
Sebuah kamar indah untuk berbulan madu memang mereka dapati namun sayangnya kamar dan tempat indah itu bukan sebuah hal untuk sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Rea memainkan putik mawadi ranjang besar itu lalu memainkan handuk berbentuk angsa disana, ia membayangkan andakan saja Kelandru adalah Sagara mungkin dia akan suka semua ini.
Rea berjalan ke arah bathub yang berisi mawar lainnya dengan air hangat di dalamnya, "Oh my gosh."
Betapa bahagianya dia jika saja benar berbulan madu bersama Sagara lalu masuk kedalam bethub ini berdua. Membuka jendela besar menikmati hamparan laut yang luas beratapkan hamparan senja yang romantis.
Lalu Sagara memeluknya dari belakang mereka bercerita sepanjang hari, menikmati keromantisan ini. "Ah Sagara...."
Bruk
Suara si pengacau suasana terdengar seperti mendekat, Kelan berjalan masuk ke kamar, ia lirik Rea disana memainkan air.
"Tidak cocok untukmu, ikan cupangku lebih pantas didalam situ." Dengan Santainya laki-laki itu naik ke atas ranjang lalu menyerakkan semua kelopak-kelopak disana.
"Dasar perusak suasana." umpat Rea kesal.
"Rea, pijat kakiku!"
Rea berkerut dahi, "Apa dia bilang? Pijat kakinya, dia fikir aku pembantunya. Dimana sih Sania? Kenapa lama sekali sampai."
"Rea! Kau tuli?"
Kurang ajar!
Rea menggeram ia lihat diatas meja ada buah-buahan yang terhidang lengkap dengan pisaunya, segera Rea bangkit menuju ke meja lalu mengambil pisau itu.
__ADS_1
"Pijat? Apakah Sania sering memijatmu?"
"Kakiku sakit. Aku terlalu lama berdiri diacara kemarin. Semua ini karenamu, terlalu banyak basa-basi dengan kakak-kakakku. Harusnya kau juga bersikap buruk seperti yang kau lakukan denganku."
"Baiklah aku akan memijatmu." Rea melangkah naik ke ranjang menghampiri Keland yang bertelunglup, lelaki itu memejam disana sedikit mengistirahatkan dirinya.
"Kaki mu? Badanmu tidak?"
"Kaki saja."
Namun tanpa Kelan sadar Rea sudah naik dan seketika ia menduduki badan Kelan lelaki itu terkesiap merasakan Rea menaikinya.
"Kau mau apa, Rea?"
"Memijatmu!" Rea menjulurkan tangannya seketika mengarahkan pisau ke wajah Kelan, dengan tangannya meremas kuat benda itu seolah-olah akan membunuh Kelan sadis, sontak saja laki-laki itu terkesiap.
"REAAA! APA YANG KAU LAKUKAN!" Keland bergidik ngeri segera menahan lengan Rea, "Kau tidak waras, kau mau membunuhku!"
Kelandru semakin kuat menahan lengan Rea, berusaha merampas benda tajam itu dan tentunya cukup mudah melawan tenaga seorang wanita, Kelan berhasil meraih gagang pisau itu lalu membuat Rea jatuh terlentang ke ranjang dan ia buat pisau itu jatuh ke lantai.
"Auhh Punggungku, Keland!"
Kelandru kini menatap Rea serius dengan ekspresi dinginnya pada Rea, bercanda atau tidak Rea, ini benar kelewatan.
"Pisauku!" Pekik Rea dengan kedua tanganya yang masih diangkat ke atas oleh Kelan dan ia kunci kuat tidak bisa bergerak.
Demi apa Rea nyaris tampak jauh lebih sempurna Kelan lihat dari jarak dekat seperti ini, wajah cantik yang khas, tubuh tidak terlalu kurus dengan pakaiannya kali ini dan dua benda yang terlihat menantang sebab tangannya di paksa keatas.
__ADS_1
"Lepaskan aku. Kau takut mati kan? kau takut aku membunuhmu? Haha kau takut bukan?"
Bibir merah mudah itu berucap tajam namun terasa menggodanya.
"Kelandru, aku membencimu--"
Seketika Kelan mengukung Rea menaiki tubuhnya, lalu memagut bibir ranum Rea, masih Kelan pegang kuat tangan gadis itu, Rea melawan menggerakkan kepala namun Kelan tidak peduli terus menerobos bibir merah muda yang Rea berusaha tutupi itu semakin memperdalam ciumannya mengabsensi saliva menarik, menghisapi dan menggigiti dengan matanya yang tertutup lalu terbuka menjelaskan sekali ia sangat amat menikmati.
Kelandru sangat menggebu seakan begitu rakus dan ingin melahap habis bibir Rea yang terasa manis dan sangat lembut ini. Keland seakan tidak bisa berhenti seperti baru mendapatkan santapan ternikmat dengan rasanya yang langsung membuatnya tercandu-candu.
Kelan mulai berpindah ke leher Rea, mencecapi leher mulus beraroma manis itu, Rea kini berteriak.
"Kelan kau memperkosaku!"
Kelan dengan santai mengangkat wajahnya dari ceruk Rea, "Kata siapa? Aku tidak berselera Rea, kau bau sambal dan bawang." Segera Kelan turun dari tubuh Rea melepaskan tangannya.
Rea menggeram mengusap bibirnya yang nyaris membengkak karena Kelan memagut sangat amat rakus lalu setelah berlaku sangat kurang ajar dengan enteng dia menghina Rea.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kalau like dan comment banyak aku pasti cepat ☔😆