarket tempat Gigi kerja. Satria adalah sahabat dekat supervisornya, Pak Irwan. Saat itu, Satria baru kembali dari pendidikannya di Luar Negeri. Ia sengaja mampir ke Minimarket, buat ketemuan dengan Irwan yang kebetulan atasan Gigi saat itu.
"Scan aja Neng, ntar Irwan yang bayar!" perintah Satria.
"Pak Irwannya aja ngak ada. Ngak mau saya scan ntar ngak ada yang bayar. Saya nombok!" tolak Gigi.
"Yaampun, ngak percayaan banget. Saya mah temennya Irwan. Sumpah!" ucap satria sambil melambaikan dua jarinya. Tanda dia serius dan jujur. Gigi masih mengabaikannya, dan sama sekali tak menuruti apa yang satria perintahkan.
"Iiss kamu mah, ngak percayaan bener!" protes Satria lagi, ia mulai kesal.
"Tampang Loe kayak penipu sich!" Potong seseorang, yang ternyata Irwan.
"mana ada,! kasirmu aja takut banget. Ngak percayaan sama orang!. Padahal es krim cuma 15.000 doang" keluh Satria.
"Bukan gitu pak, Aku kan ngak kenal sama teman bapak. Sekarang kan banyak modus!" Gigi berusaha membela dirinya sendiri.
"Yaudah scan Gih. ini Duitnya" Ucap Irwan sambil menyodorkan uang sesuai harga es krim itu.
"Saya ngak bohong kan. Saya itu teman dekatnya Irwan." kali ini Satria merasa menang dari Gigi.
"Udah, ayo makan siang!" Ajak Irwan ke Satria. "Saya keluar dulu yaa..." pamit Irwan ke semua personil toko yang ada siang itu.
Satria dan Irwan berteman dari bangku Sekolah Menengah Atas. Pertemanan mereka sangat baik sampai saat ini, meski sempat terpisah oleh jarak. Satria setelah lulus SMA memutuskan Melanjutkan studynya ke Australi. Masuk disalah satu Universitas terbaik disana. Ia mengikuti jejak kedua orangtuanya yang merupakan Lawyer ternama di kota ini. Sedangkan Irwan, lebih memilih kuliah di Pulau Jawa dan mengambil Jurusan Ekonomi Manajemen.
"Loe kenapa milih kerja di Minimarket sich Wan? loe kan pinter ? sayang banget!" tanya Satria sambil menikmati makan siangnya.
"Ngak semua orang, punya background keluarga kayak loe Sat" jawab Irwan santai.
Satria terdiam. Yaa... dia beruntung, terlahir di keluarga yang cukup mapan. Keluarga yang bahkan mampu mensupport ia untuk berkuliah di Luar Negeri. Keberuntungan itu tidak berpihak ke Irwan. Pemuda manis dengan lesung pipi sebelah kiri ini , harus Pontang Panting demi mengejar cita-citanya. Satria tahu betul, bagaimana perjuangan sahabatnya itu di Pulau Jawa. Sebagai anak rantau, kuliah di Kota yang sama sekali ngak ada yang dikenal apalagi saudara di Sana bukanlah hal mudah. Irwan bahkan mati-matian mengejar Beasiswa dari Perusahaan-perusahaan Negeri maupun Swasta. Dengan tujuan, jika ia mendapatkan beasiswa setidaknya ia bisa mengurangi beban biaya Bapak Ibunya di kampung halaman.
__ADS_1
Beasiswa itulah yang membawanya bisa berada di dunia kerja saat ini. Dari semester dua sampai ia lulus, ia mendapatkan beasiswa dari perusahaan retail tempat ia kerja saat ini. Sebagai gantinya setelah ia lulus, ia akan kerja di perusahaan Retail itu. Goalnya adalah progres Manager dalam waktu 3 tahun kerja. Jika ia resign sebelum kontrak berakhir, maka ia dikenakan Biaya Pinalti +/- Rp. 35.000.000,- . Dengan perjanjian hitam diatas Kertas putih itu, membuat Irwan tak berkutik. Mau ngak mau, suka ngak suka ia harus tetap jalani semuanya. Ini tahun kedua ia berada disini, dan posisinya sudah berada di tingkat Supervisor. Satu tingkat lagi, ya satu tingkat lagi ia akan menjadi Manager sebuah minimarket ternama di Indonesia ini.
"Kasir loe tadi siapa namanya ?" tanya Satria meloncat dari obrolan pekerjaan ke topik Nagisha.
Sudah tahu arah ini akan kemana, Irwan mulai curiga. Ia tahu betul, sosok Satria bukan tipe Lelaki yang mudah tertarik dengan wanita. Mau secantik apapun wanita di depannya, ngak akan mudah buat menarik hati Satria. Tanpa ada angin hujan apapun, tiba-tiba Satria nanya tentang Nagisha. Itu Pertanda Satria tertarik dengan Kasirnya itu.
"Gue kasih nomornya ya. Tapi kalo loe main-main sampe nyakitin kasir kesayangan gue itu. Loe berurusan langsung sama gue!!" Ancam Irwan serius.
Irwan memang menyayangi Nagisha. Irwan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dan semua adiknya itu lelaki. Ketika pertama bertemu dengan Nagisha dan mereka pernah satu toko. Irwan sudah sangat menyukai kepribadian Nagisha. Nagisha cantik, ramah, baik, polos dan pintar. Siapapun orang yang berada dekat dengannya akan selalu merasa happy. Nagisha manja tapi rajin dalam bekerja, membuat Irwan menyayanginya sebagai adik kecilnya. Jadi ia ngak akan rela jika adik kecilnya itu, dipermainkan oleh lelaki termasuk sahabatnya sendiri.
πππ
Hai...
udah pulang kerja ?
Isi SMS masuk di handphone Nagisha sore itu. Nagisha yang sedang siap-siap pulang jadi berhenti sejenak. Ini nomor baru, siapa yang SMS ini. Seinget Nagisha, ia baru ganti nomor dan yang tahu nomor ini hanya teman genknya, keluarga dan rekan kerja. Bagaimana ada nomor baru tiba-tiba SMS begini.
Balas Nagisha. Ia bukan menjawab pertanyaan sebelumnya. Malahan ia balik tanya ke orang itu.
Ini Sy Satria. temannya Irwan.
Jawab SMS itu.
es krim tadi udah dibayar Irwan kan ?.
Tanya lanjut SMS itu.
Owh.....
Iya2 udh dbyr pak Irwan kok Mas.
Balas Nagisha.
__ADS_1
Nagisha langsung turun ke area sales sambil memakai tas punggungnya dan helm. Ia langsung mencari Pak Irwan yang ternyata masih stay di tokonya.
"Pak Irwan kasih nomor Gigi ke Teman Bapak ya ?" tanya Nagisha to the Point dengan supervisornya itu.
"Iyaa.." Jawab Irwan sambil tetap focus ke handphone yang ada digenggamnya itu.
"Kenapa ?" tanya Nagisha pemasaran. Irwan menghentikan mandangannya dari handphone ke arah Nagisha. Ia focus melihat Nagisha yang masih menunggu jawaban darinya.
"Satria Lelaki yang baik. Kenalan aja dulu!" Jawab Irwan santai tapi expresinya seperti sedang menggoda Nagisha.
"Bapak mah, ngejual aku.." Ucap Gigi polos. Membuat Irwan tertawa terbahak-bahak.
Obrolan mereka pun berlanjut. Irwan menjelaskan alasannya mengapa memberikan nomor handphone Gigi ke Satria. Irwan pun menjelaskan bagaimana seorang Satria dimatanya. Irwan kali ini sudah seperti Mak comblang atau agen-agen Percintaan. Obrolan mereka pun berhenti, saat Ayah Nagisha datang menjemputnya.
"Gigi duluan ya Pak, assalamualaikum!" Pamit Nagisha.
πππ
Udah sampai rmh dek ?
Pesan itu kembali masuk di handphone Nagisha.
Udh Mas,
Balas Nagisha dengan cepat.
Ada senyuman dari bibir Munggil Nagisha itu. Kegiatan tukar menukar pesan pun sepertinya terus berlanjut. Nagisha yang polos kali ini merasakan ada yang beda dihatinya. Apa ia sedang jatuh cinta ? Bukankah terlalu cepat jika dibilang jatuh cinta. Tertarik! ia mungkin dia sudah mulai tertarik dan suka. Untuk Jatuh Cinta, masih harus ada proses yang panjang bukan.
πππ
Author is Comeback !!!!
Terimakasih banyak buat readers yang masih setia membaca karya Author. Mohon maaf lama Up. Author ini, baru pertama kali nulis Novel online. Jadi masih harus banyak belajar. Terkadang Otak mentok, diotak udah banyak inspirasi ide ini dan itu. Tapi tangan bingung mau nulisnya gimanaππ Tolong tetap dukung karya-karya Author ya guys. Sarangheoβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1